Showing posts with label Sosial/Politik/Ugama. Show all posts
Showing posts with label Sosial/Politik/Ugama. Show all posts

Friday, March 11, 2011


Habis 240K untuk dapatkan RM500! Gila amende?

Oleh Saiful Bahri
KUALA LUMPUR--Judi memang membuat ketagihan. Seorang perempuan warga negara Singapura diketahui memenangi RM500 di meja judi. Namun bukan wang hasil kemenangan judinya yang dihebohkan. Tapi berapa banyakkah ia mengeluarkan wang untuk memenangi perjudian tersebut. Si perempuan yang sudah berkeluarga ini terpaksa menghabiskan wang poketnya sebanyak RM240 ribu ringgit hanya untuk mendapatkan hadiah RM500!


Perempuan yang identitinya itu dirahasiakan ini, padahal berpendidikan tinggi. Beliau memiliki dua gelaran master. Ia terjerumus dalam tahi judi. Setelah wang pertaruhan awalnya habis, ia menggunakan seluruh wang simpanannya sebagai pertaruhan bahkan meminjam sana-sini untuk bertaruh.

Sekarang, perempuan itu kebimbangan. Ia takut suaminya tahu berapa banyak hutang yang ia telah buat. Ia juga tak berani melaporkan kepada keluarganya. Ia kini mencari penderma sukarela yang mau meminjamkan wang untuk mebayar hutang piutangnya. "Suami saya bakal menceraikan saya kalau ia tahu masalah judi ini," katanya.

Peranan Kerajaan adalah memberi perlindungan kepada rakyatnya daripada manipulasi golongan kaya atau sesiapa yang mengambil kesempatan terhadap rakyatnya. Hakikat yang harus diterima, apabila Kerajaan Kelantan menghalang perjudian adalah kerana kebanyakan rakyat yang terlibat dengan judi adalah menjadi mangsa kepada taukey-taukey judi yang berkepentingan. Ia akan mengakibatkan penyakit sosial lain pula jika ia dibiarkan. Timbulnya krisis rumah-tangga, kecurian, perbalahan dan sebagainya akibat daripada ketagihan judi. Kenapa UMNO gagal memainkan peranan ini? Bahkan UMNO berjaya melahirkan tokoh-tokoh melayu dalam pengurusan dan industri judi ini... Ia menjadi industri yang menguntungkan dan memberi pulangan lumayan.
Inilah sebab kenapa MCA & UMNO berusaha sangat untuk mengembangkan judi diseluruh Negara bahkan menjadikan kes judi di Kelantan sebagai isu. Apakah kerana UMNO sakit hati apabila bantahan PR terhadap usaha UMNO untuk meluluskan judi bola menemui kegagalan? Bukankah kita sudah tahu bahawa tokoh pemeras Negara adalah dikalangan taukey judi. Tokoh billionair pun dari kalangan taukey judi. Mereka mendapat lesen daripada kemeterian kewangan? Siapa Menteri mereka dari zaman berzaman? Bukankah UMNO?

UMNO juga tahu bahawa penderma tegar kepada denyut-nadi UMNO adalah taukey judi inilah yang akan menjadi sponsor pilihanraya nanti. Sebab itu apalah nak diharapkan kepada UMNO untuk mentarbiyyah rakyat Malaysia untuk menjauhi judi? Sedang nyawa UMNO itu didenyutkan dengan darah-daging judi?

Ish macamana Tok-Tok Imam dan Ustaz lepasan Azhar boleh sokong Parti kayu keramat ni?

Tuesday, March 1, 2011

Waduh-waduh....Harta Negara Dibagi-bagi Anak-beranak Sih?

WikiLeaks: Beginilah Cara Keluarga Saudi Habiskan Uang

WikiLeaks: Beginilah Cara Keluarga Saudi Habiskan Uang
TRIBUNNEWS.COM – Kekayaan keluarga kerajaan Arab Saudi memang selama ini menjadi misteri. Namun kabel dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Amerika Serikat (AS) yang dibocorkan WikiLeaks menjadi titik terang apa yang sebenarnya terjadi di kerajaan tersebut.
Untuk mendapatkan tunjangan per bulan, disusun berdasarkan urutan dalam keluarga. Yang mendapatkan tunjangan itu adala pangeran dan putri kerajaan yang jumlahnya ribuan. Mekanisme pemberian uang itu sesuai dengan sistem anggaran per bulan.
Uang ini diatur oleh Kementerian Keuangan Negara Arab Saudi khusus membidangi “Aturan dan Keputusan”. Kantor ini bertindak membagikan jatah bualanan sejak pertengahan tahun 1990-an yang paling rendah adalah 800 dollar AS per bulan (Rp 7,2 juta) hingga 200 ribu dollar AS-270 ribu dollar AS per bulan (Rp 1,8 miliar-Rp 2,4 miliar) dan uang ini diberikan ke satu dari sejumlah anak laki-laki Abdul-Aziz Ibn Saud, pendiri kerajaan Arab Saudi modern.
Cucu keluarga kerajaan mendapatkan tunjangan bulanan sebesar 27 ribu dollar AS ( Rp 254 juta). Sedangkan cucu buyut kerajaan menerima uang tunjangan 13 ribu dollar AS (Rp 118 juta) dan cicit kerajaan mendapatkan 8.000 dollar per bulan (Rp 72 juta).
“Bonus pembayaran juga diberikan jika mereka menikah dan menggunakan gedung kerajaan,” demikian isi kabel tersebut. Biaya yang jor-joran ini menghabiskan 40 miliar per tahun (Rp 360 triliun) dan beberapa tahun di antaranya mencapai 2 miliar dollar AS (Rp 18 triliun). Bahkan, uang saku sudah diberikan saat satu orang anggota keluarga kerajaan baru saja lahir.

Wednesday, February 23, 2011

Rezeki Kecil, Tapi Masih hidup Aman...Allahu Akbar!!


JAKARTA, RIMANEWS — Yanti (34) harus benar-benar pandai menghemat dalam urusan kebutuhan pokok keluarganya. Dalam urusan nasi, misalnya, Yanti harus bisa mengirit agar dalam satu hari tak lebih dari 1 liter beras yang dimasak bagi keluarganya. Lauknya pun sangat sederhana, bahkan terkadang hanya kerupuk dan kecap.
Begitu juga dengan kebutuhan susu bubuk. Yanti dengan terpaksa harus tega membatasi pemberian susu bagi anaknya yang masih berusia di bawah lima tahun cukup satu kotak isi 500 gram untuk tiga hari.
”Sebetulnya tidak tega harus membatasi susu buat si kecil. Namun, kalau tidak berhemat, berarti kami harus berutang karena penghasilan suami saya sebagai kuli Pelabuhan Tanjung Priok sudah pas-pasan,” kata Yanti.
Begitulah gambaran sebagian besar keluarga kuli Pelabuhan Tanjung Priok di Kompleks Yuka, Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara. Mereka hidup dalam keterbatasan ekonomi karena upah suami mereka sebagai kuli pelabuhan sangat minim.
Namun, dalam keterbatasan itu mereka mampu membangun harmoni dan kebersamaan untuk mengatasi kesulitan hidup. Bahkan, di antara keluarga kuli tersebut malah saling berbagi pekerjaan di pelabuhan. Selain itu, mereka juga berbagi jatah beras untuk rakyat miskin (raskin) kepada rekan mereka yang tidak mendapatkan jatah karena masalah administrasi.
Tidak memadai
Upah sebagai kuli bongkar muat pelabuhan memang jauh dari memadai. Mereka hanya diberi upah Rp 70.000-Rp 80.000 untuk waktu kerja selama 12 jam dalam sehari. Peluang penghasilan itu pun belum tentu mereka dapatkan setiap hari. Mereka rata-rata hanya bisa mendapatkan pekerjaan dua sampai tiga hari dalam seminggu, bergantung pada kedatangan kapal.
Bisa dibayangkan penghasilan mereka dalam sebulan, hanya berkisar Rp 750.000. Itu pun harus mereka sisihkan sebesar Rp 300.000 per bulan untuk sewa rumah berukuran 3 meter x 3 meter di kawasan perumahan pekerja di Pelabuhan Tanjung Priok, Kompleks Yuka. Hal itu karena sebagian besar dari para kuli tersebut merupakan generasi kedua setelah orangtua mereka yang bekerja sebagai kuli pelabuhan.
Dengan sisa penghasilan sekitar Rp 450.000 itu mereka harus menanggung hidup istri beserta anak-anak mereka. Rata-rata para kuli memiliki dua sampai empat anak.
Wasnim (35), salah seorang kuli, mengaku, penghasilan sebesar itu sama sekali tak bisa memenuhi kebutuhan hidup.
Apalagi harga semua barang kebutuhan terus merangkak naik. Contohnya beras kualitas biasa saja mencapai Rp 7.000 per liter dan harga beras kualitas paling rendah Rp 5.000 per liter.
Untuk raskin pun, menurut Wasnim, kini dibatasi karena masalah administrasi. Tahun lalu, di lingkungan RT 03 RW 08 dijatah 25 paket raskin. Namun, sekarang hanya dijatah 14 paket raskin.
Sebagai ketua RT setempat, Wasnim harus mencari akal agar raskin tersebut bisa dibagikan secara adil kepada para keluarga kuli di lingkungannya. Solusinya, ia membagi jatah raskin tersebut kepada 25 keluarga kuli yang tergolong keluarga miskin sebanyak satu kali dalam dua bulan untuk setiap keluarga.
”Raskin ini cukup menolong karena harganya murah, Rp 10.000 untuk 5 kg. Padahal, harga beras paling murah di pasar sudah Rp 5.000 per liter,” katanya.
Saling berbagi
Saling berbagi juga dilakukan di antara para kuli untuk memperoleh kesempatan bekerja di pelabuhan. Supriyadi (38), misalnya, mengaku, tak jarang harus meminta bantuan kawan-kawannya agar diberi kesempatan bekerja sebagai kuli bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok.
”Saya pun begitu. Kalau ada teman meminta pekerjaan, saya akan bantu mencarikan pekerjaan. Kalau tidak saling bantu, kami tidak bisa hidup,” ungkapnya.
Para istri kuli itu pun tak kurang akal untuk menyiasati keterbatasan penghasilan suami mereka guna memenuhi kebutuhan hidup. Sebagian besar dari mereka ikut bekerja sebagai penjahit barang cendera mata pernikahan yang diambil dari seorang perajin.
Untuk setiap 100 potong, mereka diupah Rp 3.000. Namun, karena pesanan membuat cendera mata itu terbatas, di antara para istri kuli itu hanya bisa mendapatkan pesanan maksimal 4.000 potong per bulan dengan total upah Rp 120.000.
Begitu juga yang dilakukan Yanti setiap hari. Kalau kebetulan pekerjaan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok tidak ada, suaminya pun ikut membantunya menjahit. ”Kalau ikut dibantu suami, lumayan hasilnya bisa lebih sedikit,” katanya.
Namun, bagi sebagian keluarga kuli lain, kesempatan bekerja lebih baik tetap diharapkan. Apalagi risiko bekerja sebagai kuli pelabuhan tak kecil. Wasnim mengaku pernah terhantam rantai kontainer sehingga dadanya memar. Untuk mengobati lukanya, ia hanya memilih salep gosok untuk mengurangi memar.
Bekerja sebagai kuli pelabuhan pun, menurut Wasnim, juga harus meningkatkan kewaspadaan. Tak jarang, peti kemas berukuran besar itu jatuh dari cengkeraman alat berat. ”Saya pernah nyaris tertimpa kontainer. Kalau saya tidak hati-hati dengan terus mengamati gerakan alat, nyawa saya setiap saat bisa terancam,” tutur Wasnim.
Para kuli itu pun mengakui, pekerjaan sebagai kuli pelabuhan sama sekali tidak memberikan harapan. Dedi (32), Maret nanti, rencananya akan merantau ke Sulawesi untuk bekerja sebagai kuli bongkar muat dengan upah lebih dari Rp 2 juta per bulan. Untuk sementara, Dedi akan menitipkan anak dan istrinya ke rumah orangtuanya di Kompleks Yuka. ”Kalau tetap bertahan di Tanjung Priok, nasib saya tak akan berubah.”
Mereka seperti terperangkap dalam ruang waktu tak berujung. Ironinya, lingkungan miskin ini seperti tak tersentuh oleh penguasa, padahal jarak antara kampung mereka dan Istana Negara serta Balaikota DKI Jakarta hanya 17 kilometer.
p/s: Rp1,000=RM0.35

Friday, February 18, 2011

Anak sapa lah ni??


















Syabas buat perempuan ini kerana berani berpakaian menjolok mata dan bergambar sambil memegang gelas wine, jika beliau adalah rakyat marhaen seperti kita sudah pasti akan menerima nasib seperti Kartika.. Tetapi kerana keluarganya kaya raya mereka tidak tertakluk kepada undang-undang..
Syabas! Untuk Elia Geneid [drinking wine elia], anak saudara Ketua Menteri Abdul Taib Mahmud yang juga anak perempuan kepada Raziah Mahmud.

Elia kelihatan berani menampilkan diri di khalayak ramai, walaupun dia seorang Muslimin, bergambar sambil memegang segelas bir atau menikmati champagne, di mana Muslimin yang lain pula pasti akan dikenakan hukuman sebatan jika berbuat demikian!

(Gambar: Elia (kanan) begitu yakin berpakaian semahunya, selain dipercayai meneguk arak secara terbuka)


Sarawak Report .... meragui kenapa Elia dan rakan-rakan seagamanya berani beraksi untuk juru-juru gambar? Kita dapat simpulkan bahawa keberanian seperti itu wujud dari dalam keluarga mereka, di mana keluarga-keluarga Islam dari golongan kebanyakannya tetap mendidik anak-anak mereka untuk hidup dan bertindak sebagaimana dituntut oleh agama Islam.

Selain bergelumang dengan alcohol, Elia juga berani berpakaian menjolok mata di khalayak ramai dan bukannya berpakaian menutup aurat seperti yang diharapkan oleh wanita-wanita Islam yang lain dan juga golongan lelaki yang mentadbir kerajaan BN, termasuk juga bapa saudaranya, Taib Mahmud.




Umat Islam, khasnya kaum Muslimin di Malaysia pernah dikejutkan oleh suatu kes di mana seorang model Muslim yang pernah ditahan kerana meminum bir di sebuah restoran hotel tetapi kemudian telah dikecualikan dari hukuman sebatan, tetapi, sebaliknya tidak bagi Elia.

Mungkin Taib sekeluarga selalu memikirkan bahawa mereka berada di atas undang-undang, di mana mereka menggubal undang-undang hanya untuk dikenakan ke atas orang lain.

Kami ingin mencadangkan kepada Taib untuk membuat pertimbangan sewajarnya bagaimana beliau harus mendidik ahli-ahli keluarganya, meneladani kes Kartika Sari Dewi Shukarno. Elia, seperti mana yang kita ketahui pada entri terdahulu merupakan pewaris kepada harta yang bernilai berjuta-juta ringgit yang diterimanya daripada bapa saudaranya Taib, dalam bentuk tanah-tanah yang dirampas dari orang-orang asal. Justeru itu, Elia sudah pastinya telah melanggar undang-undang.

Pakcik Taib, kami ada menyimpan banyak lagi gambar yang menunjukkan ahli-ahli keluarga pakcik yang menunjukkan mereka berpakaian menjolok mata, gelas-gelas alkohol, barangan-barangan kemas mereka, walaupun pakcik sering berkhutbah sebagai seorang Muslim (mengalahkan seorang imam), tetapi akan menyebabkan mereka merasa marah terhadap pakcik.


Sarawakreport

Thursday, February 17, 2011

Kes Tembak UPP Kelantan: Ada 2 Versi!

Kisah Sebenar Tragedi Anggota UPP Pukul Warga Emas Sampai Mati, Tembak Remaja Di Kelantan


Malang menimpa seorang warga emas berumur 56 tahun di Pengkalan Kubur. Beliau dipukul sampai mati tanpa belas kasihan oleh 4 orang anggota UPP manakala seorang remaja berusia 19 tahun yang menjadi saksi kejadian ditembak sebanyak 2 kali, 1 tembakan di dada & 1 tembakan diperut.

Berita pertama keluar di RTM 1 jam 5 petang tadi, dilapor "pihak berkuasa berjaya mematahkan sindiket penyeludupan beras TERBESAR di Kelantan" sedangkan ketika berita itu disiarkan, bedah siasat pada mayat Pakcik Sa'aid masih belum dimulakan lagi, dan pada jam 11.00 malam tadi baru selesai.

TPU (Topeng Perak Unmasked)
yang sempat menziarahi rumah keluarga Arwah Pakcik Sa'aid mendapati keadaan rumah keluarga Arwah agak uzur. Timbul persoalan bagaimana boleh seorang penyeludup beras TERBESAR tinggal di rumah sendiri yang hampir runtuh..?

Persoalan kedua yang timbul pula ialah mengapa saksi utama kejadian, seorang remaja berusia 19 tahun ditembak..?

Tragedi berdarah ini berlaku pada pagi tadi pada lebih kurang jam 8.00 pagi. Pakcik Sa'aid telah ditahan oleh 4 orang anggota UPP dan selepas itu telah dipukul sehingga meninggal dunia. Semasa anggota UPP memukul pakcik Sa'aid, sorang anak saudaranya telah lalu berdekatan tempat kejadian dan telah lihat apa yang berlaku. Lalu dia pulang ke rumah untuk melaporkan kejadian yang berlaku. Ini menyebabkan orang kampung yang mengenali Pakcik Sa'aid menjadi marah dan kemudiannya mereka berkumpul lalu pergi ke Hospital Kelaboran.

Sebaik tiba di Hospital, kelihatan 4 orang UPP yang memukul Pakcik Sa'aid turut berada di sana, remaja itu terus menunjukkan kepada orang kampung - " Inilah anggota UPP yang pukul Pakcik Sa'aid,". Orang kampung yang marah cuba untuk mendapatkan penjelasan mereka, bagaimanapun 3 orang anggota UPP itu terus melarikan diri. Manakala sorang anggota UPP yang telah terkepung terus melepaskan 2 das tembakan pada dada dan perut remaja itu.

Keluarga arwah mengakui perbuatan Pakcik Sa'aid itu menyalahi undang-undang, tetapi apa perlunya membelasah orang tua berusia 56 tahun sehingga mati..?. Adakah negara ini tiada undang-undang?

Atau pihak berkenaan mahu rakyat Malaysia turun di jalanan seperti di Tunisia & Mesir. Jangan lupa pemberontakan rakyat Tunisia bermula apabila seorang pemuda lulusan ijazah berniaga buah tanpa permit, lalu dia ditahan polis dan barangannya dirampas. Pemuda ini bertindak membakar diri kerana membantah dan dia akhirnya meninggal dunia. Permulaan inilah yang memercikkan api kebangkitan rakyat yang menukar lanskap politik Tunisia.

Adakah Malaysia mahu menjadi seperti di Tunisia?

Remaja Cedera Ditembak Semasa Serang Anggota UPP
TUMPAT: Seorang remaja cedera parah setelah ditembak ketika beliau bersama sekumpulan lelaki menyerang empat anggota Unit Pencegahan Penyeludupan (UPP) di perkarangan Hospital Tumpat, di sini, Rabu.
Remaja berumur 19 tahun itu parah akibat terkena dua tembakan di bahagian rusuk kanannya dalam kejadian pada kira-kira pukul 9.20 pagi, selepas ditembak semasa menyerang anggota UPP kerana menyangka saudaranya, Said Mat Hassan, 56, maut akibat dikasari anggota UPP berkenaan, kira-kira satu setengah jam sebelumnya.
Ketua Polis Kelantan, Datuk Abdul Rahim Hanafi berkata, dalam kejadian kira-kira pukul 7.45 pagi, Said ditemui anggota UPP dalam sebuah kereta Kancil di tepi jalan di Kampung Wakaf Tin di sini dalam keadaan lemah, berwajah pucat serta mulutnya berbuih.
"Melihat keadaan Said yang tenat, anggota UPP membawanya ke Hospital Tumpat untuk mendapat rawatan. Said disahkan meninggal dunia sebaik tiba di hospital itu," katanya kepada pemberita di sini.
Beliau berkata, Said ditemui oleh empat anggota UPP berpakaian preman yang sedang menjalankan rondaan di kawasan itu, dan anggota UPP itu turut menemui 20 guni beras siam dalam kereta berkenaan.
Abdul Rahim berkata selepas menghantar Said ke hospital, ke empat-empat anggota UPP itu pergi minum di sebuah kedai makan berdekatan hospital berkenaan, dan tiba-tiba lima kenderaan dinaiki sekumpulan lelaki berhenti di hadapan mereka.
"Beberapa lelaki bersenjatakan cota terus meluru dan menyerang keempat-empat anggota UPP. Akibat serangan bertubi-tubi, salah seorang anggota UPP melepaskan satu das tembakan amaran ke udara," katanya.
Beliau berkata tembakan itu tidak diendahkan kumpulan tersebut, dan anggota UPP itu terpaksa melepaskan lagi tembakan bagi melindungi diri, yang mengenai remaja berkenaan.
Katanya, remaja itu kemudian dibawa ke Hospital Tumpat untuk mendapatkan rawatan, bagaimanapun dia terpaksa dirujuk ke Hospital Raja Perempuan Zainab II (HRPZ II) di Kota Baru kerana keadaannya yang parah.
Beliau berkata keempat-empat anggota UPP yang cedera dirawat sebagai pesakit luar di Hospital Tumpat.
Abdul Rahim berkata, pihaknya sudah mengambil keterangan daripada kedua-dua pihak bagi membantu siasatan mengikut Seksyen 148 Kanun Keseksaan kerana merusuh, dan siasatan juga akan dilakukan mengikut Seksyen 37 Akta Senjata Api serta Seksyen 427 Kanun Keseksaan.
Ibu remaja yang ditemui di Hospital Raja Perempuan Zainab II Kota Baru di sini berkata, beliau terkejut apabila melihat anaknya rebah berlumuran darah akibat ditembak di depan matanya.
Katanya, ketika itu dia ke Hospital Tumpat untuk menziarahi jenazah Said. - BERNAMA

Wednesday, February 16, 2011

BATALKAN KP DAN KERAKYATAN PATI





















                    Oleh: MAIL MATHEW
NAIB PRESIDEN Parti Maju Sabah (SAPP), Jimmy Jawatah menggesa Menteri Dalam Negeri, Dato’ Seri Hishamuddin agar segera menyelesaikan isu tertunggak projek pemberian kad pengenalan kepada pendatang asing tanpa izin (PATI) kerana selagi tidak diselesaikan secara mutlak, ia merupakan ‘ibu segala masalah jenayah’ di Sabah; malah akan menjadi lebih parah jika keadaan sedemikian berterusan.
Lagi pun tegas Jimmy, masalah tersebut sudah menjangkau lebih 20 tahun berterusan begitu sahaja, namun pihak terbabit seperti KDN sekadar mampu ‘menyibuk’ terutama sekali bila Pilihanraya umum semakin hampir, tetapi hasilnya kosong kerana tidak ada keseriusan tindakan dilakukan. Apa yang jelas aksi pihak terbabit boleh diibaratkan sebagai ‘lips service’ semata-mata.
“Segala-galanya ibarat bola penyelesaian kepada masalah Sabah ada di tangan Hisyamuddin kerana beliau boleh melakukannya pada bila-bila masa sahaja jika benar-benar ikhlas dan telus untuk membantu menyelesaikan masalah yang menghantui rakyat Sabah lebih 20 tahun lalu. Apa lagi bukti lain yang perlu diminta Hisyam, sedangkan Ahli Parlimen Malaysia (Tuaran), Wilfred Mojilip Bumburing telah serahkan memorandum berhubung projek pemberian kad pengenalan dan kerakyatan kepada PATI sebagai bukti dakwaan itu,” tegas Jimmy.
Tegas Jimmy lagi, tindakan Bumburing menggesa Kerajaan Pusat khususnya KDN supaya menubuhkan Suruhanjaya Siasatan Di-Raja untuk menyelesaikan masalah imigran di Sabah, merupakan suatu langkah terbaik yang wajar disambut dengan baik dan bukan menolak; sebaliknya harus mengambilkira pelbagai aspek, khususnya dari segi kedaulatan dan keselamatan rakyat Sabah.
Beliau mengambil contoh apa yang berlaku baru-baru ini, apabila seorang peniaga warga Filipina, Datu Akjan Datu Ali Muhammad yang mempunyai dua kerakyatan menabalkan dirinya menjadi pewaris Kesultanan Sulu; tetapi dalam masa yang sama memiliki kerakyatan di Filipina dan mempunyai Kad Pengenalan Malaysia.
Tindakan Akjan itu, seolah-olah mempersendakan undang-undang yang sedia ada di negara ini dengan begitu mudah baginya mendapatkan Kad Pengenalan sedangkan Akjan mendakwa beliau adalah rakyat Filipina dan pewaris kepada Sultan Sulu.
“Disebabkan kelemahan kerajaan pusat, khususnya KDN menjadikan pemilikan Kad Pengenalan dan kerakyatan negara ini boleh diperolehi dengan jalan mudah, malah selepas Datu Akjan mengistiharkan dirinya sebagai Sultan Sulu, sudah tentu rakyat Filipina yang memiliki Kad Pengenalan yang jumlahnya ratusan ribu akan mengikrarkan ketaatan diri mereka kepada Akjan dan selepas itu apa akan terjadi kepada keselamatan di Sabah?” tanya Jimmy.
Mungkin juga masih belum terlambat tambah Jimmy, jika Hishamuddin mengubah haluan terhadap keputusannya sebelum ini dan membatalkan sahaja pengeluaran Kad Pengenalan dan kerakyatan kepada PATI berkuatkuasa serta merta.
“Mungkin itulah satu-satunya jalan penyelesaian masalah tersebut sebelum ia menjadi parah. Hishamuddin merupakan sandaran bagi penyelesaian mutlak terhadap segala galanya. Jika Hishamuddin masih berkeras juga maka sudah tentu rakyat akan menyalahkan beliau sebagai dalang penyiksaan kepada rakyat di bumi Sabah sepanjang hayat,” jelas Jimmy.
(sabahkini.net)

KONSEP PAYUNG ATAU KONSEP BOHONG?





















                Saudara Pengarang,
SETELAH terbaca berita mengenai pasangan kekasih yang dirompak oleh tiga lelaki bertopeng di Bandar Grandview pada Hari Valentine, iaitu dua hari lalu, berita berkaitan Couple Robbed Of Handbag In Sandakan, saya ingin memberikan gambaran yang lebih jelas apa yang sebenarnya berlaku.
Setahu saya, sebelum pasangan kekasih ini dirompak, dua orang lagi rakan saya yang hampir-hampir menjadi mangsa kerana difahamkan pada hari yang sama juga, kira-kira jam sembilan malam, semasa mereka mahu melalui hadapan Kedai Celcom Bandar Grandview, mereka mendapati ada tiga orang lelaki yang duduk di kaki lima dalam keadaan meragukan dan mencurigakan.
Tiba-tiba sahaja tiga orang lelaki itu meluru ke arah mereka. Mujur kereta mereka terletak berhampiran, jadi sempat untuk mereka memasuki kereta, namun salah seorang daripada perompak tersebut cuba untuk membuka pintu kereta mereka dengan cuba memecahkan cermin dengan kepala tali pinggangnya.
Dalam keadaan terkejut dan hampir trauma, dua rakan saya yang hampir menjadi mangsa tersebut dengan pantas memecut laju kereta mereka dari tempat kejadian menuju ke Balai Polis yang berhampiran untuk meminta tolong, tetapi apabila sampai di Balai Polis tersebut, mereka diberitahu oleh seorang polis wanita bahawa mereka perlu ke Balai Polis yang terletak di Pusat Bandar untuk membuat laporan polis.
Pada masa itu, rakan saya menelefon 999 untuk meminta polis peronda untuk pergi ke tempat kejadian kerana yakin perompak tersebut masih berada di tempat kejadian atau berhampiran, namun tiada tindakan diambil. Difahamkan kejadian berlaku kira-kira pukul 9 malam dan hanya pukul 10 malam barulah kereta peronda polis baru tiba di tempat kejadian. Apakah kereta peronda ini datang dari Beluran?
Semasa di Balai Polis pusat Bandar, mereka terpaksa menunggu hampir satu jam sebelum laporan mereka dilayan. Ketika mereka hendak meninggalkan balai polis, lebih kurang jam 11 malam, datanglah sepasang kekasih yang dinyatakan dalam surat khabar yang dirompak setelah menjamu selera di X.O Restaurant.
Jika pihak polis dapat mengambil inisiatif dan bertindak segera setelah dimaklumkan kepada polis, saya percaya pasangan kekasih tersebut mungkin tidak akan dirompak.
Selain itu, sebagai pembayar cukai yang membayar gaji polis, saya turut kesal kerana dengan sikap sambil lewa polis kerana difahamkan tiga orang perompak tersebut, yang diyakini PATI, sebelum ini telah cuba merompak seorang perempuan dekat dengan Restoran Heng Loong di Pasaraya, Batu 4 semasa Perayaan tahun Baru Cina dengan modus operasi yang sama; iatu menggunakan kepala talipinggang untuk memecahkan cermin kereta, namun gagal kerana perempuan tersebut sempat membunyikan hon dan menarik perhatian orang ramai dan menakutkan perompak tersebut sehingga mereka melarikan diri.
Apakah pihak polis Sandakan begitu sukar menangkap tiga orang perompak @ PATI tersebut yang hanya bersenjata kepala talipinggang? Sudah 12 hari perayaan Tahun Baru Cina berlalu, tetapi perompak berkenaan belum dapat dikesan?
Apakah Polis Sandakan menunggu sehingga ada yang mati atau menjadi mangsa keganasan perompak berkenaan baru mahu bertindak?
Kepada Pesuruhjaya Polis Sabah, Datuk Hamza Taib, janganlah jadi ahli politik yang berputar lidah dan mula berbohong dengan memberi janji palsu kepada orang awam melalui kenyataan beliau dalam The Borneo Post yang menyatakan dalam berita Borneo Post bertajuk Konsep ‘Payung’ Untuk Tingkat Kehadiran Polis Di Tempat Awam.
Namun sehingga ke hari ini kami tidak nampak pun Konsep tersebut diamalkan di Bandar Grandview ataupun di Pusat Bandar ataupun di Sandakan, sebaliknya hanya ‘Konsep Bohong’ yang berleluasa!
Sekian, terima kasih,
WARGA SANDAKAN YANG KETAKUTAN
(sabahkini.net)

MANA YB BN DAPAT DUIT MAIN JUDI?






















Saudara Pengarang,
MERUJUK kepada isu GRO itu saya amat setuju, tetapi saya mohon agar Sabahkini.net membuat siasatan rapi kerana banyak Adun dan Ahli Parlimen masih bermain ‘slot machine’ di beberapa ‘Club’ di Kota Kinabalu.
Mereka boleh bermain judi terytama mesin slot lebih 8 jam sehari. Saya juga hairan bagaimana mereka boleh memperolehi wang yang begiti banyak untuk berjudi kerana berdasarkan elaun dan gaji mereka hanya sekitar RM10,000 sehingga RM20,000 sebulan.
Ramai wartawan di Sabah tahu akan hal ini tetepi mereka berdiam diri dan tidak melaporkan kegiatan jalang YB-YB ini dan akhirnya mereka juga menjadi kaki jackpot dan mesin slot ketika mengintip YB mereka berjudi.
Persoalannya, siapa yang membenarkan ‘Club Jackpot’ menjalankan perniagaan melebihi masa yang ditetapkan. Apakah pihak penguatkuasa DBKK tidak tahu atau sudah berpakat demi mengaut keuntungan untuk diri sendiri?
Mengikut undang-undang Islam, judi atau seangkatan dengannya adalah HARAM di sisi Islam, tetapi kenapa majoriti YB Islam bermain judi di Kelab Eksklusif tanpa diserbu oleh pihak penguatkuasa JHEAINS dan JAKIM? Mungkinkah mereka berpakat?
Kelab-kelab Eksklusif ini turut menawarkan cabutan bertuah untuk menggalakkan orang ramai berjudi jika mereka mendapat Joker 7 dan banyak kaedah lain. Semua poster Cabutan Bertuah akan diturunkan segera jika ada makluman orang dalam penguatkuasa bahawa ada pemeriksaan mengejut.
Kelab Judi Eksklusif berkenaan kononnya diwajib ‘memuntah balik’ antara 10 hingga 20 peratus pendapatan mereka kepada pelanggan tetapi benarkan mereka memuntah balik peratusan tersebut?
Lebih dasyhat lagi, Kelab Judi Eksklusif ini menjadi ‘Syurga Along’ yang memberi pinjaman khas untuk kaki judi termasuk beberapa YB yang terpaksa melakukan amalan rasuah untuk menutup hutang judi dengan Along. Pegawai kerajaan juga tidak terkecuali menghabiskan gaji mereka dan berhutang dengan along terutama di Sadong Jaya, Kota Kinabalu.
Mengikut tinjauan kami, Kelab Eksklusif di Sabah dikuasai oleh dua kumpulan iaitu KL Group dan Sabah Group. KL Group diketuai oleh MR. LIM, lelaki bercermin mata, berperut boroi dan memandu kereta mewah.
Berikut Hasil Tinjauan Kami di Kota Kinabalu, kami menemui 17 Kelab Judi Eksklusif iaitu;
-Kawasan Sadong Jaya ada dua kelab
-Sepanjang Jalan penampang ada tujuh kelab.
-Di Putatan satu kelab
-Kawasan Damai ada dua kelab
-Jalan ke Beverly, Bundusan ada dua kelab.
-Inanam hingga Kolombong ada tiga kelab
Beranikah Sabahkini.net membuat siasatan dan membenarkan komen di Sabahkini.net kerana kami amat berharap agar Sabahkini.net boleh membantu orang kita, kerana kami juga telah menjadi mangsa, cuma malu untuk dihebahkan. Kami sudah insaf dan berazam untuk memerangi kelab judi yang DIHALALKAN oleh kerajaan untuk beroperasi atas nama Kelab Eksklusif sedangkan kegiatan kelab berkenaan 101 peratus Kasino atau Judi Jackpot atau Mesin Kuda!
Mana Unit D7 PDRM yang dipertanggung jawabkan memantau, melumpuhkan dan memastikan Sabah bebas daripada kegiatan tidak bermoral? Kawan kami ada merakam kegiatan seorang YB UMNO sedang bermain Jackpot dan bersedia memberikan rakaman tersebut kepada Sabahkini.net untuk disiarkan di SabahkiniTV.
Salam Hormat,
MANGSA JUDI
(sabahkini.net)