Sunday, May 1, 2011

Pressure rises on Putrajaya over Lynas plant


By Debra Chong


Civil groups and the public have increased their protests against the setting up of a rare earth plant in Pahang and Perak — file pic
KUALA LUMPUR, April 30 — As the federal government delays announcing an independent review panel into the controversial Lynas rare earth refinery in Pahang, another environmental group has joined the chorus for its halt. 
In a media statement today, Sustainable Development Network (Susden) of Malaysia president Muhammad Sha’ani Abdullah questioned the Barisan Nasional (BN) government on its sloppy approval of the RM700 million plant being built in Gebeng. 
“The question which comes to mind is how such investment and construction application were approved without a rigorous examination,” asked Muhammad Sha’ani, who is also a member of the Human Rights Commission of Malaysia (Suhakam). 
“Indeed how the Environmental Impact Assessment (EIA) was done and did it not trigger the authorities to investigate in details these concerns,” he added, and condemned Putrajaya for its “indifference against nature and the well-being of Malaysians”. 
He pointed to the disastrous Asian Rare Earth (ARE) refinery in Ipoh which has been blamed for the rise of cancer and birth defects in the area some 20 years ago, due to radiation pollution and toxins leaching into the ground. 
Lynas says the review will not delay the refinery’s opening scheduled for September. — file pic
Susden Malaysia also expressed alarm over the government’s decision to limit the review panel’s study to one month, despite strong opposition to the Australian mining company’s controversial RM700 million plant. 
“A one-month review on health and safety aspects is, to us, a red herring and a means to tire down as well as side track the citizen’s protests,” he said. 
“We are deeply concerned that the said independent study only came about after the initiatives from the citizens, where only then an operating license will be approved,” he added. 
Last week, International Trade and Industry Minister Datuk Seri Mustapa Mohamed announced Lynas would be barred from shipping the ore — said to contain low-levels of radioactive thorium — into the country pending the review board’s report on the health, safety and environmental impact to the state. 
Lynas can continue building its plant but it will not get a pre-operating license until the month-long independent review is complete, Mustapa added. 
The Sydney-based company, however, said the review panel will not slow the start-up of its rare earths refinery, scheduled for September. 
The Pahang Bar has called for a year-long review of the plant. 
Susden Malaysia urged the government to start acting more responsibly and be transparent by providing full disclosure on the issue of Bukit Merah and Lynas Malaysia so that citizens are informed, and gelling all the different government agencies dealing with approval guidelines as well as monitoring and safety standards. 
The non-government organisation also wants the independent review panel to include all stakeholders and table its findings before the public. 
“Our economy and development is built on our greatest treasure our natural resources and our people. This failure to ensure a sustainable path is not development but a backlash,” it said. 
The rare earths industry is key to a global switch to cleaner energy — from batteries in hybrid cars to magnets in wind turbines. 
But mining and processing the metals causes environmental harm that even China, the world’s biggest producer, is no longer willing to bear. 
China’s rare earths industry produces more than five times the amount of waste gas, including deadly fluorine and sulphur dioxide, than the total flared annually by all miners and oil refiners in the US, according to a Bloomberg report 
Civil groups have stepped up their protests against the plant, including marching on Parliament while in session, prompted by radiation leakages from Japan’s nuclear power plants last month following a massive earthquake and tsunami
.

Saturday, April 30, 2011

Tips Buat Suami!!


Mau Jadi Suami yang Baik? Bertengkarlah dengan Istri

Ada cerita menarik tentang salah seorang Khalifah Rasul yang dikenal keras, jujur, alim, dan adil, 'Umar bin Khatab r.a. Suatu ketika, Khalifah 'Umar didatangi seorang warganta. Warga itu mengadu bahwa istrinya bertabiat kasar, tidak hormat kepada suami, dan ngomel melulu. Khalifah 'Umar membawa orang itu keluar lalu mengajaknya bersalaman seraya berkata, "Kita senasib...".

Jadi, jika seorang seperti Khalifah "Umar bin Khatab r.a. saja, yang konon sangat ditakuti setan, menerima perlakuan "tidak menyenangkan" dari istrinya, apalagi kita, atau seperti Nasruddin, seperti kisah berikut:

Nasruddin bertengkar dengan istrinya suatu malam. Rupanya, dalam perang mulut itu, dia kalah dan di usir oleh sang istri. Terpaksalah dia tidur di atap loteng rumahnya. Ketika bangun, esoknya, dia masih menyangka tidur di kamarnya, dia berjalan dan....gedebuk!!! bruk!!!. Nasruddin jatuh dan menimpa seorang tetangganyayang kebetulan lewat di bawahnya. Tetangga itu terkejut.

"Hai Nasruddin! Apa-apaan kau ini?" dia tampak marah.

"Kalau mau tahu jawabannya, bertengkarlah dengan istrimu!" jawab Nasruddin kalem sambil ngeloyor.

Nasruddin betapapun cerdiknya, dia tetap laki-laki yang mempunyai kekurangan dan keterbatasan. Salah satu kekurangannya adalah dia takut kepada istrinya. Konon, Nasruddin kawin karena dipaksa dan terpaksa. Dia menikah dengan wanita yang jelek rupa dan tabiatnya, yang sama sekali tidak menyenangkan hatinya. Sehingga, setiap hari selalu saja terjadi pertengkaran.

Acap kali laki-laki selalu menjadi pihak yang kalah dalam hal berebut omong dengan perempuan. Satu kalimat yang keluar dari mulut laki-laki disambut oleh puluhan kalimat dari mulut perempuan dalam sebuah pertengkaran. Dan, memang laki-laki tidak pantas meladeni perempuan yang ngomel dengan omelan juga. Baiknya, dia mengalah, diam, atau pergi.

Cerita di atas tidak bermaksud meremehkan apalagi merendahkan martabat perempuan. Yang ingin dikatakan cerita ini adalah pertengkaran suami-istri merupakan hal yang wajar sepanjang tidak saling menyakiti dan mencederai badan, juga tidak menggunakan kata-kata yang melukai hati. Pertengkaran suami-istri juga bisa dialami siapa saja: Nasruddin, 'Umar bin Khatab r.a., bahkan Rasulullah SAW. sendiri yang pernah dibuat masygul oleh istri-istri beliau.

Pertengkaran suami-istri itu manusiawi sekali dan bukan aib. Namun, ini bukan berarti setiap perjalanan berumah tangga harus ada bertengkarnya. Sepanjang pertengkaran itu bisa dihindari, ya harus dihindari. Dengan demikian, suami-istri tidak boleh mencari-cari masalah agar bisa bertengkar. Sebab, pertengkaran tidak baik dalam rumah tangga.

Memang, ada yang bilang pertengkaran suami-istri laksana bumbu penyedap berumah tangga. Namun, saya kurang begitu setuju dengan pendapat ini. Alasannya, bertengkar itu nggak ada enaknya. Kalau bumbu ada enaknya. Makanya, dibilang penyedap rasa. Nah, kalau bertengkar? Dimana enaknya? Sejujurnya, saya belum bisa menemukan atau merasakan enaknya bertengkar, yang saya rasa cuma dongkol and naje. 
 
http://www.zonamaya.info/2011/03/mau-jadi-suami-yang-baik-bertengkarlah.html



sumber : http://wahw33d.blogspot.com/2011/03/mau-jadi-suami-yang-baik-bertengkarlah.html#ixzz1L0Amm1gE

Nenek Moyang Mee Segera!




 
Mi berusia 2500 tahun ditemukan para peneliti di China
Pro dan kontra tentang bahaya atau tidaknya mi instan bagi kesehatan baru saja lewat. Namun mungkin banyak yang belum mengetahui, bahwa usia nenek moyang mi instan ternyata sudah sangat-sangat tua.
Baru-baru ini para peneliti menemukan mi yang sudah sangat lama terkubur di sebuah pemakaman China. Bersama mie instan, turut ditemukan pula tubuh yang terawetkan, serta makanan-makanan lain seperti bubur, dan kue kering.


Seperti dikutip dari DiscoveryNews, para ahli meyakini bahwa penemuan itu sudah berusia 2.500 tahun. Paper tentang penemuan ini juga akan muncul pada Journal of Archaeological Science.


Di kuburan itu, gundukan mi ditemukan dalam sebuah mangkuk tembikar, di atas kepala kambing (yang mungkin punya makna simbolis), serta mangkuk tembikar lainnya juga dipenuhi oleh bubur, serta kue berbentuk bulan sabit, yang menyerupai kue bulan di zaman China modern.


Analisa kimia terhadap tepung di penemuan itu, mengungkapkan bahwa baik mi maupun kue tadi terbuat dari padi-padian biasa. Setelah melakukan serangkaian percobaan kemudian para ilmuwan meyakini bahwa butiran-butiran bijian di dalam mangkuk direbus menjadi bubur, mi direbus, dan kue dibakar.


"Teknologi pembakarannya bukan seperti metode tradisional pada masakan China kuno, dan ini sangat jarang dilaporkan," ujar Yiwen Gong, kepala tim riset dari Graduate University of Chinese Academy of Sciences.
Dari penelitian ini, ia yakin bahwa penemuan makanan ini mengindikasikan bahwa teknik pembakaran seperti itu merupakan praktek masak yang telah menyebar di bagian utara barat laut China sejak 2500 tahun lalu. Penelitian ini sendiri dilakukan oleh Gong Cs, di pemakaman Subeixi di Distrik Turpan, Xinjiang China.


Tempat ini adalah pusat pertemuan antara China Timur dan China Tengah, dengan iklim gurun pasir. "Iklim di sini sangat kering sehingga banyak mumi dan tumbuhan terawetkan secara alamiah, tanpa membusuk." kata Gong.


Dari penemuan ini, diperkirakan juga bahwa orang China merupakan salah satu pembuat roti pertama. Sebab, kue-kue yang ditemukan ditempat itu mengindikaskan bahwa mereka dibuat menggunakan sebuah tungku pembakaran yang mirip dengan oven.

Mi dan kue berusia 2500 tahun yang ditemukan di China
Sebelumnya, para peneliti meyakini bahwa orang Mesir-lah yang merupakan pembuat roti pertama, didasarkan pada penemuan yang diperkirakan berusia sama pada zaman tersebut.


Setidaknya pada penemuan baru di bagian utara China ini, terungkap bahwa orang China adalah salah satu pembuat roti awal yang memiliki teknik memasak yang kompleks. "Dengan menggunakan api dan dan batu gerinda, butiran-butiran dalam jumlah besar dimasak menjadi makanan pokok," ujar Gong.


Gong dan timnya, menambahkan padi-padian yang menjadi bahan pembuatan makanan itu, telah ada di daerah itu sejak sekitar 10.000 tahun yang lalu di barat laut China dan mungkin telah menjadi makanan utama karena ketahanannya terhadap kondisi kering dan kemampuannya untuk tumbuh di daerah yang tak subur.

Sementara itu, di situs arkeologi Laija yang juga terletak di barat laut China, Houyuan Lu peneliti dari Institute Geologi dan Fisika Chinese, Academy of Sciences, beserta peneliti lain juga berhasil menemukan mi yang terbuat dari butir-butir padi berusia sekitar 4.000 tahun yang lalu.


Pada kasus ini, mi yang ditemukan termasuk tipis lembut dan panjangnya lebih dari 50 cm dan berwarna kuning. "Mi ini mirip dengan mi La-Mian, sebuah mi tradisional China yang dibuat dengan cara menekan dan menarik adonan secara berulang-ulang menggunakan tangan," kata Lu dan rekan-rekannya.



source: http://teknologi.vivanews.com/news/read/190192-ini-dia--mbahnya--mi-instan


sumber : http://wahw33d.blogspot.com/2010/11/seperti-inilah-nenek-moyangnya-mie.html#ixzz1L05GoCwH

Renungan...

"Bila Di saat Orang Lain dalam Kegelapan, Terpesona atau Cemas Melihat Sesuatu Kejadian, Bagi Orang Yang Bijaksana hanya Diterima dengan Senyuman, sebab Dengan Ilmunya Ia Mengetahui Bahawa Sanya Hal Yang Begitu Mulanya, Pasti Begini Akhirnya...."




"Tiada Orang Yang Lebih Kaya Di Dunia Ini Daripada Orang Cina"
-Ibnu Batutta (Abad Ke 14)


"Saya Tidak Tahu Samada Mahu Mengagumi ataupun Mengutuk Orang Cina. Industri yang mereka ceburi sentiasa melebihi orang lain di muka bumi ini kerana mereka bekerja keras, sabar dan ceria. Mereka juga yang menerima rasuah, mudah dipengaruhi, cerewet, setia, dan patuh kepada pihak atasan, tetapi zalim kepada orang bawahan mereka.." 
-Sir James Brook, Rajah sarawak (Abad ke 19).

Rare earth venture: ‘Stop your sandiwara’


By Humayun Kabir, Free Malaysia Today
IPOH: Pakatan Rakyat politicians want the Perak government to stop fooling the people with its “sandiwara” (stage show) on the controversial rare earth plant.
They said the state was merely harbouring a hidden agenda when it disallowed the construction of the refinery in Bukit Merah here.
They also cast doubts on the Barisan Nasional’s (BN) assurance that the Memorandum of Understanding (MoU) signed between a Hong Kong-based company and the state-owned Perbadanan Kemajuan Negeri Perak (PSDC) or Perak State Development Corporation to explore and mine rare earth in the state will not lead to the establishment of another rare earth plant in Bukit Merah.
In a filing to the Hong Hong Stock Exchange on April 18, Commerce Venture Manufacturing (CVM) Minerals Ltd said it had entered into an understanding with PSDC, which reportedly agreed to carry out the project on a joint-venture basis in Bukit Merah.
DAP Batu Gajah MP Fong Po Kuan said: “The MoU specifies the entering into or establishment of a joint venture in Malaysia for the purpose of the exploration and mining of rare earth and other potential minerals and activities in an area in Bukit Merah.”
“The word ‘activities’ speaks volumes of the hidden agenda of the state… we don’t know what the joint venture will eventually lead to but this has not been publicly disclosed,” she said.
She accused the BN state government of working silently to ensure the success of this controversial joint venture.
However, Malaysians were alerted to this deal when CVM publicly announced about it in Hong Kong, she said.
Conflicting statements
CVM, through it local subsidiary CVM Metal Recycle Sdn Bhd, has applied to the state’s Land and Mineral Office for a licence to explore an area covering 250ha in Bukit Merah.
She made available a copy of the MoU to the press yesterday at the Kampung Bukit Merah wet market after holding a protest gathering against the project together with other Pakatan leaders.
Fong also pointed out the conflicting public statements made by BN leaders and PSDC CEO Samsudin Hashim.
Samsudin has reportedly said the matter was still being studied and the state government had yet to give its approval.
However, State Health, Local Government and Environment Committee chairman Mah Han Soon was quoted as saying that even if the project was given approval, the rare earth processing plant would not be built.
Fong pointed out there is no safety mechanism in the MoU to ensure that the joint venture does not result in the construction of the refinery.
The other DAP leaders present were Ipoh Barat MP M Kula Segaran, Pasir Pinjiman assemblyman Thomas Su and PKR state vice-chief Chang Lih Kang.

No categorical assurance
Said Kula Segaran: “BN will always have its way in bulldozing through all its public projects even if the people object or protest.”
He also asked why Menteri Besar Zambry Abdul Kadir did not come out openly to give a categorical and immediate assurance that there will be no rare earth plant in Perak when informed of the MoU.
Instead, Zambry chose to be silent while allowing Mah and senior state executive councillor Hamidah Osman to make conflicting statements, he said.
Hamidah was quoted as saying that the Perak government would not allow a second rare earth plant to be built in Bukit Merah.

Amerika Serang Libya, Tiba-tiba Puting Beliung Serang Amerika, 224 Terkorban




Tuscaloosa: Sekurang-kurangnya 224 penduduk di tujuh negeri Amerika Syarikat terbunuh semalam berpunca daripada serangan puting beliung dan ribut yang memusnahkan kawasan perumahan, menyebabkan kereta bergolek, menumbang pokok dan memutuskan bekalan elektrik.

Bencana itu dikatakan yang terburuk dalam tempoh hampir empat dekad di Amerika dengan Alabama negeri paling teruk apabila 131 penduduknya maut dan mengalami kemusnahan besar hartanah, kata Gabenor Robert Bentley.

“Kami menjangka, angka korban itu akan meningkat,” kata Bentley dalam sidang akhbar dengan Craig Fugate, Pentadbir Agensi Pengurusan Kecemasan Persekutuan (FEMA).

Berdasarkan laporan awal, 32 lagi maut di Mississippi, 30 di Tennessee, 11 di Arkansas, 10 di Georgia, lapan di Virginia dan dua lagi di Louisiana.

Lebih 100 puting beliung selain ribut membawa kemusnahan besar dari sebelah barat ke timur dalam masa beberapa hari.

Loji nuklear Browns Ferry di Alabama dijangka ditutup selama beberapa minggu bagi membolehkan pekerja memperbaiki talian transmisi ketika sejuta orang di negeri itu terputus bekalan elektrik.
Fugate pula berkata, masih terlalu awal bagi agensinya memberi angka kematian keseluruhan kerana pihak berkuasa masih menjalankan misi mencari dan menyelamat.

Kemusnahan paling teruk berlaku di Alabama kelmarin apabila puting beliung selebar 1.6 kilometer melanda Tuscaloosa, lokasi Universiti Alabama menyebabkan 15 orang terbunuh, beberapa daripada mangsa adalah pelajar.

“Ia kedengaran seperti bunyi gergaji. Anda boleh dengar bunyi pelanggaran. Hanya tinggal pakaian dan peralatan berat. Sukar dipercayai,” kata pelajar, Steve Niven, 24.

Presiden Amerika, Barack Obama mengisytiharkan perintah darurat bagi negeri itu selain penghantaran bantuan kerajaan persekutuan.

Puting beliung perkara biasa bagi penduduk di selatan dan Midwest tetapi jarang sekali membawa kemusnahan besar.

Kedai, pasar raya, stesen minyak dan kedai cucu baju musnah di satu kawasan di Tuscaloosa yang mempunyai 95,000 penduduk.

Puting beliung paling banyak mengorbankan nyawa di Amerika ialah pada April 1974 apabila 300 orang maut, menurut Pusat Ramalan Ribut Kebangsaan di Oklahoma. – Reuters






Sejuta bakat Malaysia berhijrah ke luar negeri...


Neo Chee Hua
Kira-kira sejuta orang bakat Malaysia berhijrah ke luar negeri, dan satu pertiga daripadanya adalah tenaga mahir yang berpendidikan tinggi.  Bakat tersebut tertumpu di lima negara, iaitu Singapura, Australia, Brunei, Amerika Syarikat dan Britain.  Antaranya, 54% daripada bakat ini bermastautin di Singapura.
Soal selidik yang dijalankan menunjukkan bahawa tiga faktor utama penghijrahan bakat ke luar negeri adalah masa depan kerjaya (career prospects), ketidakadilan sosial (social injustice) dan pendapatan (compensation).  Antaranya, fenomena ini paling banyak berlaku di kalangan kaum Cina, dengan nisbah 60% hingga 88% daripada bakat yang berhijrah ini.
Justeru itu, Bank Dunia menganggap bahawa Malaysia perlu meningkatkan produktiviti, malah melaksanakan dasar yang lebih inklusif, untuk menarik lebih ramai bakat dari pentas global, supaya negara kita mampu mengekalkan bakat dan terus membangun.  Demikianlah perangkaan sehingga tahun 2010, yang didedahkan dalam laporan Bank Dunia.
Dalam satu ucapan Philip Schellekens, pakar ekonomi kanan Bank Dunia, ketika melancarkan laporan Malaysia Economic Monitor:Brain Drain, beliau berkata penghijrahan bakat menjadi cabaran yang sedang dihadapi Malaysia pada masa kini.  Sesungguhnya Malaysia memerlukan lebih bakat untuk merealisasikan Wawasan 2020, namun polanya pula memperlihatkan kecenderungan bakat meninggalkan tanah air sendiri.
Dalam laporan yang baru dikemukakan ini, kira-kira sejuta orang bakat dianggar bertaburan di luar negeri, dan kira-kira satu pertiga daripadanya adalah tenaga mahir yang berpendidikan tinggi.
Singapura menjadi pilihan pertama
Menurut statistik tahun 2000, 83% daripada mereka yang bekerja di luar negeri bermastautin di Singapura, Australia, Brunei, Amerika Syarikat dan Britain, dan Singapura sahaja mencakupi 46%.  Menurut Philip, orang Malaysia yang "mengalir" ke Singapura bertambah tiga kali ganda dalam tempoh 20 tahun kebelakangan ini.
Selain itu, Singapura menjadi negara pilihan pertama tenaga mahir Malaysia.  Menurut Philip, tenaga mahir Malaysia yang bermastautin dan bekerja di Singapura hanya mencatat 10% (daripada warga Malaysia yang bekerja di Singapura) pada tahun 1990, namun meningkat kepada 23% pada tahun 2000, dan meningkat lagi secara mendadak kepada 35% pada tahun 2010.
Menurut penghitungan Bank Dunia, daripada warga Malaysia yang bertaburan di luar negeri, kira-kira 57% daripadanya bermastautin di Singapura; dan antara tenaga mahir yang berpendidikan tinggi, 54% daripadanya bermastautin di Singapura.
Ketidakadilan sosial punca bakat berhijrah
Philip berkata, sementara bakat Malaysia berhijrah ke luar negeri, bakat asing yang mengalir masuk pula tidak cukup untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan.  Keadaan sedemikian telah mengakibatkan kualiti tenaga mahir di Malaysia semakin menurun.
Philip (gambar kiri) menambah, 60% warga asing yang berhijrah ke Malaysia hanya memiliki taraf pendidikan sekolah rendah atau lebih rendah daripada itu.  Selain itu, tenaga kerja asing mahir atau berpendidikan tinggi yang berhijrah ke Malaysia menunjukkan penurunan 25% sejak tahun 2004.  Keadaan sedemikian menghakis kualiti bakat Malaysia.
Ketika menyentuh faktor penghijrahan bakat Malaysia ke luar negeri, 66% responden Malaysia menganggap masa depan kerjaya lebih cerah di luar negeri; 60% responden menganggap "ketidakadilan sosial" sebagai punca masalahnya; 54% berkata gaji dan layanan yang ditawarkan luar negeri lebih menarik.
Dasar yang lebih inklusif
Di samping itu, daripada bakat yang berhijrah, 60% hingga 88% adalah dari komuniti Cina.  88% daripada warga Malaysia yang bekerja di Singapura adalah Cina, berbanding 6% Melayu dan 5% India.  Sementara itu, 61% daripada warga Malaysia yang bekerja di Amerika Syarikat adalah Cina.
Menurut satu soal siasat yang dijalankan Bank Dunia pada tahun ini, 87% warga Malaysia berpandangan bahawa bakat yang berhijrah hanya akan mempertimbangkan untuk pulang ke tanahair apabila dasar afirmatif yang berdasarkan perkauman ditukar kepada dasar afirmatif berdasarkan keperluan dan merit.  Malah, 82% responden berpendapat bahawa bakat hanya akan pulang ke tanahair seandainya kerajaan dan sektor melakukan perubahan yang menyeluruh.
Dalam satu sidang media selepas itu, Menteri Jabatan Perdana Menteri Nor Mohamed Yakcop (gambar kana) berkata, dasar yang lebih inklusif telah digubal di bawah gagasan 1Malaysia.  Malah, kerajaan cuba menarik balik bakat tempatan melalui program transformasi ekonomi.
Beliau berkata, pengaliran masuk semula bakat tempatan mengambil kira faktor seperti jenayah, pendidikan, perumahan, pengangkutan, persekitaran dan sebagainya.  Masalah ini diselesaikan melalui NKRA, dan kerajaan sentiasa berusaha untuk mewujudkan satu suasana yang boleh mengembalikan bakat tempatan.
*Neo Chee Hua ialah Assistant Editor MerdekaReview.  Disedut, diterjemah dan disunting dari teks asal yang disiarkan pada 28 April 2011.

Politik 'longkang' cemari Rukun Negara

Wira Arjuna
Tidak keterlaluan jika dikatakan bahawa rakyat kini bingung dengan apa yang berlaku di sekeliling mereka. Semuanya berpaksi kepada video seks yang cuba dikaitkan kepada Datuk Seri Anwar Ibrahim. 

NONEMedia arus perdana, Utusan Malaysia, Berita Harian dan TV3 serta RTM mengangkat Datuk Shazryl Eskay Abdullah kerana mahu melafazkan sumpah laknat untuk menyokong dakwaannya bahawa Anwarlah pelaku zina dalam video itu.

Bekas Ketua Menteri Melaka Tan Sri Abdul Rahim Thamby Chik pula mewakilkan Eskay untuk melafazkan ikrar itu bagi pihaknya yang mendapat sokongan Menteri di Jabatan Perdana Menteri Datuk Seri Jamil Khir Baharom.

Nasihat mufti-mufti seperti Tan Sri Harussani Zakaria bahawa isu itu harus ditangani secara qazaf dan bukan sumpah laknat ditenggelamkan oleh media arus perdana. 

NONE“Kalau semua orang boleh bersumpah (laknat) saja, ramai orang yang boleh melakukannya. Takut apa sumpah ini,” kata beliau sebelum ini. 

Di Kelantan, PKR mendedahkan seorang pegawai polis kanan memberitahu guru-guru kononnya pelaku dalam video itu adalah Anwar. Kempen “pencerahan isu Anwar” oleh pegawai polis berkenaan berlarutan sejak awal bulan ini. 

Di Pulau Pinang, Timbalan Ketua Menteri Mansor Othman pula mendedahkan penduduk setempat di Penanti dijemput menonton video itu di pejabat KEMAS. Video itu juga disajikan semasa kursus Biro Tata Negara untuk mahasiswa. 

Untuk mereka, (termasuk kanak-kanak) yang tidak dapat mengikuti video seks menerusi You Tube atau suratkhabar dan blog-blog pro-Umno, jangan khuatir kerana gambar-gambar video itu dicetak dalam bentuk risalah dan diedarkan di merata tempat. 

Ke mana hala tuju negara? 

Jika ini bukan “politik longkang” yang menghakis nilai-nilai keagamaan dan peradaban yang kita junjung sebagai rakyat bersopan yang tahu menjaga maruah diri dan jiran kita, amalan politik apa namanya ini? 

NONEKe mana semangat Rukun Negara yang menggariskan soal kesopanan dan kesusilaan? 

Apakah segala-galanya boleh dihalalkan semata-mata untuk mencari keuntungan politik? 

Apakah benar polis dan Biro Tata Negara membantu mencaci dan menfitnah supaya generasi muda menolak pemimpin pembangkang? Kenapa Peguam Negara pula yang menentukan rentak siasatan polis? 

Semua persoalan ini mempunyai jawapan mudah jika seseorang mengambil kira hakikat Perdana Menteri Datuk Seri Najib Razak sendiri menggunakan “jam Omega' sebagai modal politik ketika pilihan raya negeri Sarawak yang lalu. 

Walaupun beliau cuba memberi gambaran kononnya segala yang melanda Anwar ketika ini tidak ada kaitan dengan Umno dan kerajaan, ramai yang sangsi, curiga dan amat tidak mempercayai Najib. 

NONEMalah, satu lagi kes Anwar bersabit isu moral menyebabkan kewibawaan polis, Peguam Negara dan Biro Tata Negara pula menjadi persoalan utama mengenai kredibiliti kita sebagai rakyat yang bermaruah. 

Berdasarkan perkembangan semasa, isu ini juga akan mengheret Badan Kehakiman yang masih tercalar imejnya daripada pusingan pertama perbicaraan fitnah terhadap Anwar pada tahun 1998. 
Rakyat tertanya-tanya, sampai bila institusi-institusi awam negara akan terus diheret dan bukti rekayasa semata-mata untuk membenamkan Anwar Ibrahim.

Tindakan terbaru akhbar-akhbar berbahasa Melayu, TV3 dan RTM menyembunyikan kenyataan-kenyataan mufti dan tokoh Islam bersabit isu fitnah dan kemungkaran mencerminkan bagaimana rendahnya kewibawaan media kawalan kerajaan. 

Namun mereka tidak mempunyai pilihan kerana berfungsi di bawah telunjuk Umno dan BN (BN). 

Mereka ditugaskan untuk mewarnakan Anwar sebagai seorang peliwat, kaki perempuan, ejen CIA, agen Yahudi dan apa sahaja asalkan ketua pembangkang itu diaibkan sehingga terpaksa berundur dari politik buat selama-lamanya.

Media massa ini mahu rakyat beragama Islam di Malaysia percaya bahawa orang-orang seperti Eskay, Rahim dan Shuib Lazim adalah bebas daripada dosa besar dan layak membuat sumpah laknat untuk menuduh pihak lain. 

Umno pula mengharapkan sumpah laknat Eskay akan berjaya setelah sumpah laknat Saiful Bukhari Azlan gagal mencapai matlamatnya dalam kes liwat fitnah. 

NONEDalam mengejar matlamat masing-masing, Umno, mahupun media massa tidak harus lupa bahawa rakyat mempunyai kewarasan dan iman untuk membezakan antara kebenaran dan fitnah.

Kebenaran akan sentiasa menzahirkan diri dan menyerlah dengan peredaran masa serta mempunyai ketahanan untuk mengatasi apa sahaja kemungkaran yang cuba disebarkan. 

Fitnah sebaliknya tidak lebih daripada rekayasa jijik yang akhirnya akan terpalit kepada pihak yang mencetuskannya.

ULASAN ini adalah pendapat peribadi penulisnya dan tidak semestinya mencerminkan pendirian sidang pengarang Malaysiakini

Malaysia:Ugama Telah Jadi Barang Permainan


Sumpah Eskay: Itu kerja orang jahil, kata bekas Mufti Wilayah

KUALA LUMPUR: Bekas Mufti Wilayah Persekutuan, Dato Md Hashim Yahya berkata sumpah yang tidak dilakukan menurut hukum syarak, diumpamakan sebagai kerja-kerja orang jahil.
Beliau diminta mengulas tindakan salah seorang trio datuk T, Shazryl Eskay Abdullah yang  melakukan sumpah laknat di sebuah masjid di Sentul kira-kira pukul 4.15 petang tadi,
Ulama terkenal itu berkata, tidak ada peruntukan dalam undang-undang Islam yang membenarkan sumpah seperti yang dilakukan Eskay, berhubung tuduhan seks terhadap Datuk Seri Anwar Ibrahim.
“Dalam hukum qazaf, iaitu peruntukan untuk sabitan kes zina dan liwat, pihak yang menuduh perlu membawa empat orang saksi terlebih dahulu.

“Sekiranya gagal membawa empat saksi, yang menuduh itu akan dikenakan hukuman qazaf sebanyak 80 rotan,” ujarnya ketika dihubungi Keadilandaily.com.
Bagaimanapun, sumpah li’an iaitu sumpah laknat itu pula katanya, hanya tertakluk antara suami dan isteri sahaja dan tidak ada peruntukan selain itu dalam hukum Islam.
Tambah beliau, seseorang suami yang menuduh isterinya berzina perlu melalui prosedur perbicaraan di mahkamah terlebih dahulu di mana dia perlu mengemukakan empat saksi seperti yang digariskan Islam seperti tidak fasik dan membuat dosa-dosa besar.
Sekiranya tuduhan itu tidak dapat dibuktikan, katanya, mahkamah kemudian akan memerintahkan supaya kedua-duanya melakukan sumpah li’an.
“Mereka yang menuduh isterinya berzina tapi tak dapat bawa empat saksi, maka dibolehkan kedua-duanya bersumpah.
“Kalau tak dapat bawa empat saksi suami dan isteri melakukan zina, dengan perintah mahkamah boleh dilakukan sumpah li’an. Kalau mahkamah panggil untuk kedua-duanya bersumpah, mahkamah akan perintah untuk buang kes itu. Siapa yang bersalah, itu diserahkan kepada Allah untuk menentukan.
“Tetapi ia dengan perintah mahkamah, tak boleh sendiri-sendiri bersumpah. Kalau kedua-duanya bersumpah, yang menuduh tidak kena 80 rotan dan yang dituduh pula tidak kena had zina. Qadi pula akan menjatuhkan fasakh iaitu tidak boleh rujuk sampai bila-bila.
“Kalau bukan arahan mahkamah, apa faedahnya bersumpah. Ia tidak kena dengan hukum syarak,” ujar beliau.
Tambah beliau, dalam kes bersumpah yang cuba dilakukan Eskay, ia tidak memberi sebarang kesan atas pendakwaan dari sudut sistem perundangan Islam, malah semakin mengelirukan umat Islam.
“Ia tidak memberi kesan apa-apa, tambah mengelirukan umat Islam dan menyebabkan fitnah itu berterusan. Ini menimbulkan kekeliruan kepada masyarakat.
“Ini kerja orang jahil dan tidak ada faedah.
“Kalau sumpah, orang hisap dadah, mencuri dan merompak pun boleh bersumpah dengan begitu mudah dan terlepas dari hukuman,” ujarnya.
Beliau mengulangi kisah yang terjadi kepada Hilal Bin Umaiya yang menuduh isterinya berzina dengan Sharik Bin Sahma seperti yang diceritakan dalam surah An Nur, ayat 6.
“Rasulullah kemudian berkata kepada Hilal, sekiranya dia tidak dapat membawa empat saksi, Hilal akan dihukum dengan 80 sebatan, walaupun Hilal mendakwa melihat dengan mata sendiri isterinya melakukan zina,” ujarnya.

Friday, April 29, 2011

Nadir bumi: Peluang untuk thorium tidak terhad

SM Mohamed Idris
Pengarah Lembaga Pelesenan Tenaga Atom (AELB) Raja Abdul Aziz Raja Adnan berkata, pihaknya akan mendapatkan pertolongan Agensi Tenaga Atom Antarabangsa (IAEA) untuk memilih pakar bagi mengkaji keselamatan projek kilang nadir bumi Lynas Malaysia Sdn Bhd di Gebeng.

Pertama, IAEA ditubuhkan untuk menggalakkan penggunaan tenaga nuklear dan bertindak sebagai 'polis' untuk memeriksa sama ada sesebuah negara itu menjalankan program senjata nuklear secara terselindung. 

NONEPada hakikatnya IAEA membantu negara membangun dalam rancangan mereka untuk membina loji tenaga nuklear.

Berdasarkan mandatnya, ia adalah satu khayalan untuk membayangkan bahawa IAEA berada dalam kedudukan untuk meletakkan bersama panel "pakar bebas" antarabangsa untuk menjalankan kajian yang tidak dapat dipertikaikan.

Begitu juga dengan Lembaga Pelesenan Tenaga Atom (AELB) yang ditubuhkan di bawah Akta Pelesenan Tenaga Atom 1984 (Akta 304) untuk mengawal penggunaan tenaga nuklear. Peranan AELB adalah untuk menyokong dan menggalakkan pembangunan dan penggunaan tenaga nuklear dan aktiviti berkaitan di negara ini.

AELB telah mengeluarkan lesen kepada Lynas untuk membina dan menjalankan kilang memproses nadir bumi, menyedari sepenuhnya bahawa sisa thorium radioaktif akan dihasilkan. Malah AELB akan membuka pejabat cawangannya di Gebeng.

Teliti sebulan sahkan selamat?

Kedua, kerajaan merancang untuk membina dua buah reaktor nuklear. Dalam hubungan ini jelas terdapat kemungkinan yang tinggi bahawa kerajaan akan menggunakan thorium sebagai bahan api untuk reaktor nuklear yang dirancang.

Perlu diingat bahawa Malaysia tidak memihak kepada simpanan plutonium atau uranium berpusat antarabangsa, ini akan menjadi peluang keemasan untuk mendapatkan akses untuk kuantiti thorium yang tidak terhad di tempat sendiri untuk bahan api reaktor nuklear yang dirancang. 

NONEIni juga bermakna reaktor nuklear kemungkinan besar akan ditempatkan di kawasan Kuantan atau berdekatan. (Laporan akhbar baru-baru ini mendedahkan bahawa salah satu loji nuklear akan ditempatkan di Temerloh).

Ketiga, thorium boleh digunakan untuk menghasilkan uranium. Thorium boleh digabungkan dengan americium untuk membuat reaktor nuklear mudah alih. 

Bagaimanapun, americium dilaporkan berbahaya dan toksik sepertimana plutonium. Ia akan menjadi satu kesilapan besar dan boleh membunuh jika kita mengambil jalan ini untuk menghasilkan loji tenaga nuklear.

Jadi sebelum kita mempertimbangkan panel "pakar bebas" antarabangsa kerajaan mestilah bersikap telus kenapa membenarkan Lynas membina dan mengendalikan kilang nadir bumi dan kenapa Lynas begitu yakin bahawa penelitian semula selama satu bulan akan mengesahkan ia selamat.

SM Mohamed Idris merupakan Presiden Persatuan pengguna Pulau Pinang (CAP). Tulisan ini adalah pandangan peribadi penulis dan tidak semestinya mencerminkan pendirian sidang pengarang Malaysiakini.