Wednesday, August 1, 2012

Mutiara hikmah dari panggung sejarah Islam:Muadzin pertama di negeri Transoxiana

Muhib Al-Majdi

(Arrahmah.com) – Sejarah Islam mencatat sosok ulama dan ahli ibadah ini sebagai orang pertama yang mengumandangkan adzan di negeri Transoxiana, wilayah Asia Tengah yang berada di belakang sungai Amu Darya dan Syr Darya. Sekarang ini, sebagian besar negeri Transoxiana telah menjadi negara Uzbekistan, dan sebagian kecilnya menjadi wilayah negara Kazakhstan, Tajikistan dan Turkmenistan. Di antara kota-kota pentingnya adalah Bukhara, Samarkand, Shaghad dan Taskent.
Ia dilahirkan pada zaman Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam namun tidak pernah bertemu beliau Shallallahu 'alaihi wa salam. Ia menginjak usia remaja dan masuk Islam pada masa khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu 'anhu. Hal itu karena status dirinya sebagai seorang budak milik seorang wanita Bani Tamim dan baru dimerdekakan pada zaman khalifah Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu 'anhu.
Nama lengkapnya adalah Rufai' bin Mihran Ar-Riyahi Al-Bashri, biasa dipanggil dengan nama julukan Abu' Aliyah Ar-Riyahi. Setelah dimerdekakan oleh tuannya, ia langsung mempergunakan waktunya untuk menimba ilmu dari para sahabat senior, tekun beribadah kepada Allah dan menyertai pasukan jihad ke negeri Transoxiana.
Ia belajar hadits kepada para ulama sahabat senior; Umar bin Khathab, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka'ab, Abu Dzar Al-Ghiffari, Abdullah bin Mas'ud, Zaid bin Tsabit, Aisyah ummul mukminin, Abu Musa Al-Asy'ari, Abu Ayyub Al-Anshari, Abdullah bin Abbas dan lain-lain radhiyallahu 'anhum.
Ia hafal Al-Qur'an dan menyetorkan hafalannya kepada ulama qira'ah sahabat; Umar bin Khathab, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhu. Semangat belajarnya telah tumbuh sejak ia masih menjadi budak. Bersama para budak lainnya, ia menekuni tilawah dan hafalan Al-Qur'an di waktu malam, setelah seharian bekerja melayani tuannya.
Ia menuturkan, "Pada waktu itu kami adalah para budak. Di antara kami ada yang bekerja untuk membayar biaya pembebasan dirinya kepada tuannya. Di antara kami ada juga yang masih bekerja melayani tuannya. Kebiasaan kami, para budak, adalah mengkhatamkan Al-Qur'an setiap malam. Hal itu terasa berat bagi kami, sehingga satu sama lain saling mengeluh. Maka kami menemui para sahabat radhiyallahu 'anhum. Ternyata mereka mengajari kami untuk mengkhatamkan Al-Qur'an tiap pekan sekali. Kami pun bisa shalat malam dan tetap tidur, sehingga tidak lagi terasa berat bagi kami."  
Selain menghafal dan mempelajari Al-Qur'an, ia juga tekun menghafal dan mempelajari hadits. Ia menuturkan, "Saya dahulu rela mengadakan perjalanan berhari-hari demi mendengarkan hadits dari seseorang. Pertama kali aku akan melihat tatacara shalatnya. Jika aku mendapatinya melaksanakan shalat dengan baik, aku akan tinggal bersamanya untuk mendengarkan hadits darinya. Namun jika aku lihat ia menelantarkan shalatnya, aku akan segera pulang dan tidak mendengarkan hadits darinya. Aku katakan pada diriku sendiri, ia pasti lebih menelantarkan perkara selain shalat."   
Dengan ketekunan belajarnya kepada para ulama senior di kalangan sahabat, tidak heran apabila Abul Aliyah Ar-Riyahi segera menjadi sosok ulama besar tabi'in di bidang tafsir, hadits dan fiqih. Sejarawan Islam dan ulama hadits, imam Adz-Dzahabi menulis tentang dirinya, "Al-Imam (sang ulama), al-muqri' (guru pengajar qira'ah dan hafalan Al-Qur'an), al-hafizh (ulama hadits yang hafal puluhan ribu hadits), al-mufassir (ulama tafsir), Abul Aliyah Ar-Riyahi Al-Bashri, seorang tokoh ulama besar." (Siyar A'lam An-Nubala', 4/207)
Meski telah menjadi seorang ulama besar pada zaman sahabat dan tabi'in, Abul Aliyah adalah seorang yang rendah hati, jujur, sedikit bicara, tidak suka popularitas dan tidak ingin menonjolkan dirinya.
Ashim Al-Ahwal menuturkan, "Jika Abul Aliyah sedang duduk lalu datang satu dua orang untuk mengobrol dengannya, ia akan mengobrol dengan mereka. Namun jika yang datang dan duduk mengobrol bersamanya telah melebihi empat orang, ia akan bangun dan meninggalkan mereka."
Tentang pentingnya sedikit bicara dan kejujuran, Abul Aliyah menuturkan kepada orang-orang yang hidup di zamannya, "Kalian melakukan lebih banyak shalat dan puasa disbanding orang-orang sebelum kalian, namun ucapan dusta telah menjalar ke lidah-lidah kalian."
Tentang pentingnya keikhlasan dan tidak menonjolkan diri, Abul Aliyah menuturkan, "Aku telah belajar menulis dan Al-Qur'an, namun keluargaku tidak mengetahuinya sama sekali dan memang di bajuku tidak pernah ada noda setetes tinta sekalipun."
Tentang caranya belajar dan menghafal Al-Qur'an, Abul Aliyah menuturkan, "Pelajarilah Al-Qur'an lima ayat demi lima ayat, karena hal itu lebih mudah untuk kalian hafal. Dahulu malaikat Jibril juga menurunkan lima ayat lima ayat (sedikit demi sedikit, pent) kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam."
Saat sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma menjadi gubernur Basrah pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, ia sering mengundang dan memuliakan Abul Aliyah di hadapan orang-orang Quraisy yang terhormat. Ibnu Abbas mendudukkan Abul Aliyah bersama dirinya di atas dipan gubernur Kufah, padahal orang-orang Quraisy yang terhormat duduk di bawah. Ketika orang-orang Quraisy itu memicingkan matanya dan merasa iri dengan Abul Aliyah, Ibnu Abbas berkomentar, "Begitulah ilmu, ia akan menambah kemuliaa bagi orang yang mulia dan mendudukkan para raja di atas dipan kemuliaan."  
Abul Aliyah dikenal memegang kuat sunnah dan menjauhi bid'ah. Ia turut serta dalam jihad pasukan Islam menaklukkan bangsa-bangsa kafir di Khurasan dan negeri Transoxiana, namun ia tidak mau turut serta dalam peperangan Shiffin antara khalifah Ali bin Abi Thalib dan gubernur Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhum.
Imam Abu Bakr bin Abu Daud berkata: "Sepeninggal generasi sahabat, tidak ada yang lebih paham tentang Al-Qur'an melebihi Abul Aliyah, kemudian Sa'id bin Jubair." (Siyar A'lam An-Nubala', 4/208)
Seorang wanita yang shalihah dan dermawan di Bashrah telah memerdekakan Abul Aliyah dan menempatkannya di masjid agar bebas belajar dan beribadah kepada Allah Ta'ala. Wanita itu tidak menginginkan hak wala' (hak mewarisi harta dari seorang budak yang telah dimerdekakakannya) Abul Aliyah. Peristiwa itu sangat menyentuh Abul Aliyah, sehingga ia berwasiat jika telah meninggal; sepertiga hartanya diinfakkan untuk jihad fi sabilillah, sepertiga sisanya diinfakkan untuk ahlul bait nabi shallallahu 'alaihi wa salam dan sepertiga terakhir diinfakkan kepada fakir-miskin di kota Bashrah.
Menurut imam Bukhari dan sejumlah sejarawan Islam lainnya, imam Abul 'Aliyah Ar-Riyahi wafat pada tahun 93 H. Di antara nasehat emasnya, imam Abul Aliyah mengatakan:
"Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi diri-Nya sendiri bahwa barangsiapa beriman kepada Allah niscaya Allah akan memberinya petunjuk. Bukti atas hal itu dalam kitab Allah adalah firman-Nya,
{وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ}
"Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan petunjuk kepada hatinya." (QS. At-Taghabun [64]:11)
Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi diri-Nya sendiri bahwa barangsiapa berserah diri kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi (kebutuhan)nya. Bukti atas hal itu dalam kitab Allah adalah firman-Nya,
{وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ}
"Dan barangsiapa berserah diri kepada Allah (setelah berusaha), niscaya Allah akan mencukupinya."(QS. Ath-Thalaq [65]: 3)
Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi diri-Nya sendiri bahwa barangsiapa memberi pinjaman (berinfak) kepada Allah niscaya Allah akan memberinya balasan. Bukti atas hal itu dalam kitab Allah adalah firman-Nya,
{مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللهَ قَرْضاً حَسَناً، فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافاً كَثِيْرَةً}
"Barangsiapa memberikan kepada Allah pinjaman (infak) yang baik, niscaya Allah akan melipat gandakan untuknya dengan balasan yang berlipat kali banyaknya." (QS. Al-Baqarah [2]: 245)
Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi diri-Nya sendiri bahwa barangsiapa berlindung dari siksa Allah niscaya Allah akan melindunginya. Bukti atas hal itu dalam kitab Allah adalah firman-Nya,
{وَاعْتَصِمُوا بَحْبِلِ اللهِ جَمِيْعاً}
"Berpegang teguhlah kalian dengan tali Allah!" (QS. Ali Imran [3]: 103) Berpegang teguh adalah percaya sepenuhnya kepada Allah.
Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi diri-Nya sendiri bahwa barangsiapa berdoa kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkannya. Bukti atas hal itu dalam kitab Allah adalah firman-Nya,
{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي، فَإِنِّي قَرِيْبٌ، أُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ} 
"Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwa Aku dekat, Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa jika ia meminta." (QS. Al-Baqarah [2]: 186)
Wallahu a'lam bish-shawab.
(muhib almajdi/arrahmah.com)

Tuesday, July 31, 2012

Wartawan Jepun Buat Liputan Syria, Masuk Islam

SEORANG  wartawan Jepun yang sedang membuat liputan telah terbuka hatinya untuk memeluk Islam di Syria, di depan para pejuang Syria, Subhanallah Allahu Akbar Walillahilhamd.
Dalam sebuah video yang diterbitkan di Youtube, menunjukkan seorang lelaki Jepun, yang juga merupakan seorang wartawan, telah melafazkan dua kalimat syahadat di depan Mujahidin dari batalion Mamduh Julha yang berpangkalan di gunung Al-Turkman di sempadan Syria-Turki.
Menurut laporan, beliau terbuka hati untuk memeluk Islam setelah jiwanya tersentuh melihat sikap baik yang ditunjukkan oleh para Mujahidin ketika ia sedang membuat liputan pertempuran di wilayah tersebut.
Dengan sedikit kesukaran namun lancar sekali lafaz, beliau mengucapkan "Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah" sambil dibimbing oleh seorang mujahid dari briged tersebut. Kemudian para mujahidin melaungkan takbir, dan muallaf ini pun mengikutinya dengan wajah terlihat gembira "Allahu Akbar, Allahu Akbar!". Kini ia bernama Musthafa, hamba Allah yang menemukan hidayah di bumi para syuhada, Syam.
Pada saat itu, bertepatan dengan masuknya waktu solat asar, maka Musthafa dipelawa untuk bersama sama menunaikan solat. Ia diajarkan berwudhu oleh salah seorang mujahid. Nampak penuh keseriusan saat ia mengikuti proses wudhu yang diajarkan. Sentiasa ada dakwah dibalik jihad, Allahu Akbar~!!  
(IH/ghaflah.blogspot.)

Sunday, July 29, 2012

Kesan Penarikan Diri Lajim Kepada BN

A Kadir Jasin


PENGUMUMAN Timbalan Menteri Perumahan dan Kerajaan Tempatan, Lajim Ukin yang beliau menarik diri daripada Umno dan akan bekerjasama dengan Pakatan Rakyat dalam pilihan raya umum (PRU) akan datang pastinya bukan berita yang diharapkan oleh Perdana Menteri merangkap presiden Umno, Mohd Najib Abdul Razak.
Tetapi tindakan Lajim itu tidaklah pula sesuatu yang baru atau memeranjatkan. Ramalan mengenai kemungkinan beliau menarik diri daripada Barisan Nasional dan menyertai pembangkang sudah berbulan lamanya.
Beberapa bulan lalu, timbul cakap-cakap bahawa beberapa pihak yang tidak puas hati dengan Mohd Najib di Sarawak dan Sabah akan berpakat bagi menentang BN di dua buah negeri itu.
Bagaimanapun, perselisihan pendapat antara Mohd Najib dan kepemimpinan BN Sarawak, khususnya mengenai kedudukan Abdul Taib Mahmud sebagai Ketua Menteri, telah diatasi. Ramalan mengatakan Abdul Taib tidak akan dipaksa meletakkan jawatan.
Penarikan diri Lajim daripada semua jawatan dalam Umno adalah tamparan hebat terhadap Mohd Najib yang cuba mewujudkan gambaran bahawa beliau mempunyai kawalan penuh ke atas politik di dua buah negeri Borneo itu. Selain menjadi ahli Majlis Tertinggi Umno, Lajim adalah juga ketua bahagian Umno Beufort dan pengerusi BN Beufort.
Mohd Najib sendiri berkata yang peletakan jawatan Lajim adalah sesuatu yang dijangkakan buat beberapa ketika dan beliau akan membuat keputusan esok (Isnin) mengenai kedudukan Lajim sebagai Timbalan Menteri.
Sebaik mana pun Perdana Menteri cuba menyembunyikan kehampaannya terhadap perkembangan di Sabah itu, hakikatnya ia adalah petanda yang tidak positif bagi BN, khasnya di Sabah.
Sambil merujuk kepada peletakan jawatan Datuk Onn Jaafar sebagai presiden Umno, Mohd Najib berkata penarikan diri oleh ahli Umno bukanlah sesuatu yang baru. Yang lebih penting, kata beliau, adalah kesetiaan kepada parti.
Setelah kehilangan pengaruh di kawasan-kawasan Cina pada pilihan raya negeri (PRN) Sawarak pada April tahun lalu, pergantungan BN kepada Sabah menjadi lebih besar. Dua buah negeri Borneo itu sering disebut sebagai “fixed deposit” atau simpanan tetap kerana jaminan sokongan yang padu kepada BN.
Pada PRU 2008, BN menang 30 daripada 31 kerusi Parlimen di Sarawak dan 24 daripada 25 di Sabah berbanding 85 yang dimenangi di Semenanjung dan sebuah di Labuan.
Tetapi, selepas kemaraan besar DAP dalam PRN Sarawak adalah dikhuatiri yang BN mungkin kehilangan sehingga enam kerusi Parlimen di Sarawak jika trend PRN itu berterusan.
Dengan penarikan diri Lajim, tabung simpanan tetap BN di Sabah telah retak dan jika merebak, pergantungan BN terhadap negeri bawah bayu itu akan menjalin lebih tidak terjamin.
Di Sabah, taat setia politik bolehlah diumpamakan seperti pasir di pinggir pantai – sentiasa berubah. Penarikan diri Lajim boleh membawa kepada pemberontakan besar-besaran seperti yang terjadi pada PRU 1990.
Soalnya, masalah Mohd Najib dan BN di Sabah tidak terhad kepada Lajim seorang saja. Beliau juga perlu membuat keputusan mengenai kedudukan Ketua Menteri, Musa Aman, dan pergiliran jawatan Ketua Menteri antara Islam, Bumiputera bukan Islam dan Cina yang dimansuhkan oleh pendahulunya, Abdullah Ahmad Badawi.
Kesimpulannya, perkembangan terbaru di Sabah itu merumitkan lagi tugas Mohd Najib membuat keputusan mengenai tarikh PRU akan datang kerana tabung simpanan tetap BN mungkin sudah retak. Wallahualam.

Mutiara hikmah dari panggung sejarah Islam : Petua rohani sang ulama robbani


Muhib Al-Majdi


(Arrahmah.com) - Obat hati ada lima perkaranya. Yang pertama baca Qur'an dan maknanya. Yang kedua, shalat malam dirikanlah. Yang ketiga, berkumpullah dengan orang shalih. Yang keempat, perbanyaklah berpuasa. Yang kelima, dzikir malam perpanjanglah.
Jauh sebelum bait-bait nasehat itu populer lewat nyanyian Opick, jama'ah di masjid-masjid dan mushala-mushala telah melantunkannya dalam shalawatan sesudah adzan. Mereka mendapatkan lantunan nasehat emas itu dari para kyai di pesantren-pesantren tradisional. Tidak banyak umat Islam yang mengetahui bahwa usia nasehat itu lebih tua dari para kyai dan pesantren tradisional di tanah air kita. Nasehat bijak itu bahkan telah berusia lebih dari 1100 tahun!
Para sejarawan Islam mencatat bahwa nasehat bijak itu diucapkan oleh seorang ulama, ahli ibadah, penceramah dan tabib rohani yang senantiasa memberikan mutiara nasehat kepada kaum muslimin di kota Naisabur, Iran. Nama ulama dan ahli ibadah tersebut adalah Yahya bin Mu'adz bin Ja'far Ar-Razi, biasa dipanggil dengan sebutan Abu Zakaria Ar-Razi.
Yahya bin Mu'adz Ar-Razi dilahirkan di kota Ray, Teheran hari ini, pada akhir abad 2 H atau awal abad 3 H. Yahya bin Mu'adz memiliki seorang kakak bernama Ismail bin Muadz dan seorang adik bernama Ibrahim bin Muadz. Ketiganya dikenal sebagai orang yang shalih, ahli ibadah dan hidup zuhud.
Ulama hadits dan sejarawan Islam, imam Adz-Dzahabi berkata, "Yahya bin Muadz Ar-Razi, Abu Zakaria, seorang shufi dan 'arif yang terkenal dan seorang pemberi nasehat. Ia adalah orang bijaksana pada zamannya." (Tarikhul Islam, 19/373)
Ulama hadits dan sejarawan Islam, imam Abu Nu'aim Al-Ashbahani berkata, "Seorang yang senantiasa memuji dan bersyukur kepada Allah, seorang yang senantiasa qana'ah dan sabar, seorang yang senantiasa berharap dan takut kepada Allah, Yahya bin Muadz, seorang pemberi nasehat dan peringatan." (Hilyatul Awliya' wa Thabaqatul Ashfiya', 10/51)
Yahya bin Muadz Ar-Razi belajar hadits kepada imam Ishaq bin Sulaiman Ar-Razi, Maki bin Ibrahim Al-Balkhi, Ali bin Muhammad Ath-Thanafisi dan lain-lain.
Adapun murid-murid yang meriwayatkan hadits dari Yahya bin Muadz Ar-Razi adalah Al-Faqih Abu Nashr bin Salam, Abu Utsman Az-Zahid, Ahmad bin Muhammad Al-Masarjisi, Ali bin Muhammad Al-Qubbani, Yahya bin Zakaria Al-Maqabiri dan sebagian ulama Ray, Hamadan (dua wilayah di Iran) , Marwa dan Balkh (dua wilayah di Afghanistan).
Yahya bin Muadz Ar-Razi menimba ilmu di Ray, Syairaz, Marwa dan Balkh, kemudian menetap dan mengajar masyarakat di kota Naisabur sampai ia wafat pada bulan Jumadil Ula 258 H.
Untaian-untaian nasehatnya sangat indah, menggugah dan penuh hikmah. Itulah sebabnya ia dijuluki hakim (orang bijaksana) dan wa'izh (sang pemberi nasehat). Salah satu nasehatnya tentang 'lima obat penyakit hati' di atas menjadi bukti bahwa nasehatnya tetap abadi, diingat dan diamalkan oleh kaum muslimin sampai hari ini, meski sang pemberi nasehat telah dimakamkan sejak 1175 tahun yang lalu!
Berikut ini sebagian di antara nasehat-nasehatnya yang singkat namun penuh hikmah:
دَوَاءُ اْلقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءٍ، قِرَاءَةُ اْلقُرْآنِ بِالتَّفَكُّرِ، وَخَلاَءُ اْلبَطْنِ وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِينَ.
"Obat penyakit hati itu ada lima perkara; membaca Al-Qur'an dengan merenungkan maknanya, berpuasa, shalat malam, meminta ampunan Allah di waktu sahur dan berteman dengan orang-orang shalih."
كَيْفَ أَمْتَنِعُ بِالذَّنْبِ مِنْ رَجَائِكَ وَلَا أَرَاكَ تَمْتَنِعُ لِلذَّنْبِ مِنْ عَطَائِكَ
"(Ya Allah) Bagaimana saya tidak akan berharap kepada-Mu meski aku banyak berbuat dosa, sedangkan Engkau tidak enggan memberiku karunia meski aku banyak berbuat dosa?"
يَا ابْنَ آدَمَ لَا يَزَالُ دِينُكَ مُتَمَزِّقًا مَا دَامَ الْقَلْبُ بِحُبِّ الدُّنْيَا مُتَعَلِّقًا
"Wahai manusia, agamamu akan senantiasa tercabik-cabik selama hatimu senantiasa lengket dengan cinta kepada dunia."
لَا تَسْتَبْطِئِ الْإِجَابَةَ وَقَدْ سَدَدْتَ طُرُقَاتِهَا بِالذُّنُوبِ
"Janganlah engkau menganggap Allah lambat mengabulkan doamu, padahal engkau telah menutupi jalan-jalan terkabulnya doa dengan dosa-dosamu."
اتْرُكِ الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ تَتْرُكَكَ , وَاسْتَرْضِ رَبَّكَ قَبْلَ مُلَاقَاتِهِ وَأَعْمِرْ بَيْتَكَ الَّذِي تَسْكُنُهُ قَبْلَ انْتِقَالِكَ إِلَيْهِ
"Tinggalkanlah (kenikmatan) dunia sebelum dunia meninggalkanmu, carilah ridha Rabbmu sebelum engkau menghadap-Nya dan bangunlah rumahmu yang engkau akan menempatinya  (alam kuburmu) sebelum engkau berpindah kepadanya."
عَدَمُ التَّوَاضُعِ مَنْ فَاتَهُ خِصَالٌ: عِلْمُهُ بِمَا خُلِقَ لَهُ وَمَا خُلِقَ مِنْهُ وَمَا يَعُودُ إِلَيْهِ
"Tidak akan rendah hati (tawadhu') orang yang tidak memiliki tiga sifat; mengetahui untuk apa ia diciptakan (ibadah), mengetahui dari apa ia diciptakan (setetes mani) dan mengetahui kepada apa ia kembali (tanah)."
عَلَامَةُ مَنِ اتَّقَى اللَّهَ ثَلَاثَةُ خِصَالٍ: مَنْ آثَرَ رِضَاهُ وَقَارَنَ تُقَاهُ , وَخَالَفَ هَوَاهُ
"Tanda orang yang bertakwa kepada Allah ada tiga; orang yang mengutamakan ridha Allah atas hawa nafsunya sendiri, orang yang rasa takut kepada Allah selalu menyertai dirinya, dan orang yang menyelisihi bisikan hawa nafsunya."
فِكْرَتُكَ فِي الدُّنْيَا تُلْهِيكَ عَنْ رَبِّكَ , وَعَنْ دِينِكَ , فَكَيْفَ إِذَا بَاشَرْتَهَا بِجَمِيعِ جَوَارِحِكَ
"Pikiranmu terhadap dunia melalaikan dirimu dari Rabbmu dan agamamu. Apalagi jika seluruh anggota badanmu tenggelam dalam kesibukan mengejar dunia."
الدُّنْيَا بَحْرُ التَّلَفِ وَالنَّجَاةُ مِنْهَا الزُّهْدُ فِيهَا
"(Kenikmatan) dunia adalah samudra kebinasaan, dan cara menyelamatkan diri darinya adalah dengan zuhud terhadapanya."
أَوْثَقُ الرَّجَاءِ رَجَاءُ الْعَبْدِ رَبَّهُ وَأَصْدَقُ الظُّنُونِ حُسْنُ الظَّنِّ بِاللَّهِ
"Harapan yang paling bisa diandalkan adalah harapan seorang hamba kepada Rabbnya dan sejujur-jujur persangkaan adalah persangkaan baik kepada Allah."
الْكَيِّسُ مَنْ فِيهِ ثَلَاثَةُ خِصَالٍ: مَنْ بَادَرَ بِعَمَلِهِ وَتَسَوَّفَ بِأَمَلِهِ وَاسْتَعَدَّ لِأَجَلِهِ
"Orang yang cerdas adalah orang yang memiliki tiga sifat; orang yang segera melakukan amal kebaikan, orang yang menunda-nunda angan-angannya dan orang yang mempersiapkan diri untuk kematiannya."
إِنَّ الدِّرْهَمَ عَقْرَبٌ، فَإِنْ لَمْ تُحْسِنْ رُقْيَتَهُ فَلَا تَأْخُذْهُ بِيَدِكَ، فَإِنَّهُ إِنْ لَدَغَكَ قَتَلَكَ
"Uang itu kalajengking. Jika engkau tidak pintar mengobatinya, janganlah engkau mengambilnya dengan tanganmu, karena jika ia telah menyengatmu niscaya ia dapat membunuhmu."
لَا تَكُنْ مِمَّنْ يَفْضَحُهُ يَوْمَ مَوْتِهِ مِيراثُهُ وَيَوْمَ حَشْرِهِ مِيزانُهُ
"Janganlah engkau menjadi orang yang dipermalukan oleh harta warisannya pada hari kematiannya (banyak harta namun jarang sedekah, sehingga hartanya dinikmati ahli waris namun perhitungannya di sisi Allah menjadi tanggung jawab dirinya, pent) dan dipermalukan oleh timbangan amalnya pada hari dikumpulkan Allah (hari kiamat)."
غَنِيمَةُ الْآخِرَةِ فِي ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: الطَّاعَةِ وَالْبِرِّ وَالْعِصْيَانِ , طَاعَةُ الرَّبِّ وَبِرُّ الْوَالِدَيْنِ وَعِصْيَانُ الشَّيْطَانِ
"Keberuntungan di akhirat itu terletak pada tiga perkara: ketaatan, kebaktian, dan kedurhakaan. Yaitu taat kepada Rabb, berbakti kepada dua orang tua, dan durhaka kepada setan."
مَنْ أَكْثَرَ ذِكْرَ الْمَوْتِ لَمْ يَمُتْ قَبْلَ أَجَلِهِ , وَيَدْخُلُ عَلَيْهِ ثَلَاثُ خِصَالٍ مِنَ الْخَيْرِ: أَوَّلُهَا الْمُبَادَرَةُ إِلَى التَّوْبَةِ، وَالثَّانِي الْقَنَاعَةُ بِرِزْقٍ يَسِيرٍ، وَالثَّالِثُ النَّشَاطُ فِي الْعِبَادَةِ , وَمَنْ حَرَصَ عَلَى الدُّنْيَا فَإِنَّهُ لَا يَأْكُلُ فَوْقَ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ وَيَدْخُلُ عَلَيْهِ مِنَ الْعُيُوبِ ثَلَاثُ خِصَالٍ: أَوَّلُهَا أَنْ تَرَاهُ أَبَدًا غَيْرَ شَاكِرٍ لِعَطِيَّةِ اللَّهِ لَهُ , وَالثَّانِي لَا يُوَاسِي بِشَيْءٍ مِمَّا قَدْ أُعْطِيَ مِنَ الدُّنْيَا , وَالثَّالِثُ يَشْتَغِلُ وَيَتْعَبُ فِي طَلَبِ مَا لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ حَتَّى يَفُوتَهُ عَمَلُ الدِّينِ "
"Barangsiapa banyak mengingat kematian, niscaya ia tidak akan mati sebelum ajalnya tiba. Ia akan mendapatkan tiga sifat kebaikan; segera untuk bertaubat, merasa puas dengan rizki yang Allah karuniakan walau sedikit dan rajin beribadah.
Adapun orang yang tamak terhadap kenikmatan dunia, niscaya ia tidak akan makan melebihi rizki yang telah Allah tuliskan untuk dirinya. Ia akan mendapatkan tiga sifat keburukan; engkau senantiasa melihatnya tidak pernah bersyukur atas pemberian Allah kepadanya, tidak pernah menyumbangkan (menginfakkan) sedikit pun kenikmatan dunia yang dikaruniakan Allah kepadanya dan ia senantiasa sibuk serta mencapekkan dirinya dalam mengejar rizki yang tidak Allah tetapkan untuk dirinya, sampai-sampai ia tidak sempat beramal untuk agamanya."  
عَمَلٌ كَالسَّرَابِ، وَقَلْبٌ مِنَ التَّقْوَى خَرَابٌ، وَذُنُوبٌ بِعَدَدِ الرَّمَلِ وَالتُّرَابِ، ثُمَّ تَطْمَعُ فِي الْكَوَاعِبِ اْلأَتْرَابِ؟ هَيْهَاتَ، أَنْتَ سَكْرَانٌ بِغَيرِ شَرَابٍ، مَا أَكْمَلَكَ لَوْ بَادَرْتَ أَمَلَكَ، مَا أَجَلَّكَ لَوْ بَادَرْتَ أَجَلَكَ، مَا أَقْوَاكَ لَوْ خَالَفْتَ هَوَاكَ.
"Amal perbuatan(mu) seperti fatamorgana, hati(mu) kosong dari ketakwaan, dosa-dosa(mu) sebanyak pasir dan debu, tapi kamu hendak mengharapkan bidadari sorga yang montok payudaranya lagi sebaya usianya? Mustahil…mustahil…Engkau ini mabuk (tidak sadar diri) walau tidak minum minuman keras. Alangkah sempurnanya engkau jika saja engkau mendahului angan-anganmu (dengan perbuatan nyata). Alangkah agungnya engkau jika saja engkau mendahului kematianmu (dengan amal-amal kebaikan). Alangkah kuatnya engkau jika saja engkau menyelisihi hawa nafsumu."
ذَنْبٌ أَفْتَقِرُ بِهِ إِلَيهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ طَاعَةٍ أَفْتَخِرُ بِهَا عَلَيهِ.
"Dosa yang membuatku merasa butuh (kepada ampunan Allah) itu lebih aku sukai daripada ketaatan yang membuatku berbangga diri dengannya."
لِيَكُنْ حَظُّ الْمُؤْمِنِ مِنْكَ ثَلاَثاً: إِنْ لَمْ تَنْفَعْهُ فَلاَ تَضُرَّهُ، وَإِنْ لَمْ تُفَرِّحْهُ فَلاَ تَغُمَّهُ، وَإِنْ لَمْ تَمْدَحْهُ فَلاَ تَذُمَّهُ.
"Hendaknya bagian seorang mukmin darimu tiga perkara; Jika engkau tidak memberinya manfaat, janganlah engkau memberinya bahaya! Jika engkau tidak bisa membuatnya senang, janganlah engkau membuatnya sedih! Dan jika engkau tidak memujinya, janganlah engkau mencelanya!"
لِلتَّائِبِ فَخْرٌ لاَ يُعَادِلُهُ فَخْرٌ، فَرِحَ اللهُ بِتَوْبَتِهِ.
"Orang yang bertaubat memiliki sebuah kebanggaan yang tidak bisa ditandingi oleh kebanggaan apapun, yaitu Allah gembira dengan taubatnya."
اللَّيْلُ طَوِيلٌ فَلاَ تُقَصِّرْهُ بِمَنَامِكَ، وَالنَّهَارُ نَقِيٌّ فَلاَ تُدَنِّسْهُ بِآثَامِكَ.
"Waktu malam itu panjang, maka janganlah engkau memendekkannya dengan tidurmu! Waktu siang itu bersih, maka janganlah engkau menodainya dengan dosa-dosamu!"
الدُّنْيَا خَرَابٌ، وَأَخْرَبُ مِنْهَا قَلْبُ مَنْ يُعَمِّرُهَا، وَاْلآخِرَةُ دَارُ عُمْرَانٍ، وَأَعْمَرُ مِنْهَا قَلْبُ مَنْ يَطْلُبُهَا.
"Dunia itu kosong, namun yang lebih kosong darinya adalah hati orang-orang yang meramaikannya (para pemburu kenikmatan dunia semata). Akhirat itu negeri keramaian (kemakmuran), namun yang lebih ramai darinya adalah hati orang-orang yang memburu (kenikmatan abadi di) akhirat." 
عَجِبْتُ مِمَّنْ يَحْزَنُ عَلَى نُقْصَانِ مَالِهِ كَيْفَ لاَ يَحْزَنُ عَلَى نُقْصَانِ عُمْرِهِ؟
"Saya heran kepada orang yang sedih karena hartanya berkurang, kenapa ia tidak bersedih karena umurnya berkurang?"
Nasehat-nasehat emas dan penuh hikmah lainnya yang imam Yahya bin Muadz Ar-Razi sampaikan masih banyak, baik nasehat-nasehat yang ringkas maupun panjang. Sedikit kutipan nasehat beliau di atas semoga menjadi pelajaran yang dapat kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Amien. Wallahu a'lam bish-shawab.
Referensi:
Adz-Dzahabi, Tarikhul Islam, 13/373-375, Beirut: Darul Kitab Al-Arab, cet. 2, 1413 H.
Adz-Dzahabi, Siyaru A'lam An-Nubala', 13/15-16, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 3, 1405 H.
Ibnul Jauzi Al-Baghdadi Hambali, Al-Muntazham fit Tarikh, 12/148-149, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet. 1, 1412 H.
Ibnul Jauzi Al-Baghdadi Hambali, Shifatus Shafwah, 2/291-296, Kairo: Darul Hadits, cet. 1, 1421 H.
Abu Nu'aim Al-Asbahani, Hilyatul Awliya' wa Thabaqatul Ashfiya', 10/51-70, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet. 1, 1409 H.
(muhib almajdi/arrahmah.com)

6 Perkara, Jangan Kahwini Dia..

PESANAN Rasulullah SAW untuk kaum Lelaki..
 “Jangan engkau kahwini wanita yang enam, 
  • jangan yang ananah, 
  • yang mananah, 
  • yang hananah 
  • dan jangan engkau kahwini yang hadaqah, 
  • yang basaqah 
  • dan yang syadaqah”.

1. Wanita Ananah: wanita yang banyak mengomen itu dan ini. Apa yang diberi atau dilakukan suami untuk rumahnya tangga semua tidak kena dan tidak berpuas hati.


2. Wanita Mananah: wanita sebegini yang menidakkan usaha dan jasa suami sebaliknya mendabik dada dialah yang banyak berkorban untuk membangun rumah tangga. Dia suka mengungkit-ungkit apa yang dilakukan untuk kebaikan rumah tangga. Biasanya wanita ini bekerja atau berkedudukan tinggi dan bergaji besar.


3. Wanita Hananah: Menyatakan kasih sayangnya kepada suaminya yang lain, yang dikahwininya sebelum ini atau kepada anak dari suaminya yang lain.Dan wanita ini berangan-angan mendapatkan suami yang lebih baik dari suami yang sedia ada. Dalam kata lain wanita sebegini tidak bersyukur dengan jodohnya itu. Wanita sebegini yang mengkufuri nikmat perkahwinan. Dia juga merendahkan kebolehan dan kemampuan suaminya.


4. Wanita Hadaqah: Melemparkan pandangan dan matanya pada tiap sesuatu, lalu menyatakan keinginannya untuk memiliki barang itu dan memaksa suaminya untuk membelinya selain itu wanita ini suka ikut nafsunya. Wanita sebigini memeningkan kepala lelaki. Dia tenguk apa saja dia mahu. Dia suka membandingkan dirinya dengan diri orang lain. Suka menunjuk-nujuk. Wanita inilah yang menjadikan suami dulu handsome sekarang sudah botak.

5. Wanita Basaqah: Ada 2 makna,
  • Pertama, wanita sebegini yang suka bersolek dan menghiaskan diri. Dia menghias diri bukan untuk suaminya tetapi untuk ditunjuk-tujukkan kepada dunia. Suka melawa. Wangnya dihabiskan untuk membeli make-up, kasut dan barang kemas. Wanita begini juga suka dipuji-puji. Kalau dia kebetulan menjadi isteri orang ternama dan menjadi pula ketua dalam kumpulan itu, orang lain tidak boleh mengatasi dirinya.
  • Kedua, dia marah ketika makan dan tidak mahu makan kecuali sendirian dan diasingkannya bahagiannya.


6. Wanita Syadaqah: banyak cakap, tidak menentu lagi bising. Kebecokan itu juga menyebabkan segala kerja yang dibuatnya tidak menjadi, hanya tukang sibuk dan komen saja. (IH)

Thursday, July 19, 2012

Hutang Malaysia berpotensi jadi bom jangka, kata pakar ekonomi



KUALA LUMPUR, 19 Julai — Hutang negara Malaysia yang meningkat kepada hampir seratus peratus sejak 2007 kepada RM421 billion menunjukkan risiko fiskal bahawa sekiranya ekonomi negara ini tidak diuruskan secara berhemah, ia boleh mencetuskan keadaan ekonomi yang teruk, kata pakar analisis ekonomi hari ini.
Mereka berkata sementara hutang kerajaan — yang kini berada di paras 54 peratus dari kadar Keluaran Dalam Negara Kasar (KDNK), yang kedua tertinggi di Asia — tidak akan memberi impak kepada ekonomi negara dan kadar kredit setakat ini, tetapi bakal memberi keadaan yang tidak menentu kepada pasaran global, sekaligus bakal menjadi risiko untuk pelbagai isu dalam masa sekarang.
Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak (gambar atas) telah berkata tidak akan membenarkan hutang kerajaan mencecah 55 peratus KDNK, kerisauan ini meningkat apabila pinjaman yang disokong pihak kerajaan — mula dipinjam dan sudah meningkat kepada 65 peratus KDNK, iaitu melebihi dari paras selesa bagi sesetengah penganalisis.
Ketua penganalisis ekonomi RAM Ratings, Yeah Kim Leng berkata bahawa sementara hutang Malaysia dianggap sebagai sederhana, ia juga perlu berhati-hati dalam kemungkinan kadar hutang mula melintasi “angka tertinggi” disebabkan terlalu banyak kos pinjaman.
“Sentimen pasaran yang tidak menentu boleh jadi sangat menyukarkan,” kata Yeah.
“Jika sentimen pasaran tidak memihak kepada Malaysia, ia boleh menyebabkan kadar pinjaman menjadi terlalu tinggi dan pelabur akan menarik kembali modal keluar”
Beliau turut menambah sekiranya pengurusan dilakukan secara berhemah, maka hutang negara akan menyebabkan daya tahan ekonomi negara semakin lemah jika mempunyai kejutan ekonomi kuat seperti kegawatan ekonomi pada hari ini.
“Ini bukan hanya soal pertumbuhan ekonomi, tetapi kemampuan ekonomi untuk bertahan,” katanya lagi.
Menurut angka yang diberikan dalam Laporan Ekonomi dari kewangan Kerajaan Persekutuan — menunjukkan bahawa hutang Kerajaan Persekutan telah meningkat dua kali ganda dalam masa kurang dari lima tahun, dari RM247 billion pada tahun 2007 kepada anggaran RM421 billion kepada
tahun 2011, dengan pendapatan hanya meningkat kepada 31 peratus atau dari RM140 billion kepada RM183 billion dalam tempoh yang sama.
Sebagai perbandingan, dari 2001 hingga 2005, kadar hutang hanya meningkat dari RM121.4 billion kepada RM189 billion, peningkatan hanya 56 peratus.
Pinjaman yang disokong kerajaan meningkat secara mendadak dari tahun 1985 hingga 2010 — dari RM11 billion kepada RM96 billion, peningkatan 8.7 peratus setiap tahun.
Cheong Kee Cheok, zamalah penyelidik senior dari Universiti Malaya (UM) di Fakulti Ekonomi dan Pentadbiran berkata bahawa hutang Negara yang kini 55 peratus KDNK tidaklah begitu membahayakan jika dibandingkan dengan Greece, akan tetapi dia membayangkan bahawa hutang akan terus meningkat.
“Peningkatan kadar hutang sepanjang tahun-tahun ini sangat merisaukan dan setakat ini, saya tidak nampak sebarang kesungguhan untuk mengurangkan kadar perbelanjaan walaupun kadar sumber pendapatan tidak berkembang. Ini kerana kita mempunyai Petronas,” katanya lagi.
Wan Saiful Wan Jan (gambar bawah), ketua eksekutif dari Institut Demokrasi dan Hal Ehwal Ekonomi (IDEAS) berkata senario politik memainkan peranan mengapa Malaysia terus bergelut dengan hutang yang meningkat.
Dia menegaskan bahawa perbelanjaan defisit adalah “perkara yang tidak sepatutnya”, melainkan kerajaan cuba memikirkan jalan terbaik untuk menangani hutangnya.
Hanya sedikit sahaja tindakan dari pihak kerajaan untuk menanganinya kerana ahli politik hanya sibuk menunggu pilihan raya akan datang.
“Ahli politik akan menggunakan wang untuk mereka memenangi pilihan raya,” tambahnya lagi.
Dia bukan sahaja mengkritik kepada pentadbiran Najib tetapi mendapati janji Pakatan Rakyat lebih teruk lagi.
“Pakatan Rakyat berkata mereka boleh membiayai perbelanjaan dengan menghapuskan rasuah, tetapi jika mereka mahu bertanggungjawab, mereka harus tahu bagaimana untuk membayar hutang bukannya menutup ruang untuk perbelanjaan,” katanya lagi.
Rekod fiskal kerajaan sudah mula menunjukkan impak kepada keyakinan pelabur disamping menunjukkan kelemahan atas mata wang negara serta peningkatan pengeluaran bon kerajaan.
Walaupun kerajaan Malaysia menawarkan pendapatan lebih dari Singapura atau Amerika Syarikat, pelabur terus menarik balik pelaburannya dan menyebabkan nilai ringgit jatuh dalam beberapa minggu ini.
Negara dengan kadar kredit yang kuat seperti Switzerland menawarkan pendapatan yang tinggi kerana kekuatan ekonominya, manakala Negara seperti Itali dan Sepanyol mempunyai masalah kerana mempunyai risiko yang tinggi.
Walaupun Malaysia tidak dalam kategori seperti Sepanyol dan Itali, keadaan menunjukkan pelaur lebih banyak menukarkan mata wang mereka kepada dolar Amerika dan Singapura dalam masa ketidaktentuan walaupun Sekuriti Kerataan Malaysia (MGS) menawarkan 3.4 peratus keuntungan berbanding 1.5 peratus bagi bon kerajaan Singapura dan Amerika Syarikat dalam masa 10 tahun.
Ini bermakna para pelabur masih ada keraguan terhadap kemampuan Malaysia untuk membayar balik hutang serta pengeluaran matawang asing seterusnya menjadikan matawang ringgit jatuh dalam masa 14 tahun berbanding dolar Singapura dan nilai matawang semakin merosot.
Dengan kedua-dua hutang dan perbelanjaan defisit antara yang tertinggi di Asia berbanding KDNK, ia akan menjadi lebih sukar bagi kerajaan mengurangkan perbelanjaan - sama ada meningkatkan cukai atau memotong perbelanjaan — semuanya tidak menjadi popular di kalangan rakyat.
Penyelamat ekonomi Malaysia ialah rakyat Malaysia yang bekerja di luar negara disamping pendapatan dari minyak dan gas.
Pendapatan dari hidrokarbon bagaimanapun diancam dengan harga yang tidak menentu kerana kedudukan ekonomi yang tidak stabil.
Sekiranya berlakunya lagi krisis ekonomi global, tidak dapat dipastikan bagaimana ruang fiskal dalam pentadbiran Najib dapat melakukan tindakan merangsang ekonomi kerana terikat denganperbelanjaan defisit dan sentiasa dibelenggu dengan hutang.
Satu lagi isu ialah hutang RM96 billion akan terus meningkat dalam masa akan datang dan ada laporan menganggarkan peningkatan ini mungkin meningkat ke RM100 billion dalam beberapa tahun akan datang.
Malah, Perbadanan Tabung Pendidikan Tinggi Nasional (PTPTN) juga terpaksa mengurangkan perbelanjaan hutangnya, dengan menjual RM2.5 billion bon Islamnya untuk membiayai lebih banyak perbelanjaannya untuk peningkatan para pelajar ke universiti.
Skim PTPTN walaubagaimanapun berada dalam keadaan kontroversi dimana hanya 84 peratus pelajarnya membayar balik pinjaman setakat Februari tahun ini.
Untuk ketika ini, para pelabur masih lagi mahu membeli bon dari kerajaan Malaysia untuk digunakan untuk pembangunan negara.
Persoalan samada harga petroleum terus turun, atau kadar defisit yang masih lagi tinggi, dan kenaikan kadar liabiliti mungkin akan mengganggu keyakinan mereka.

Wednesday, July 18, 2012

Adakah Petronas si Tanggang?


Petronas mahu menghentikan pembayaran subsidi gas, malah sejak tahun lepas mahu membayar dividen yang lebih rendah!

 

Oleh Anas Alam Faizli
Pada awal bulan Jun baru-baru ini, Petronas secara tidak langsung telah menyatakan hasratnya di Persidangan Gas Se-Dunia bahawa perbadanan multinasional terbesar negara ini sudah tidak sanggup lagi untuk menjadi seperti kilang pencetak wang kerajaan Malaysia. Petronas mahu menghentikan pembayaran subsidi gas, malah sejak tahun lepas, Petronas mahu membayar dividen yang lebih rendah!
Adakah Petronas seperti si Tanggang? Hasil wang minyak dan  gas adalah milik rakyat dan juga amanah kerajaan. Banyak penulisan yang telah mengulas mengenai kemampanan pembayaran yang berterusan dari Petronas. Artikel ini cuba mengupas hal ini dari satu perspektif berbeza, memberikan realiti industri minyak dan gas tempatan serta menerangkan mengapa pembayaran wang yang tinggi dari Petronas mungkin bukanlah keputusan yang terbaik untuk rakyat Malaysia sendiri, dalam jangka masa panjang.
Pada tahun 1974, Petronas yang dimiliki sepenuhnya oleh kerajaan Malaysia telah ditubuhkan dan diberi hak milik, tanggungjawab dan kawalan sepenuhnya ke atas rizab minyak dan gas negara. Kini, Petronas telah berkembang menjadi sebuah syarikat gergasi antarabangsa serta termasuk antara syarikat minyak dan gas yang paling terbesar dan menguntungkan di dalam senarai “Fortune 500” dengan jumlah tenaga kerja lebih daripada 30,000 orang.
Mungkin ramai yang bersetuju tokoh-tokoh seperti Tun Abdul Razak Hussein dan Tengku Razaleigh Hamzahlah yang paling berjasa; sebagai para pengasas Petronas, mereka telah meletakkan asas yang kukuh serta visi dan objektif yang cemerlang sehingga berjaya memastikan kepimpinan dan pengurusan kemudiannya seperti Tan Sri Azizan Zainul Abidin, Tan Sri Hassan Merican, dan yang terkini Ketua Pegawai Eksekutif, Datuk Shamsul Azhar Ababs mampu untuk terus mendukung dan mengembangkan Petronas ke persada dunia. Asas yang kukuh ini jugalah yang telah membolehkan Petronas mengembangkan sayapnya ke lebih dari 30 buah negara di seluruh dunia. Petronas juga telah di sebutkan sebagai “seven sisters” yang baru, satu istilah yang pada asalnya dicipta oleh ahli perniagaan Itali Enrico Mattei, untuk merujuk kepada syarikat-syarikat gergasi minyak dan gas tersohor dunia seperti Exxon Mobil, Chevron, BP dan Shell.

Soalan 1 – Adakah Malaysia terlalu bergantung kepada Petronas dan rizab minyak dan gas untuk kelangsungan kebolehtahanan ekonomi negara?

Hasil dari Petronas telah menyumbang kepada pertumbuhan dan pembangunan pesat Malaysia. Sejak penubuhan Petronas pada tahun 1974, RM 529.0 bilion di dalam bentuk dividen, cukai, hasil minyak dan gas dan duti eksport telah dibayar kepada kerajaan Malaysia. Sejumlah RM 136.5 bilion pula telah dikeluarkan untuk membayar subsidi kepada TNB, pengeluar tenaga bebas, pihak komersial dan lain-lain. (Sumber: Laporan Tahunan Petronas 2011)
Dalam lima tahun kewangan Petronas yang terakhir, sejak tahun kewangan 2007, Petronas telah membayar kerajaan Malaysia kira-kira RM 61.0 bilion setiap tahun, secara puratanya. Dividen sahaja telah direkodkan mencecah 53.0 peratus daripada keuntungan tahunan Petronas; satu jumlah yang jauh lebih tinggi dari purata 38.0 peratus yang dibayar oleh syarikat minyak dan gas nasional lain di seluruh dunia kepada kerajaan masing-masing. Jumlah pembayaran yang telah dikeluarkan oleh Petronas kepada kerajaan secara puratanya adalah sebanyak 41.0 peratus daripada jumlah pendapatan kerajaan Malaysia.
Bukan sahaja itu, malah kerajaan Malaysia juga telah menggunakan “khidmat” Petronas untuk pelbagai keperluan mengikat jamin. Contohnya ikat jamin Bank Bumiputera bernilai RM2.5 bilion pada tahun 1985, diikuti dengan RM 1.0 bilion tambahan pada tahun 1991. Melalui MISC pada tahun 1997, Petronas juga telah menyelamatkan Konsortium Perkapalan Berhad (KPB), yang menghadapi kerugian sebanyak RM 2.0 bilion pada ketika itu.
Petronas kemudiannya juga dirujuk untuk menanggung kos pembinaan Menara Kembar Petronas bernilai RM 6.0 bilion dan juga pembinaan Putrajaya yang mencecah RM 22.0 bilion.
Soalan 2 – Hasil bumi minyak dan gas Malaysia bakal habis?
Semua sedia maklum bahawa hasil bumi minyak dan gas adalah sumber yang tidak boleh diperbaharui dan bakal lupus. Pengeluaran minyak Malaysia mencatatkan pengeluaran tertinggi (iaitu lebih kurang 650,000 tong minyak sehari) pada tahun 1994, dan kemudiannya merosot. Walaupun tahun 2002 telah menyaksikan sedikit peningkatan, tetapi statistik pengeluaran kembali menurun sejak tiga tahun yang lalu, dan kini mencatatkan hanya lebih kurang 600,000 tong minyak sehari. Pengeluaran gas pula, berdasarkan projek-projek yang telah beroperasi, menghasilkan 6.1 bilion kaki persegi padu gas sehari. Ini dijangkakan akan menurun kepada hanya 1.5 bilion kaki persegi padu gas sehari menjelang tahun 2025.
Situasi ini sejajar dengan corak pertumbuhan pengeluaran minyak dunia, yang mendatar daripada tahun 2005 hingga tahun 2009. Journal of Energy Security (2008) menyimpulkan bahawa potensi untuk meningkatkan pengeluaran gas dan terutamanya minyak adalah terhad. Saudi Aramco, syarikat minyak dan gas gergasi terbesar Arab Saudi, mengakui bahawa pengeluaran daripada rizab minyak dan gasnya yang telah digali kini menurun pada kadar 8.0 peratus setahun. Menurut International Energy Agency (2007) pula, berdasarkan kajian daripada 800 buah telaga minyak, pengeluaran minyak dan gas dunia akan menguncup pada kadar 6.7 peratus setahun.
Rizab minyak dan gas yang belum diusahakan di Malaysia juga tidak banyak seperti dahulu. Lapangan-lapangan minyak dan gas kecil (marginal oil and gas fields) yang sebelum ini dianggap sekadar “tulang” kini menjadi “isi”; seolah-olah peluang keemasan yang ingin direbuti oleh semua pihak. Tambahan pula, pengeluaran dari lapangan minyak sedia ada di Malaysia sudahpun melihat puncaknya dahulu, dan kini hanya semakin merosot. Rizab minyak dan gas yang tinggal pula lebih sukar untuk dibangunkan kerana hasilnya kurang lumayan berbanding usaha yang diperlukan, ataupun lokasinya yang terletak di kawasan laut dalam lalu sukar dibangunkan akibat had-had teknologi dan menjadikannya jauh lebih mahal.
Kajian juga telah menunjukkan bahawa peningkatan aktiviti carigali minyak dan gas secara intensif tidak semestinya menjamin meningkatan pengeluaran, terutamanya di kawasan-kawasan lapangan minyak dan gas yang sudah matang. Di antara tahun 1974 dan 1978, sejumlah 40 telaga penerokaan yang digerudi menghasilkan penemuan rizab minyak dan gas tambahan sebanyak 1,580 juta tong minyak. Antara tahun 2004 dan 2008, walaupun sebanyak 140 telaga telah digerudi (iaitu 3.5 kali ganda lebih banyak), hasil penemuan rizab minyak dan gas hanyalah sebanyak 1,050 juta tong minyak! Kadar pengeluaran purata dari telaga-telaga minyak dan gas di Malaysia kini juga hanyalah pada kadar 33.0 peratus. Usaha-usaha meningkatkan kadar ini pula memerlukan penggunaan teknologi yang lebih mahal.
Dalam kata lain, teknologi yang lebih kompleks dan lebih mahal akan diperlukan untuk meningkatkan pengeluaran minyak dan gas daripada lapangan-lapangan kecil dan lapangan-lapangan di laut dalam. Oleh itu, Petronas akan memerlukan jauh lebih banyak wang.
Soalan 3 – Berapa banyakkah wang yang kita perlukan untuk meneruskan kemampanan perniagaan minyak dan gas?
Dianggarkan untuk tahun 2012, perbelanjaan untuk pembangunan industri minyak dan gas secara global akan mencatatkan jumlah perbelanjaan modal lebih daripada RM 3.0 trilion. Menurut Unit Penyampaian dan Prestasi Pengurusa (Pemandu), pertumbuhan masa depan minyak dan gas Malaysia hanya akan datang daripada inisiatif seperti kaedah “Enhanced Oil Recovery” (EOR), pendekatan inovatif pembangunan lapangan “marginal” dan juga menggiatkan aktiviti penerokaan oleh pengendali minyak dan gas di Malaysia serta penerokaan penemuan laut dalam. Inisiatif-inisiatif ini adalah cadangan-cadangan yang bernas. Sungguhpun begitu ia akan memakan belanja yang tinggi dan syarikat-syarikat pengendali minyak dan gas, seperti Petronas Carigali, akan memerlukan wang tunai yang lebih banyak untuk membiayainya.
Sebagai salah satu cara mengatasi masalah ini, Petronas telah mengembangkan operasi minyak dan gasnya ke lebih daripada 30 buah negara. Ini merupakan satu langkah strategik yang harus dipuji; hasil daripada pandangan jauh pihak pengurusan, dan juga kerajaan, dalam menangani kebimbangan terhadap kehabisan rizab minyak dan gas di Malaysia. Pada sidang yang sama, Ketua Pegawai Eksekutif dan Pengarah Urusan, Datuk Shamsul juga berhujah bahawa kini adalah masa yang paling sesuai untuk membeli lapangan-lapangan minyak dan gas antarabangsa yang boleh mendatangkan keuntungan besar, memandangkan pengeluaran tempatan semakin berkurangan. Namun, inisiatif begini juga memerlukan dana yang besar. Malah, mengikut Petronas seperti pengumumannya tahun lepas, memerlukan lebih kurang RM 300.0 bilion dalam tempoh lima tahun akan datang untuk pelaburan modal (capital investment).
Ya, mungkin ada yang akan berhujah bahawa keperluan wang tunai ini boleh diselesaikan dengan mudah melalui pinjaman; melalui sukuk dan bon terbitan, tetapi pengukuhan rizab tunai Petronas juga wajib dijadikan keutamaan.
Soalan 4 – Adakah industri tempatan minyak dan gas di Malaysia boleh dipertingkatkan lagi?
Anggaran kasar dengan mudah boleh menunjukkan bahawa sekurang-kurangnya RM 1.0 trilion telah dibelanjakan untuk pengeluaran minyak dan gas sebagai perbelanjaan modal sepanjang lebih 38 tahun yang lalu. Berapa banyakkah daripada modal ini yang telah diturunkan kepada industri minyak dan gas tempatan? Hanya dengan melihat perbandingan mudah, yakni syarikat-syarikat minyak dan gas yang disenaraikan di pasaran saham, dapat menunjukkan 25 syarikat minyak dan gas yang tersenarai (berdasarkan Industrial Classification Benchmark) di Bursa Malaysia mencatatkan jumlah pendapatan sebanyak RM 73.0 bilion dalam tahun kewangan terakhir. Sebagai perbandingan, Singapura, yang bukan merupakan negara pengeluar minyak dan gas pun, mempunyai 31 syarikat minyak dan gas tersenarai di pasaran sahamnya, dengan saiz pendapatan berjumlah RM 149.0 bilion!
Tidak dinafikan, terdapat juga syarikat tempatan seperti Malaysian Marine Heavy Engineering (bernilai RM 9.0 bilion) dan syarikat SapuraKencana Minyak dan gas yang baru ini menggabungkan Sapura dan Kencana (bernilai RM 11.0 bilion) yang muncul sebagai syarikat fabrikasi dan marin yang mampu berdaya saing di peringkat antarabangsa.
Walaupun begitu, bagaimanakah hasil mereka ini jika dibandingkan dengan jumlah perbelanjaan yang telah dikeluarkan untuk membangunkan industri minyak dan gas tempatan? Tambahan pula, bagaimanakah mereka jika dibandingkan dengan pesaing-pesaing terhebat dunia Hyundai Heavy Engineering, Samsung Heavy Industries, Keppel Shipyard, Sembcorp Marine dan juga McDermott?
Harus diperakui bahawa perbelanjaan ini telah berjaya membangunkan kepakaran tenaga pekerja tempatan dalam semua sektor minyak dan gas. Ini merangkumi semua bidang daripada kejuruteraan, pembinaan, pemasangan, pemasangan di lautan, peralatan khas, serta tenaga buruh mahir, dan macam-macam lagi. Bakat tempatan kita juga boleh dikatakan mampu bersaing di peringkat global, malah kini ramai yang diambil bekerja di seluruh pelusuk dunia. Syarikat kejuruteraan tempatan seperti Ranhill Worley, RNZ Engineering dan MMC O&G juga boleh dikatakan berjaya meletakkan syarikat mereka setaraf dengan syarikat antarabangsa lain.
Langkah strategik untuk membangunkan Malaysia sebagai pusat minyak dan gas dunia juga boleh dijadikan salah satu usaha untuk memastikan kelangsungan industri minyak dan gas Malaysia. Adalah diharapkan Malaysia dapat menarik pelaburan daripada luar serta menawarkan khidmat menyeluruh untuk semua keperluan industri minyak dan gas serantau dan juga dunia. Projek seperti RAPID adalah satu permulaan yang baik untuk menjadikan Malaysia pusat minyak dan gas. Marilah kita menjadikan Malaysia, untuk rantau ini, setaraf dengan Houston di rantau Amerika, dalam dunia minyak dan gas!
Akhir sekali, terdapat juga sektor-sektor lain di dalam industri minyak dan gas yang perlu dibangunkan di Malaysia; iaitu (1) sektor pembuatan dan pemasangan dan (2) sektor perkhidmatan. Syarikat pengendali minyak dan gas tempatan seringkali terpaksa bergantung kepada peralatan khas yang di import seperti mesin turbo (penjana dan pemampat), pam meter berbilang, peralatan elektrik, instrumen dan kawalan serta injap-injap bersaiz besar. Ini merupakan peluang bagi syarikat tempatan. Dari perspektif sektor perkhidmatan industri minyak dan gas, kita juga perlu memupuk dan mengembangkan daya saing pemain tempatan supaya setaraf dengan syarikat-syarikat perkhidmatan minyak dan gas berkelas antarabangsa seperti Schlumberger dan Halliburton. Jika ini boleh dicapai, rakyat Malaysia bolehlah mengurangkan kebergantungan kepada rizab minyak dan gas tempatan, kerana ekonomi sekunder yang dibangunkan ini telah mampu meneruskan kelangsungan industri ini walaupun Malaysia sendiri setelah kehabisan rizab minyak dan gas!
Cetusan minda – Mari berfikir sejenak
Sejak tahun lepas, Petronas telah mencadangkan untuk menurunkan dividen tahunan yang dibayar kepada Kerajaan melalui format pengiraan dividen baru; menggunakan peratusan keuntungan dan bukanlah jumlah tetap. Ini bermakna jika Petronas untung kecil ia akan membayar amaun yang kecil, dan sebaliknya. Idea ini juga telah disokong oleh bekas Perdana Menteri Tun Dr Mahathir Mohamad (mungkin ada yang mempersoalkan sokongannya hanyalah dizahirkan kerana kebanyakan pembelanjaan telahpun dilakukan di zaman pemerintahannya). Tambahan pula, perbincangan di Persidangan Gas Dunia baru-baru ini telah, secara terbukanya, mempersoalkan keperluan subsidi gas.
Kebergantungan terhadap Petronas sebegini, jika berterusan, akan mengurangkan rizab tunainya dan berisiko merencatkan potensi pertumbuhan Petronas. Bagi lima tahun yang lalu, Petronas telah membelanjakan pada kadar purata 28.5 peratus daripada aliran tunai bebasnya (free cash flow). Sebaliknya, Shell, di antara syarikat yang mempunyai kadar nisbah pelaburan semula yang tertinggi di dunia, melabur kembali sebanyak 75.0 peratus daripada aliran tunai bebas, jauh meninggalkan Petronas di belakang!
Malaysia dan rakyatnya sememangnya sangat bergantung kepada pendapatan minyak dan gas negara sehinggakan ia telah menjadi instrumen penting pembangunan negara yang tidak boleh dinafikan. Kita terlalu bergantung kepadanya sehinggakan halatuju negara tidak dapat dibayangkan tanpa pendapatan ini. Maka, adalah wajar bahawa usaha perlu dilakukan untuk mengurangkan kebergantungan kepada “si Tanggang” ini. Ini adalah supaya kita tidak merencatkan pertumbuhan Petronas dan yang lebih penting lagi, untuk memastikan Malaysia tidak tumpas suatu hari nanti, tanpa “pelan persaraan.”
Jadi, wajarkah Petronas dilabel sebagai “si Tanggang”? Ataupun adakah Petronas sekadar mencuba untuk mencadangkan alternatif lain, untuk kebaikan Malaysia sendiri, dalam jangka masa panjang?
Anas Alam Faizli sedang berkhidmat dengan sebuah syarikat minyak dan gas antarabangsa. Beliau memegang ijazah Sarjana dalam Pengurusan Projek dan sedang mengambil kedoktoran dalam bidang pentadbiran perniagaan. Kajian beliau meliputi amalan-amalan dalam penilaian modal pelaburan (capital investment evaluation practices) dan proses membuat keputusan (decision-making).

Read more: http://www.freemalaysiatoday.com/category/opinion/2012/07/18/adakah-petronas-si-tanggang/#ixzz20wecnHsW

EPF withdrawal: Women against proposed amendment

Sarawak women have launched a Facebook petition against the federal government's decision to raise the age limit of EPF withdrawals.

KUCHING: The women in Sarawak are upset at the federal government’s arbitrary decision to raise the age limit for the full withdrawal of Employees Provident Fund (EPF) to 60 years.
“It is a blatant disrespect for the people because the government made the decision without taking the feedback from us and it involves our money directly,” said Voon Shiak Ni, a lawyer here.
Voon was commenting on the statement by Deputy Finance Minister Donald Lim Siang Chai who said that the age for full withdrawal from the EPF by contributions will be raised to 60 and partial withdrawal to 55.
The planned amendment to the EPF Act 1991 follows the passing of the Minimum Retirement Age Bill 2012 in Parliament last month, which extends the minimum age for private sector employees from 55 to 60.
Lim had reportedly said the decision was “a consequential move”.
“With the minimum retirement age, we have to raise the age of EPF withdrawal. The decision has been made and it is only a matter of time before the amendment will come into effect,” he said.
Voon, who is also PKR national vice-women chief, yesterday hit out at Lim saying it is unfair to those who had been working for 20 and 30 years.
“Why are they suddenly freezing the withdrawals of EPF at age 55?” she said.
Demanding that Prime Minister Najib Tun Razak explain to the people the rationale behind the move, Voon said it was doubtful whether the decision took into consideration the “habits” of the private sector .
“Many will not work until 60 with a private company… the contribution of EPF involves the private sector too.” she added.
Facebook petition
Voon said she would galvanise the public to voice their dissatisfaction with the decision.
“We are going to set up an online petition in Facebook calling on the government to review its decision and to give the people an option to withdraw the money at 55 or 60 for those who already had an EPF account.
“We call on to the public to sign the online petition and send it to the prime minister,” she added.
Meanwhile, Batu Lintang assemblyman See Chee How, who launched the petition campaign yesterday, said the unilateral decision by the government is another example of “high-handed” administrative action.
“Najib, please walk the talk. The people are against this. There was no consultation with them whatsoever.
“Imagine people who have worked for years and people who will be working for years to achieve a retirement goal, then suddenly when the goal is in sight the government conveniently ‘moves the goal posts’.
“This is completely unacceptable. Sign the petition today, and make your voices heard. Together we can,” said See.

Read more: http://www.freemalaysiatoday.com/category/nation/2012/07/18/epf-withdrawal-women-against-proposed-amendment/#ixzz20wckBalG

Krisis air: Jangan jadi macam budak

Piarapakaran S.

Krisis air: Jangan jadi macam budak
Krisis Air
PERSATUAN Penyelidikan Air dan Tenaga Malaysia (AWER) menyeru syarikat-syarikat konsesi air, Kerajaan Negeri Selangor dan Kementerian Tenaga, Teknologi Hijau dan Air (KeTTHA) berhenti mengelirukan rakyat dan menuding jari satu sama lain secara kebudak-budakan. Penstrukturan semula industri perkhidmatan negara tidak boleh dielakkan dan syarikat-syarikat  konsesi sedar akan kuasa sebenar Akta Industri Perkhidmatan Air 2006 (WSIA) kerana WSIA melindungi rakyat.
Disebabkan kerajaan negeri Selangor dan KeTTHA masih menjadi jaguh gelut, penstrukturan semula ini telah dilengahkan sejak tahun 2008.
Jika kelewatan ini berterusan, syarikat-syarikat konsesi akan menjadi pemenang. Kita juga tidak boleh lupakan bahawa beberapa pegawai KeTTHA yang tidak bertanggungjawab telah turut sama melewatkan pentrukturan semula industri perkhidmatan air. Pegawai-pegawai ini juga telah 'membutakan' Menteri dan Kabinet dalam banyak proses pelaksanaan keputusan berkaitan isu ini.


Situasi Bekalan dan Permintaan
Kerajaan Negeri Selangor perlu berhenti mengelirukan orang ramai dengan mengeluarkan kenyataan-kenyataan bahawa empangan adalah penuh dan selalu hujan. Isu utama di sini ialah, Bekalan air yang telah dirawat adalah hampir sama dengan Permintaan. Jika anda mempunyai 500 paket nasi lemak untuk dijual dan pengguna-pengguna ingin membeli 520 paket, adakah anda mampu memenuhi keperluan mereka? Ini adalah contoh yang paling ringkas untuk menjelaskan isu bekalan air terawat yang sedang berlaku.
Di samping itu, empangan adalah direka bentuk untuk menyimpan air mentah untuk beberapa bulan tanpa hujan. Ini adalah kriteria reka bentuk dalam kejuruteraan untuk empangan. Air mentah akan dirawat melalui loji rawatan air untuk menghasilkan air terawat. Keseluruhan isu bekalan-permintaan ini adalah berkaitan dengan air yang telah dirawat, bukannya air mentah. Menambah loji rawatan baru ke empangan akan menjejaskan penimbal reka bentuk. Sebagai contoh, jika sebuah empangan direka untuk bertahan kemarau selama 3 bulan, meningkatkan kapasiti rawatan dengan menambah loji rawatan yang baru di empangan tersebut akan menyebabkan air mentah di empangan surut lebih cepat jika kemarau berlaku.

Apabila permintaan puncak terhadap air terawat berlaku dan margin rizab air terawat jatuh ke zon negatif, air terawat di dalam takungan perkhidmatan (service reservoir) akan mula digunakan dengan cepat. Dalam situasi terburuk, apabila bekalan air terawat kembali beroperasi seperti keadaan biasa, tangkungan ini mungkin tidak dapat diisi penuh kerana kadar penggunaan air terawat masih tinggi. Jika keadaan sebegini berlarutan, ia boleh menyebabkan gangguan bekalan air. Bagi kawasan tanpa takungan ini (beberapa zon perindustrian dan kediaman), mereka bergantung sepenuhnya kepada tekanan dalam paip agihan.

Ini bukan fiksyen dan ia adalah situasi kejuruteraan yang sebenar. Kemungkinan untuk keadaan ini berlaku adalah tinggi apabila rizab margin adalah sangat rendah. Mana-mana firma air antarabangsa yang diupah juga akan memberikan output yang sama kerana ia adalah situasi kejuruteraan sepenuhnya.

Pengurangan Air Tidak Terhasil (NRW)
Pengurangan NRW memerlukan rancangan jangka pendek dan jangka panjang. AWER telah berjaya mendesak Kerajaan Persekutuan untuk membentuk Pasukan Petugas Pengurangan NRW di bawah Suruhanjaya Perkhidmatan Air Negara (SPAN). Penyepaduan penyelesaian untuk mengurangkan NRW adalah penting supaya pulangan pelaburan adalah cepat dan kita dapat melabur dalam projek-projek yang betul. Semua operator air di Malaysia menghadapi kekangan kewangan untuk mengurangkan NRW kerana perbelanjaan modal adalah tinggi. Penyelesaian bagi masalah ini akan diperolehi melalui pasukan petugas ini di samping memastikan tiada penyalahgunaan peruntukan serta pengurangan NRW yang berkesan dapat dilaksanakan. Mengurangkan NRW sebanyak 10 peratus di Selangor tidak boleh dilakukan dalam masa satu atau dua tahun kerana impak kepada tarif adalah tinggi. Kita perlu mengenal pasti kawasan-kawasan kritikal untuk mendapatkan penjimatan serta-merta. Situasi NRW isu sebenarnya menjadi lebih teruk dengan kelewatan dalam penstrukturan semula industri perkhidmatan air dan kegagalan untuk melaksanakan model WSIA sepenuhnya.

Catuan Air
Sebelum mendapat kelulusan daripada SPAN, Syabas tiad hak untuk mengeluarkan kenyataan yang berkaitan dengan catuan air kerana ini akan menyebabkan orang ramai berada dalam keadaan panik. Keadaan panik juga boleh menyebabkan penggunaan air meningkat dengan mendadak kerana pengguna cenderung untuk menyimpan lebih banyak air di rumah. Seksyen 54 dan 56 Akta Industri Perkhidmatan Air jelas menyatakan keperluan-keperluan untuk catuan dan kuasa yang diberikan kepada SPAN dan menteri.
AWER menggesa SPAN untuk mengaudit data yang didakwa oleh Syabas untuk menunjukkan keadaan sebenar bekalan air di zon-zon terjejas. Keputusan audit juga mesti disiarkan untuk pengetahuan umum untuk menjelaskan keadaan sebenar. Kami juga menggesa SPAN untuk menerbitkan garis panduan kepada operator-operator air untuk memastikan prosedur yang betul diikuti sebelum apa-apa pengumuman dibuat.

Loji Rawatan Air Langat 2
WSIA tidak membenarkan sebarang perjanjian konsesi yang baru bagi industri perkhidmatan air bermula 1 Januari 2008. WSIA juga meminta pemegang lesen perkhidmatan air untuk mengemukakan pelan perniagaan 30 tahun yang akan digunakan sebagai asas untuk proses penetapan tarif. Berdasarkan perkara ini, SPAN mesti memastikan perkara-perkara berikut dilaksanakan supaya projek
Langat 2 dilaksanakan dengan telus:
(i) Perjanjian tarif air mentah berdasarkan kualiti mesti ditandatangani di antara Selangor, Pahang dan SPAN;
(ii) Kerajaan Negeri Pahang mesti mewartakan kawasan tadahan air utama dan sekunder yang membekalkan air mentah melalui projek pemindahan air mentah Pahang-Selangor sebagai hutan simpanan kekal;
(iii) Bidaan terbuka Loji Perawatan Air Langat 2 mesti diumumkan. Firma audit bebas boleh dilantik oleh Pengurusan Aset Air Berhad (PAAB) untuk memastikan ketelusan proses ini supaya kos pembinaan dihadkan. Maklumat-maklumat pembida-pembida mesti dimuat naik ke laman web SPAN dan PAAB untuk mengelakkan bidaan terbuka "terpilih";
(iv) Berdasarkan butiran pelan perniagaan 30 tahun, Perkara (i) dan Perkara (iii), kesan kepada tarif boleh dianggarkan.

Maka, Tiada ruang untuk situasi “bina dahulu dan membincangkan tarif kemudian”. Ini adalah bercanggahan dengan model WSIA.

Dakwaan Syabas mengenai tiada perbelanjaan modal
Perbelanjaan modal adalah bergantung kepada kelulusan kerajaan negeri dan SPAN. Sebagai pemegang konsesi yang enggan untuk menstruktur semula, perbelanjaan modal boleh dilaksanakan secara langsung melalui tender terbuka oleh PAAB sejak WSIA dikuatkuasakan bermula 1 Januari 2008. Tugas utama Syabas adalah untuk membekalkan air dan bukannya melaksanakan perbelanjaan modal. Model WSIA tidak membenarkan pemegang lesen perkhidmatan air dibebani dengan kerja-kerja perbelanjaan modal. Jadi, kenapa merungut?

Orang ramai dan perniagaan tidak risau siapa yang membekalkan air. Mereka bimbang sama ada bekalan air ada atau tidak. Kami berharap semua pihak bersikap matang dan profesional dalam menangani isu ini. AWER telah menerbitkan dan menghantar satu salinan laporan Penstrukturan Semula Industri Perkhidmatan Air Negara - Hakikatnya kepada semua Ahli Dewan Undangan Negeri dan Ahli Parlimen. Sila baca terlebih dahulu sebelum mengulas mengenai model WSIA!

Air adalah kehidupan. Air bukan modal politik!
Piarapakaran S., Presiden Persatuan Penyelidikan Air dan Tenaga Malaysia (AWER)

TV Hijrah didakwa pecahbelahkan Islam

S.M Mohamed Idris,


Kepada:
Ketua Pegawai Eksekutif
Al Hijrah Media Corporation
Kompleks Pusat Islam, Jalan Perdana,
50480 Kuala Lumpur, Malaysia.

Assalamualaikum wr wb


Tuan,


Menyemai Perpecahan Dalam Kalangan Umat Islam


Saluran Televisyen Al Hijrah merupakan salah satu saluran yang mempunyai ramai bilangan penontonnya. Sikap, pemahaman, pandangan dan tindakan mereka yang menonton rancangan televisyen itu akan dipengaruhi apa yang mereka tonton. Oleh sebab itu, sebagai pengendali saluran Islam, anda mempunyai tanggungjawab yang besar untuk melaksanakan penelitian yang rapi dalam penyampaian mesej melalui saluran televisyen kepada penonton agar ia tidak melanggar ajaran al Quran yang menuntut kebaikan dan melarang kemungkaran.

Al Hijrah, dalam kenyataan misi dan visinya, telah berjanji untuk menjadi stesen penyiar dengan misi untuk mendidik, menghibur dan menyatukan umah melalui siaran yang berkualiti dan kreatif berdasarkan ajaran Islam yang sesuai dengan masyarakat tempatan dan antarabangsa.

Memandangkan  misi yang suci ini, kami amat terkejut apabila mendapati bahawa TV Al Hijrah menyiarkan suatu diskusi panel di mana ahli panel yang dianggap sebagai sarjana Islam membuat tuduhan tidak berasas terhadap Syiah yang hanya akan menimbulkan perpecahan dan kebencian dalam kalangan umat Islam.

Mereka menuduh Syiah berkomplot bersama Yahudi,  menganggap Islam Sunni sebagai anjing, mengamalkan penipuan, dan tuduhan lain yang mengapi-apikan yang boleh menimbulkan kebencian Islam Sunni terhadap saudara Syiah mereka. Kenyataan provokasi seperti itu jelas melanggar perintah Allah swt: Berpegang teguhlah dengan tali Allah dan janganlah kamu berpecah belah antara kamu... [Surah Al Imran 3:103].

Siaran TV yang mengutuk Syiah menjejaskan inisiatif yang diambil untuk menggalakkan pemahaman yang lebih luas antara mereka dan kita golongan Sunni dalam usaha untuk menguatkan perpaduan Islam selaras dengan pengajaran al Quran.

Pada Julai 2005, berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh 24 ulamak kanan (termasuklah Sheikh Al Azhar, Ayatollah Sistani dan Sheikh Qaradawi), Raja Abdullah II dari Jordan telah menganjurkan satu persidangan Islam antarabangsa yang dihadiri oleh 200 sarjana Islam terkemuka dunia dari 50 negara yang telah mengeluarkan fatwa berikut:

•    Sesiapa sahaja yang patuh kepada salah satu daripada empat Usuluddin Islam mazhab Sunni (Hanafi, Maliki, Shafei dan Hanbali), dua Usuluddin Islam mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaydi), Usuluddin Islam  mazhab Ibadi dan Usuluddin Islam mazhab Thahiri adalah seorang Islam. Mengisytiharkan seseorang itu sebagai murtad adalah mustahil dan tidak dibenarkan.

•    Terdapat lebih banyak persamaan antara pelbagai mazhab Usuluddin Islam berbanding dengan perbezaan antara mereka. Pengikut lapan mazhab Usuluddin  Islam ini bersepakat dalam perkara prinsip asas Islam.

•    Semua percayakan Allah (Tuhan), dimuliakan dan ditinggikan, esa dan unik; al Quran itu suci dan wahyu yang dipelihara dan dilindungi oleh Allah, dimuliakan serta tiada sebarang perubahan dan pindaan; dan Muhammad s.a.w adalah Rasul dan Nabi untuk semua manusia.

•    Semua bersetuju mengenai lima rukun Islam: mengucap dua kalimah syahadah; solat; mengeluarkan zakat; berpuasa di bulan Ramadan dan menunaikan haji ke Mekah. Semua bersepakat mengenai rukun Iman: percaya kepada Allah, Malaikat, Al Quran, Rasul, Hari Kiamat dan Qada dan Qadar.

•    Ketidaksepakatan antara ulama antara lapan mazhab Usuluddin Islam itu hanya pada cabang agama (furu) dan beberapa asas (usul) [agama Islam]. Ketidaksepakatan tentang  cabang agama (furu) adalah satu rahmat. Lama dahulu dikatakan bahawa kepelbagaian pendapat dalam kalangan ulama adalah satu rahmat.

Fatwa itu diterima dengan sebulat suara di sidang kemuncak Pertubuhan Kerjasama Islam di Mekah pada Disember 2005 dan oleh enam perhimpunan ulama Islam antarabangsa lain, kemuncaknya dengan Akademi Fekah Islam Antarabangsa yang berpusat di Jeddah pada Julai 2006. Jumlahnya, lebih 500 ulama Islam terkemuka dari seluruh dunia menerima dengan sebulat suara fatwa dan Mesej Amman. [Kunjungi laman sesawang rasmi Mesej Amman (Amman Message) untuk senarai lengkap mereka yang menerima fatwa itu].

Resolusi 152 Akademi Fekah Islam Antarabangsa, Islam dan Satu Ummah, dan mazhab Usuluddin  Islam, menyeru supaya diketepikan ketidaksepakatan antara orang Islam, menghormati antara satu sama lain, menguatkan hubungan persaudaraan dan tidak membenarkan perpecahan dan campurtangan luar.

Ia menasihatkan pengajaran fekah berkaitan perpaduan Islam kepada pelajar sekolah menengah dan universiti. Ia menyarankan pihak berkuasa berkaitan di negara Islam mengambil langkah untuk mencegah percetakan, penyebaran dan pengedaran penerbitan yang menambahkan lagi perpecahan ummah.

Resolusi 152 juga menekankan jangan menyalahkan mana-mana lapan mazhab Usuluddin Islam kerana  tindakan yang salah daripada pelampau seperti membunuh mereka yang tidak bersalah, menjatuhkan maruah dan merampas harta mereka. Terdapat elemen pelampau dalam kalangan Syiah dan Sunni yang di beberapa negara menggunakan kekerasan, malah kadangkala di dalam masjid sendiri.

Elemen seperti ini perlu didedahkan dan diasingkan kerana ia menyemai perpecahan dalam kalangan umat Islam dan  memperburukkan lagi Islam. Dialog antara Syiah dan Sunni mestilah digalakkan dan disuburkan, dan sebarang perbincangan mengenai perbezaan mestilah dibincangkan dalam suasana persaudaraan.

Imam Khomeinie berpesan kepada golongan Syiah yang mengerjakan Haji agar tidak mengasingkan diri mereka daripada orang Islam yang lain.

Beliau menasihati jemaah Haji: “Rakyat Iran dan golongan Syiah dari negara lain dikehendaki untuk mengelakkan semua tindakan yang boleh menimbulkan perpecahan sesama umat Islam. Mereka juga perlu menyertai perhimpunan Sunni dan mengelakkan menghadiri atau membentuk solat di rumah atau memasang pembesar suara untuk menentang mereka. Mereka mestilah mengelakkan daripada melutut di makam suci atau melakukan apa sahaja yang tidak selaras dengan undang-undang yang mulia.”

Kita perlu menyedari bahawa konflik mazhab sebenarnya digalakkan oleh kuasa Barat yang mahu mengenakan hegemoni mereka ke atas umat Islam dan mengawal sumber di negara Islam. Pecah dan perintah telah menjadi dasar mereka sejak berakhirnya Perang Dunia Pertama.
Mereka menipu pemerintah Arab supaya menyokong perang mereka terhadap Khilafah Usmaniyah dengan menjanjikan kemerdekaan bagi tanah Arab, tetapi selepas mengalahkan Turki, Britain dan Perancis membahagikan wilayah antara mereka dan menubuhkan Israel dan Arab Saudi.

Kita dapat melihat ulangan dasar yang sama di Iraq, Lebanon dan Pakistan. Kuasa penjajah berusaha untuk memecahkan negara ini melalui mazhab dan suku kaum; menghasut negara Arab ‘Sederhana’ menyertai Amerika Syarikat dan Israel bagi memusnahkan Hisbullah di Lebanon, Hamas di Palestin dan melakukan pertukaran rejim di Iran.

Amat dikesalkan sekali, beberapa ulama membenarkan diri mereka digunakan sebagai alat oleh penjajah dan pemerintah-pemerintah bagi mewujudkan perpecahan dalam kalangan umat Islam.

Kita perlu memberi perhatian kepada amaran yang diberikan oleh Imam Khomeini lebih 25 tahun yang lalu: “Tangan kotor yang memburukkan perbezaan antara Syiah dan Sunni bukanlah terdiri daripada golongan Syiah dan Sunni.

Ia merupakan tangan penjajah yang merancang untuk membawa keluar negara Islam daripada tangan kita. Kuasa penjajah yang mahu merampas kekayaan kita melalui pelbagai skim dan konspirasi adalah mereka yang melahirkan rancangan untuk mewujudkan perpecahan di antara fahaman Syiah dan Sunni.”

Kami merayu kepada anda agar memainkan peranan proaktif dalam menggalakkan perpaduan dalam kalangan umat Islam dan memberikan publisiti yang meluas kepada Mesej Amman dan Resolusi 152 Akademi Fekah Islam Antarabangsa.

Anda juga perlu menghasilkan program berhubung sejarah asal cabaran yang dihadapi oleh umat Islam terutama sekali Balkanisasi dan penjajahan Barat di Semenanjung Arab selepas Perang Dunia Pertama. Kami juga menyarankan supaya penerbit rancangan anda mengkaji The Unmaking of the Middle East oleh Jeremy Salt dan The Ethnic Cleasing of Palestine oleh Ilan Pappe dan menghasilkan rancangan berdasarkan karya itu.

Bersama ini saya sertakan dokumen untuk maklumat anda dan menyebarkannya kepada penerbit rancangan TV Al Hijrah:

1.    The Amman Message

2.    Resolution 152 of the International Islamic Fiqh Academy

3.    Ahmed Deedat on Iran: A nation Reborn

4.    Qaradawi and Shia-Sunni dialogue

Kami percaya bahawa anda akan memberikan pertimbangan yang sewajarnya terhadap ulasan dan saranan dengan niat untuk menjadikan Al Hijrah sebagai saluran TV yang benar-benar Islam.

Jawapan awal daripada pihak tuan amat dialu-alukan. 

Terima kasih.


Yang benar,
S.M Mohamed Idris
Pengerusi, Citizens International