Wednesday, March 2, 2011

Istilah 'wang pembayar cukai': Dr.Asri

Istilah memainkan peranan penting dalam menyedarkan penggunanya dan pendengar.

Seringkali kali media melaporkan bantuan atau belanja yang dikeluarkan oleh kerajaan digambarkan seakan itu adalah harta kerajaan atau orang politik yang terbabit. Maka bantuan yang disalurkan seakan dari sifat pemurah kerajaan seperti disebut 'kerajaan bermurah hati membantu'.
najib visit kerdau 270211 01Rakyat seakan bagaikan peminta sedekah. Begitu juga apabila ada penyelewengan ataupun pembaziran, maka rakyat yang tidak faham merasakan yang rugi hanyalah kerajaan atau duit orang politik, sedangkan mereka lupa wang tersebut adalah wang mereka.
Maka di sini disebutkan beberapa perkara;
Samada kita sedar atau tidak, setiap rakyat negara ini membayar cukar kepada kerajaan. Ini merangkumi cukai pendapatan, cukai langsung dan tidak langsung.
Harga barangan yang kita beli dalam negara ini sebenarnya kita bayar bersama harga cukai. Di Malaysia kita membeli kereta dengan harga yang tinggi disebabkan faktor cukai.
mee seller stall hawker 141006Begitu juga segala barangan, makanan dan stesyen TV yang dibeli merangkumi harga cukai. Maka, setiap rakyat kena tahu bahawa mereka sebenarnya setiap hari membayar cukai kepada kerajaan. Justeru wang kerajaan adalah wang rakyat.
Maka, wang yang dibelanja oleh mana-mana kerajaan; samada BN atau Pakatan rakyat atau istana-istana dalam negara adalah wang rakyat yang membayar cukai secara langsung atau tidak langsung, sedar ataupun tidak sedar.
Bazir wang rakyat
Istilah 'wang pembayar cukai' atau taxpayers money, atau harta awam sepatutnya sentiasa dipakai dalam media dan ungkapan rakyat. Justeru, apabila kerajaan membelanja untuk sesuatu projek atau menyalurkan harta kepada mana-mana pihak, hendaklah dilapor atau disebut “kerajaan menggunakan wang pembayar cukai atau harta rakyat untuk projek itu dan ini”.
klcc new year celebration fireworks 2Jika berlaku pembaziran, hendaklah dilapor dan disebutkan “kerajaan telah membazirkan wang pembayar cukai, atau merosakkan harta awam, merugikan wang rakyat”.
Ungkapan ini penting supaya orang-orang politik sedar bahawa bantuan dan peruntukan yang mereka salurkan kepada rakyat bukan wang poket mereka, atau harta peribadi mereka sehingga mereka boleh mendabik dada bangga. Sebaliknya, ia sememang harta rakyat.
Begitulah rakyat, mereka tidak boleh tertipu dengan merasakan seorang-olah bantuan yang diumumkan oleh orang-orang politik itu dari 'harta persendirian' tokoh politik tersebut, sebaliknya ia memang harta rakyat yang diuruskan oleh orang-orang politik.
Peminta sedekah
Ini boleh mengelakkan perasaan rakyat yang merasakan mereka bagaikan peminta sedekah kepada kerajaan dan mengelakkan orang-orang politik lupa diri terhadap wang awam yang mereka belanja atau istiharkan dalam kempen politik mereka.
malaysia poor indian community poverty 230807Sesebuah kerajaan bukan dipuji kerana mereka berbelanja dengan wang rakyat atau wang pembayar cukai itu, tetapi mereka dipuji kerana pengurusan yang cemerlang dan amanah dalam mengendalikan harta awam atau harta rakyat.
Ertinya, jika kerajaan berjaya mengendalikan harta rakyat dengan cemerlang dan amanah, maka kerajaan itu dipuji dan disokong, begitu juga sebaliknya.
Istilah 'taxpayer money', atau 'taxpayer funds' atau 'taxpayers dollars' sering digunakan dalam media negara maju apabia memperkatakan tentang pembelanjaan ataupun pembaziran oleh pihak kerajaan.
Istilah seperti ini sebenarnya boleh membantu mengelakkan kecuaian kerajaan dan dalam masa yang sama boleh menyedarkan rakyat tentang hakikat wang yang digunakan oleh pihak kerajaan. Istilah ini juga patut dihidupkan dalam negara kita.

PAS dakwa Felda Plantation organisasi haram



Penampilan pertama kali NGO PAS dalam kempen pilihan raya kecil DUN Kerdau - Persatuan Anak Felda Kebangsaan (ANAK) - menggemparkan apabila mendakwa Felda Plantation yang mengawal 367,710 hektar ladang merupakan organisasi haram.

Presidennya, Mazlan Aliman mendakwa, pemilikannya itu bertentangan dengan Akta Penempatan Berkelompok (GSA) 1960 yang didakwa menetapkan pemilikan hanya oleh individu dan koperasi sahaja.

Beliau yang juga ahli jawatankuasa PAS pusat mendakwa, perkara itu disebut dalam Seksyen 7(2) dan Seksyen 11(1).

"Adakah perdana menteri membaca hansard parlimen bertarikh 27 April 1960 dan apa isi ucapan bapa beliau ketika membentangkan penggubalan Akta GSA 1960?

"Adakah perdana menteri tahu bahawa Felda Plantation adalah penempatan haram yang bertentangan dengan akta GSA yang mana status pemilikan hanya (untuk) individu (seksyen 7(2)) dan koperasi (seksyen 11(1) sahaja?" katanya.

Mazlan yang juga ketua penerangan PAS Johor membuat dakwaan itu dalam sidang media harian PAS di markas induk parti itu di Kerdau pagi ini.

Sang Ibu pun Menangis Melihat Beatty Memakai Jilbab

Diana Beatty pertama kali bertemu dengan seorang muslim saat di bangku kuliah. Setelah itu ia mengenal beberapa muslim lagi yang pelan-pelan membuatnya sadar betapa selama ini ia bersikap arogan terhadap Islam dan Muslim.
Beatty banyak mendengar informasi tentang Islam dan Muslim, tapi kebanyakan yang ia dengar adalah hal-hal yang buruk. Setelah berinteraksi dengan beberapa Muslim yang dijumpainya, muncul rasa ingin tahu yang besar dalam dirinya untuk lebih mengenal Islam, karena orang-orang Islam ia jumpai menunjukkan sikap dan perilaku yang membuatnya kagum, jauh berbeda dengan apa yang ia dengar selama ini. Beatty juga tertarik dengan ketulusan dan aspek-aspek peribadahan yang dilakukan orang Islam, terutama salat.
“Agama yang membimbing kita dalam semua aspek kehidupan, adalah sesuatu yang saya cari selama ini. Saya dibesarkan sebagai seorang Kristiani dan ketika saya mengenal beberapa orang Islam, saya adalah orang yang lumayan religius dan serius mempelajari Alkitab,” kisah Beatty.
“Tapi banyak pertanyaan saya tentang isi Alkitab yang tidak terjawab, dan saya justru menemukan jawabannya dalam Al-Quran. Awalnya, saya tidak suka membaca isi Al-Quran karena Al-Quran menyebutkan bahwa Yesus bukan anak Tuhan dan Al-Quran menyebut tentang perang yang membuat saya teringat kembali pada apa yang saya dengar tentang teroris muslim dan kekerasan …”
“Tapi orang-orang Islam yang saya kenal, menjadi contoh buat saya seperti apa sebenarnya seorang muslim dan saya melihat bahwa stereotipe yang terbangun dalam pandangannya saya selama ini tentang muslim, tidak sesuai dengan fakta yang saya lihat,” tutur Beatty.
Perempuan asal Colorado AS itu pun berpikir, bagaimana ia bisa tahu bahwa Alkitab itu benar dan Al-Quran salah, jika ia tidak mempelajarinya. “Terutama ketika banyak hal yang sama antara keduanya, Alkitab dan Al-Quran sepertinya berasal dari sumber yang sama,” sambung Beatty.
Semakin dalam mempelajari Al-Quran, Betty menemukan perbedaannya dengan Alkitab. Dalam Alkitab ia menemukan banyak kesalahan dan kontradiksi, tapi tidak dalam Al-Quran. Ia mengatakan, “Apa yang Quran katakan tentang Tuhan dan apa tujuan manusia hidup di dunia, buat saya lebih logis dan mudah untuk dipahami.”
Berbulan-bulan Beatty melakukan perbandingan antara agama Kristen yang dianutnya dengan agama Islam yang sedang dipelajarinya. Dan masa itu merupakan masa-masa yang sulit baginya. Tapi hati Beatty memenangkan Islam. Ia makin yakin bahwa Islam adalah agama yang benar, yang dikirim Allah untuk umat manusia.
“Saya pun memutuskan untuk masuk Islam. Saat itu saya masih belum yakin tentang banyak hal, khususnya tentang jilbab. Saya juga belum tahu bagaimana melakukan salat, dan peribadahan lainnya. Tapi saya mulai belajar,” ungkap Beatty.
Ia tak membantah bahwa di hati kecilnya ada rasa takut ketika memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Berat baginya membayangkan akan berhadapan dengan keluarganya dan melakukan sesuatu yang mereka benci dan tidak mereka mengerti. Sempat tebersit dalam hatinya, bagaimana jika ia membuat keputusan yang salah? Beatty khawatir respon negatif yang akan ia terima dari teman-temannya, rekan kerja, atasan di kantor dan ia khawatir dikeluarkan dari keluarganya.
Keluarga Beatty memang tidak suka melihat Beatty menjadi seorang muslim, tapi Beatty tetap diterima oleh keluarganya. “Tiap kali saya berbincang dengan ibu, dia mengeluhkan busana muslimah yang saya kenakan, sepertinya hal itu sangat mengganggunya lebih dari apapun dan ia akan menyodorkan berbagai literatur Kristen pada saya,” tutur Beatty.
Beatty bercerita, ibunya merasa terluka dan menangis seminggu penuh ketika Beatty memutuskan untuk mengenakan jilbab. Dalam surat, sang ibu mengatakan bahwa apa yang dilakukan Beatty adalah tamparan keras di wajahnya, Beatty dianggap telah melanggar didikan orang tuanya dan sedang berusaha menjadi orang Arab. Keluarga Beatty juga menuding bahwa Beatty melakukan itu gara-gara suami Beatty yang seorang muslim. Keluarga Beatty tidak menyukainya dan meminta Beatty bercerai.
“Keluarga saya bilang, saya akan masuk neraka. Buat saya, tidak sulit menghindar dari makanan yang tidak halal, menjauhkan diri dari alkohol. Tidak sulit buat saya untuk belajar salat dan mengenakan jilbab. Satu-satunya yang berat buat saya adalah menyakiti keluarga saya dan terus-terusan ditekan oleh mereka,” imbuh Beatty.
Pada titik ini Beatty merasakan, tantangan yang berat setelah ia menjadi muslim adalah keluarganya sendiri, karena teman-teman dan orang-orang yang ia kenal, ternyata bisa menerima pilihannya menjadi muslim.
Tiga tahun sudah Beatty memeluk Islam. Ia mengakui bahwa Islam banyak memberikan perubahan dan meningkatkan kualitas hidupnya. “Islam mengubah saya secara total. Sekarang, saya tidak ragu lagi akan tujuan hidup saya di dunia ini dan bahwa saya sudah mengikuti jalan yang benar. Dulu, saya bahkan tidak menyadari bahwa saya sedang kehilangan arah. Tapi ketika saya menemukan Islam dan merenungkannya kembali, sangat jelas buat saya bahwa Islam-lah yang saya cari selama ini,” papar Beatty.
Beatty bersyukur menjadi seorang muslim karena Islam memualiakan hidupnya sebagai seorang perempuan. Ia melihat sendiri bahwa lelaki muslim yang baik akan memperlakukan perempuan dengan baik. Suatu hal yang jarang ia temui dalam budaya masyarakat Amerika, dimana ia dibesarkan.
“Memilih masuk Islam, buat saya seperti kembali pulang ke rumah setelah sekian lama berkelana,” tandas Beatty yang sekarang menggunakan nama Islami Masuuma Amatullah.
Sumber : http://www.eramuslim.com

Gara-Gara Daging Babi, Jang Menemukan Islam

Waktu baru menunjukkan pukul 10.00 pagi di Beijing, Cina. Waktu salat Jumat masih tiga jam lagi. Seorang laki-laki terlihat mendekati masjid.
Lelaki itu sejenak berdiri ragu di depan masjid. Ada rasa enggan untuk melangkahkan kaki ke dalam masjid, apalagi setelah melihat tulisan di pintu gerbang masjid yang ditulis dalam bahasa Cina, Inggris dan Arab berbunyi “Hanya untuk Muslim.”
Tapi lelaki itu menepis keraguannya dan memberanikan diri memasuki masjid.
“Ada yang bisa saya bantu?” tiba-tiba seorang lelaki menyapanya, imam masjid itu.
“Saya ingin menjadi seorang muslim,” ujar lelaki yang disapa.
Imam masjid tersenyum dan menyambut lelaki yang ingin masuk Islam itu. Ia membawanya ke kantor “Komunitas Muslim” yang terletak di dekat bangunan masjid. Sang imam menyodorkan tiga buku kecil tentang Islam. Ia ingin lelaki itu lebih mempelajari tentang agama Islam, agama yang ingin dipeluknya.
Lelaki muda itu ternyata bukan hanya membaca semua buku tersebut, tapi membaca banyak buku lainnya tentang Islam. Ia pun sering mengajak beberapa imam di masjid untuk berdiskusi untuk membuktikan bahwa ia tahu apa yang ingin ia lakukan.
Akhirnya, seorang imam menuntunnya mengucapkan dua kalimat syahadat dan lelaki muda itu resmi menjadi seorang muslim.
Lelaki itu adalah Jang, yang setelah masuk Islam mengganti namanya menjadi Salim. Setelah bersyahadat, Salim menceritakan mengapa ia ingin menjadi seorang muslim.
“Semuanya berawal dari daging babi,” kata Salim sambil tersenyum.
Ajaran Islam untuk makan makanan secukupnya, termasuk larangan makan daging babi, memicu rasa ingin tahu Salim dan mendorongnya untuk mencari tahu lebih jauh tentang Islam.
“Saya meneliti jurnal-jurnal medis dan membaca banyak buku untuk mencari jawabannya,” ujar Salim.
Ia menemukan jawabannya mengapa Islam mengharamkan daging babi. Islam memandang babi najis karena hewan itu pemakan segala atau omnivora. Babi tidak membedakan antara daging atau tumbuhan dalam kebiasaan makannya. Berbeda dengan sapi atau domba misalnya, yang hanya makan tumbuhan. Sejumlah ilmuwan juga mengatakan bahwa makan daging babi, bisa menyebabkan sedikitnya 70 macam penyakit pada manusia.
“Saya menemukan kesimpulan yang sama dalam pengobatan tradisonal Cina yang tidak merekomendasikan makan daging babi dan menyebutnya sebagai daging yang paling tidak sehat dan berbahaya,” tutur Salim.
Atas pengalamannya itu, Jang tertarik dengan agama Islam dan memutuskan untuk masuk Islam. Ia kini menjadi bagian dari komunitas Muslim di Cina yang menurut data resmi jumlahnya lebih dari 30 juta orang.
Islam sudah merambah negeri Cina melalui para pedagang, di era Dinasti Tang sekitar 1300 tahun yang lalu. Bahkan catatan sejarah ada yang menyebutkan bahwa sahabat-sahabat Rasulullah Muhammad Saw pernah mengunjungi Cina.
Meski komunitas Muslim di Cina cukup besar, mereka kerap menjadi target penindasan dan diskriminasi pemerintah Cina yang berhaluan komunis. Tetapi siapa yang bisa menghalangi cahaya Islam dan hidayah yang Allah Swt berikan pada umatnya. Jang atau Salim adalah salah satu contohnya. Ia mendapatkan hidayah itu dengan latar belakang yang unik, hanya karena masalah daging babi.

Kisah Isa & Al Quran Menjadi Jembatan Abdulhadi Menuju Islam

Kisah Isa & Al Quran Menjadi Jembatan Abdulhadi Menuju Islam
Abdulhadi
REPUBLIKA.CO.ID, Abdulhadi, 23 tahun, dibesarkan dalam ajaran Katholik. Orangtuanya berdarah Polandia, negara di mana, menurut penuturannya, Katholik adalah agama utama dan ajarannya menjadi praktek hidup keseharian warganya.
“Saya diajari berdoa sejak kecil dan dibaptis dalam gereja,” tuturnya. “Saat itu sangat menyenangkan,” aku Abdulhadi.
Namun ketika menginjak masa remaja, ia merasa agama tak ada lagi berarti. “Nol, saya juga meragukan semua eksistensi,” ungkap Abdulhadi.
Ia gelisah. Banyak pertanyaan muncul di benaknya, seperti dari mana ia berasal dan mengapa ia hidup. “Tapi saya tidak menemukan jawaban.” ujarnya.
Saat pencarian itu ia mengaku mengalami kondisi sulit yang ia analogikan sebagai tamparan keras. “Tiga hingga empat kali saya ditampar dan itu sangat menyakitkan,” tuturnya tanpa mau menceritakan detail kisah sulitnya.
Saat kian gelisah ia bertemu seorang teman. Temannya bergama Islam. “Ia tak mengatakan apa-apa pada saya, hanya mengajak saya untuk menjauhi keburukan,” ungkapnya.
Ajakan itu ia pandang masuk akal. Saat mulai hidup teratur ia kembali tenang, ketika itu pulalah Abdulhadi mengingat Tuhan lagi.
Selama ini ia selalu menyimpan sebuah injil di rak buku. Mengetahui itu teman Muslimnya tadi berkata, “Kalau kamu punya injil seharusnya kamu punya Al Qur’an pula.”
Terganggu dengan ucapan itu Abdulhadi pun terdorong untuk mempelajari injil yang ia miliki. “Terus terang saya berkata pada diri sendiri bahwa kalau saya harusnya menyelidiki dan mempelajari agama saya dulu pertama kali,” ungkapnya.
Ketika ia selesai membaca injil ia pun mulai membandingkan kitab tersebut dengan Al Qur’an. Dalam proses itu ia menemukan Jesus sebagai jembatan, karena ternyata Jesus pun disebut dalam kitab suci Agama Islam itu, sebagai Isa.
“Itulah yang mendorong saya untuk tahu lebih lanjut,” ujarnya. Abdulhadi pun mulai membaca setiap kalimat dalam Al Qur’an.
Saat membaca ia merasa heran sekaligus takjub. “Buku ini luar biasa saya sungguh tidak menemukan keraguan terhadap satu pun kalimat di dalamnya,” ujarnya.
“Ketika kita membaca buku lain, filsafat, saya masih menemukan ada sesuatu yang meragukan, tapi tidak di Al Qur’an” kata Abdulhadi. “Ini sungguh kitab kebenaran.”
Saat timbul pemikiran itu ia pun membisikkan harapan ke dalam benaknya ingin menjadi seorang Muslim. “Benar-benar karena membaca Al Qur’an tak ada penyebab utama lain, namun keinginan hati saya begitu kuat untuk memeluk Islam.”
Abdulhadi memeluk Islam pada 2005 lalu. Ia mengaku telah menjalani Ramadhannya yang ke-7.
“Saya kira setiap orang harus mempelajari benar-benar agama yang mereka anut,” ujarnya. Ucapan Abdulhadi mengacu pada teman-teman Muslim lain yang ia jumpai banyak pula yang tak melaksankan ajaran dan beribadah sesuai perintah agama.
“Ini mengingatkan saya ketika remaja dulu. Sebagai pemeluk Katholik saya pun tak jarang beribadah.” ujarnya.
Abdulhadi memandang setiap orang pada intinya memiliki kecenderunga jiwa yang sama, baik ia menganut Hindu, Budha atau agama Nasrani. “Mereka pasti memiliki pertanyaan mendasar, mengapa kita diciptakan di muka bumi,” kata Abdulhadi.
“Resepnya sederhana saja, carilah dan mulailah dari keyakinan yang kita peluk. Pada akhirnya perilaku kita pun akan berubah,’ ujarnya.
Ia juga menekankan bagi mereka yang mencoba mencari jawaban dalam hidup agar tidak menutup diri dari mempelajari keyakinan lain.
“Seperti yang telah saya lakukan. Siapa yang mencari pasti akan menemukan jawabannya. Nanti kita akan dituntun untuk menemukan bahwa Islam adalah agama yang mampu menjawab semua pertanyaan.”  ujarnya penuh keyakinan.

Mualaf Bilal Philips, Mantan “Dewa Gitar” yang Kini Menyerukan Islam

Mualaf Bilal Philips, Mantan
Bilal Philips
REPUBLIKA.CO.ID, TORONTO – Dulu, Bilal Philips pernah dijuluki “Dewa Gitar” di negerinya, Kanada.  Kini, ia justru menyerukan agar kaum Muslim sesedikit mungkin mendengarkan petikan gitar, karena “terlalu banyak musik akan menutup hati dari seruan Allah.”
Philips menyatakan, larangan itu bukan hanya untuk gitar, tapi semua aliran musik. “Hati yang diisi dengan musik tidak akan memiliki ruang untuk kata-kata Tuhan,” tulisnya dalam bukunya,  Contemporary Issues. Buku ini membahas persoalan-persoalan aktual umat islam, mulai dari perkawinan anak di bawah umur, pemukulan istri, poligami, dan membunuh kaum murtad, hingga homoseksualitas. 
Philips berpendapat, Islam tidak melarang semua musik. Namun, musik yang dianjurkan adalah yang dinyanyikan kaum pria dan anak perempuan belum dewasa. Lagu-lagunya pun berisi konten yang dapat diterima umum. “Instrumen senar sebaiknya dihindari,” ia melanjutkan.
Philips adalah imigran asal Jamaika. Masuk ke Kanada di usia 11 tahun, ia mengambil pendidikan gitar. Ia bermain di klub malam selama belajar di Universitas Simon Fraser di British Columbia.  Namanya makin terdongkrak setelah itu.
Di puncak kepopulerannya, jiwanya gelisah. Ia memutuskan mengasingkan diri dari hiruk-pikuk musik negerinya dan menyusul sang ayah yang juga tenaga ahli di Canadian Colombo Plan berpindah ke Malaysia, menjadi penasihat menteri pendidikan. Di negeri jiran itu, ia dikenal sebagai “Jimi Hendrix dari Sabah”.
Tapi setelah memeluk Islam pada tahun 1972, ia meletakkan gitarnya untuk selamanya. Dalam biografi di situs web ia mengatakan, “ketika saya menjadi seorang Muslim, saya merasa tidak nyaman melakukan hal ini dan menyerah baik secara profesional maupun pribadi.”Bagi banyak orang, musik menjadi sumber hiburan dan harapan dari Allah. Musik membawa mereka untuk sementara, seperti obat. “Quran, kata-kata Allah yang penuh dengan bimbingan, juga bisa memainkan peran itu.”
***
Dalam bukunya, ia juga mengatakan wanita dewasa dilarang untuk bernyanyi. “Pria lebih mudah terangsang daripada perempuan sebagai telah sepenuhnya didokumentasikan oleh studi klinis Masters dan Johnson. “
Tetapi Institut Islam Toronto mengatakan pada situs webnya yang banyak sarjana tidak setuju dengan penafsiran itu, dan mempertimbangkan musik diperbolehkan asalkan tidak mengandung “sensual, menduakan Tuhan, atau tema tidak etis dan pesan subliminal.
“Jadi untuk mengatakan bahwa semua musik dilarang dalam Islam tampaknya tidak tepat. Islam menempatkan kehidupan dunia dan akhirat secara seimbang,” tulis situs ini.
Sohail Raza, juru bicara Kongres Muslim Kanada, mengatakan klaim bahwa Islam tidak mengijinkan musik adalah “benar-benar tak berdasar” dan benar-benar merupakan upaya untuk mencegah imigran Muslim dari integrasi ke dalam masyarakat Kanada.
“Ini adalah orang-orang yang memiliki keengganan untuk sukacita,” kata Raza. “Kami memiliki situasi yang sangat menyedihkan dimana orang-orang seperti Philips yang membawa hal-hal dalam Islam yang benar-benar tidak benar, dan menumbuhsuburkan Islamophobia.”
Philips, yang memiliki gelar dari Universitas Islam Madinah dan Universitas Riyadh, dan mendirikan Universitas Islam Online, tinggal di Qatar tapi tetap menjadi pembicara konferensi yang populer di Kanada. Dia memberikan kuliah tentang “musik dan kencan” di sebuah masjid Toronto April lalu.
Dalam video online-nya, mantan musisi panggilan musik kecanduan jahat. “Intinya adalah bahwa jika musik itu bermanfaat, maka musisi akan menunjukkan manfaat yang dalam hidup mereka,” katanya dalam sebuah video YouTube.
“Apa yang Anda lihat justru adalah bahwa beberapa elemen yang paling korup masyarakat yang ditemukan di antara para musisi. Obat-obatan, penyimpangan dan homoseksualitas, hal ini jenis dan semua korupsi yang ada di sana, orang bunuh diri, “katanya. “Kenyataannya adalah bahwa hal itu sebenarnya tidak membawa sisi, jahat gelap yang memproduksi jenis korupsi antara mereka sendiri dan, pada akhirnya, berakhir sampai merusak elemen masyarakat.”

Mantan Pendeta Katolik Inggris Masuk Islam

LONDON (voa-islam.com): Seorang pendeta Katolik yang menjadi mualaf berbicara tentang alasannya untuk berganti kepercayaan.
Mantan pendeta itu bernama Idris Tawfiq, seorang pembicara tamu di acara Pekan Islam di universitas Cambridge, acara ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan mengangkat toleransi.
Tawfiq mengatakan: “Ini bukan saya yang pergi untuk mencari Islam. Tapi Islam yang datang mencari saya.”
“Saya menyukai kehidupan saya sebelumnya dan pekerjaan saya, tapi sekarang saya sudah menemukan kedamaian yang saya tidak pernah dapat sebelumnya.”
Tawfiq menjelaskan bahwa dia membuat keputusan untuk meninggalkan dunia pendeta setelah menyadari betapa kesepiannya dia.
“Saya meninggalkan pekerjaan saya, tapi bukan agama Katolik,” katanya.
Tawfiq mengatakan, dia tinggal di Inggris selama 40 tahun dan memiliki pandangan stereotip terhadap Muslim.
Tapi saat liburan di Mesir ia bertemu dan berteman dengan banyak orang Muslim, dan ia mengatakan bahwa ia mulai menyadari bahwa persepsinya tentang Islam selama ini adalah salah.
“Keyakinan Kristen saya perlahan-lahan mulai menjauh dan Islam menjadi lebih dan lebih penting.”
“Saya meninggalkan kependetaan Katolik saya, tidak ada kekerasan dalam Islam, ini benar-benar sangat indah, sangat lembut dan manis,” tambahnya.
Tawfiq  sekarang tinggal di Mesir, dan berspekulasi tentang masa depan negara ini setelah lengsernya Hosni Mubarak, ia mengatakan: “Satu hal yang diajarkan oleh Islam, bahwa jangan pernah terkejut dengan apa yang ditawarkan oleh kehidupan.”
“Siapa yang bisa membayangkan, tiga pekan lalu bahwa seorang yang telah memerintah negara selama 30 tahun kemudian tidak lagi berkuasa sekarang?” ia bertanya.
“Ini memberi saya harapan besar bahwa ketika kita berpikir kita tidak bisa melakukan segala sesuatu, oleh Allah kita akan dikaruniai sesuatu yang bisa kita lakukan,” tutupnya.

Alhamdulillah! Satu keluarga di Cina Memeluk Islam

Alhamdulillah! Satu keluarga di Cina Memeluk Islam
Seorang pekerja Cina memluk Islam
REPUBLIKA.CO.ID, TUTONG – Seorang perempuan Cina dan empat anaknya memeluk Islam sebagai sebuah jalan hidupnya yang baru. Perayaan memeluk Islam dilakukan oleh Departemen Dakwah Tutong di Kampung Keriam, di Distrik Tutong.
Tamu kehormatan dalam acara tersebut adalah Haji Harun bin Haji Junid yang merupakan Wakil Sekretaris Tetap di Kementerian Agama Cina.  Acara dimulai dengan pembacaan surat Al Fatihah yang kemudian diikuti dengan upacara memeluk Islam.
Yong Siow Mee, membacakan doa dengan dibimbing staf dari Kementerian Agama Cina dan kemudian memilih nama Muslim barunya sebagai Nur Ameerah Raziqin binti Abdullah Yong. Sementara empat anak-anaknya yang juga berganti nama Nurhafizah binti Bakar, Nurshahnizam bin Bakar, Nurhalizam bin Bakar dan Nurazlizam bin Bakar, tak lupa berdoa dan memilih nama mereka sendiri Muslim.
Acara ini juga memperlihatkan penampilan Dzikir Marhaban yang dibawakan anggota Asosiasi PESATU yang diikuti dengan percikan bunga yang wangi kepada Yong Siow Mee dan keempat anaknya oleh tamu kehormatan. Doa selamat dibacakan oleh Imam Haji Abd Aziz bin Badul. Pejabat dan staf Pusat Dakwah Islam dan penduduk desa setempat juga ikut hadir.

“Saya Gadis Meksiko dan Saya Seorang Muslimah”

Tanggal 15 Desember 2008 menjadi hari yang bersejarah bagi Lucia, gadis Meksiko yang lahir dan besar di Mexico City. Pada hari itu, Lucia membuat keputusan besar dalam hidupnya, ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi seorang muslimah.
“Itu adalah hari pertama saya menerima Islam dalam hidup saya,” kata Lucia.
Meksiko adalah negara yang unik dibandingkan dengan negara-negara lainnya di Amerika Selatan. Negara ini merupakan perpaduan antara budaya pra-Hispanik, tradisi dan keyakinan dengan budaya dan agama orang-orang Spanyol. Jumlah penduduk Meksiko lebih dari 100 juta orang, tapi jumlah Muslim di negara ini relatif sedikit, hanya sekitar 3.000 jiwa. Katolik menjadi agama mayoritas di Meksiko
“Meski orang-orang Meksiko adalah orang-orang yang hangat, terbuka dan bisa menerima siapa saja, tapi kami agak sungkan jika sudah membicarakan masalah agama,” ujar Lucia.
Lucia mengungkapkan, ia pertama kali mengenal Islam lewat seorang sahabat karibnya saat menjalani tahun-tahun pertama sebagai mahasiswi di sebuah universitas. Nama sahabatnya itu Navide, asal Afghanistan.
“Dia bilang, ia datang ke Meksiko karena tertarik dengan budaya kami dan bahasa Spanyolnya yang ‘seksi’. Ketika ia mulai membicarakan tentang Islam, saya harus mengakui, rasanya seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Saya kagum dengan kesederhanaan yang indah, yang diajarkan Islam …”
“Tidak seperti ajaran Katolik, Islam tidak mengajarkan dogma. Islam tidak memaksa orang masuk Islam, tapi Islam memberikan Anda dasar-dasar yang kuat untuk meyakini Islam. Islam tidak memberikan ide-ide yang kadang tanpa makna bagi manusia. Selain itu, Islam mengajarkan toleransi dan kasih sayang pada seluruh umat manusia, tanpa melihat latar belakang ras, agama dan keyakinannya,” tutur Lucia mengungkapkan kekagumannya pada Islam.
Meski demikian, ketika itu masih ada keraguan di dalam hatinya. Lucia pun mulai mencari tahu sendiri dengan membeli buku-buku tentang sejarah Islam, masyarakat Islam, ajaran dan prinsip-prinsip yang diajarkan Islam. Selain dari buku, Lucia juga mencoba mengakses internet dan menemukan banyak informasi tentang Islam di dunia maya.
“Saya tidak tahu dari mana harus memulai. Navide menyarankan agar saya mencoba bergaul dengan komunitas Muslim. Masalahnya, saya juga tidak tahu dimana bisa bertemu dengan komunitas Muslim di Meksiko,” Lucia mengungkapkan kesulitannya di awal ia ingin mengenal Islam lebih jauh.
Lucia akhirnya memilih jejaring sosial untuk melakukan kontak dengan komunitas Muslim. Cara ini, menurut Lucia, cukup menarik, tapi ia mengaku agak kecewa karena menemukan beberapa orang yang bersikap tidak ramah begitu tahu Lucia bukan seorang muslim.
Pengalaman itu tidak membuat Lucia mundur, ia terus mencari informasi dimana bisa menemukan komunitas Muslim tempat ia bisa belajar banyak tentang Islam.
Akhirnya, Lucia menemukan seorang Muslim bernama Sajad yang kemudian menjadi sahabatnya. Dengan Sajad yang sekarang tinggal di Inggris, ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam membicarakan banyak hal, termasuk tentang Islam.
Dalam sebuah perbincangan, Sajad membuat Lucia menyadari bahwa hidup ini ibarat melihat refleksi diri kita dalam sebuah kolam. “Pertama, kita hanya melihat pantulan wajah kita, lalu kita menyadari bahwa banyak mahkluk yang ada hidup di dalam dan di luar kolam. Ada angin yang bertiup, ada matahari yang bersinar … Islam, buat saya seperti mendapatkan kesadaran itu,” imbuh Lucia.
Semakin banyak membaca tentang Islam, Lucia makin menyukai ajaran Islam. “Saya juga seorang ilmuwan, dengan ilmu pengetahuan saya mendapat kesempatan untuk merenungkan makna kehidupan, dan bagaimana semua yang ada di bumi ini bekerja. Saya mendapat kesempatan untuk berkontemplasi, menganalisa dan bertanya pada diri sendiri tentang detil kehidupan sampai yang sekecil-kecilnya, banyak orang yang tidak menemukan jawabannya. Tapi begitu ada jawabannya, ribuan pertanyaan lain menyerbu,” tutur Lucia.
Ia melihat perbedaan antara ajaran Katolik dan ajaran Islam. Di agama Katolik, segala sesuatunya terkesan dirahasiakan. Sedangkan Islam, agama ini mengajarkan manusia untuk mencari ilmu dan kebenaran. “Ajaran ini saya sebut, sangat cocok dengan gaya hidup kemusliman saya,” tukas Lucia.
Hidayah itu Akhirnya Datang Juga
Ia mengakui pernah ragu apakah akan masuk Islam atau tidak, karena khawatir akan pandangan orangtuanya dan orang-orang sekitar yang mengenalnya. Lucia masih belum yakin akan seperti apa reaksi mereka jika tahu ia menjadi seorang muslim.
“Harus saya akui, sulit bagi saya mengesampingkan semua kekhawatiran itu. Pikiran saya jadi kacau. Saya sedih dan bingung,” ungkap Lucia.
Di tengah kegundahan dan kerisauan itu, Lucia menyadari bahwa manusia tidak pernah tahu apa yang akan terjadi besok. Manusia kadang memikirkan soal hari esok, padahal belum tentu hari esok itu datang untuknya. Lucia merasa ia harus mengubah hidupnya.
Setelah merenungkan semuanya, malam hari Lucia menghubungi Sajad dan mengatakan keinginannya untuk masuk Islam. Sajad juga yang membimbing Lucia mengucapkan syahadat keesokan harinya.
“Setelah itu, rasa takut dan khawatir dalam diri saya hilang. Dan saya akhirnya tahu bahwa rasa takut itu yang membuat saya ragu untuk meraih apa yang saya inginkan,” ujarnya.
Seminggu kemudian, Lucia berusaha sendiri mencari masjid yang ada di Mexico City. Ia ingin mengucapkan syahadat secara resmi. Keluarga Lucia syok mendengar apa yang ingin dilakukan puterinya, mereka memutuskan untuk tidak ikut Lucia ke masjid. Sebuah situasi yang sulit bagi Lucia karena dituding telah menerima sesuatu yang bukan budaya orang Meksiko.
Hari itu, 15 Januari 2008, Lucia berasa di sebuah apartemen kecil yang berfungsi sebagai masjid. Ia mengucapkan syahadat di sana dan diberi nama Islami, Noor Sabiya.
Setelah resmi menjadi seorang muslimah, Lucia belajar salat. Ia merasa kedamaian dalam hatinya setelah masuk Islam. Apalagi ia bertemu dengan teman baru. “Tapi yang paling penting buat saya, akhirnya saya menemukan tempat yang saya inginkan, tempat itu saya temukan dalam Islam,” tandasnya.

Kita Tunggu, Siapa Yang Kena?

Media ramal DUN Sarawak dibubar 19 Mac, undi 9 April

Taib berkata BN Sarawak sudah bersedia sepenuhnya untuk menghadapi pilihan raya negeri. — gambar fail
KUALA LUMPUR, 2 Mac — Spekulasi semakin kencang dengan desas-desus terbaru mengatakan Dewan Undangan Negeri (DUN) Sarawak akan dibubarkan pertengahan bulan ini bagi membuka ruang kepada pilihan raya negeri yang ke-10. Barisan Nasional (BN) Sarawak akan mengadakan konvensyen negeri Sabtu ini dan ia dilihat sebagai petanda jelas pembubaran akan menjadi kenyataan bulan ini selepas spekulasi mengenainya bermula kira-kira setahun lalu.
Kini BN memberi tumpuan ke atas dua pilihan raya kecil serentak di Semenanjung dengan hari pengundian berlangsung Ahad ini.
Laporan The Star hari ini menyebut DUN Sarawak akan dibubarkan pada 19 Mac dan kemungkinan hari pengundian pula 9 April.
Mandat semasa hanya akan berakhir 23 Julai ini sementara Ketua Menteri Tan Sri Taib Mahmud terus dengan gaya beliau membiarkan orang ramai membuat spekulasi demi spekulasi mengenai kemungkinan tarikh pembubaran.
Laporan The Malaysian Insider sebelum ini memetik sumber berkata kepimpinan BN pusat yang mengadakan mesyuarat bulan lalu menjangkakan pilihan raya negeri, yang menawarkan 71 kerusi, akan diadakan awal April.
Menurut laporan akhbar itu hari ini menyebut DUN akan dibubarkan pada 19 Mac manakala penamaan calon diadakan pada 2 April dan disusuli dengan tarikh pengundian 9 April.
Akhbar itu memetik Presiden Parti Rakyat Bersatu Sarawak Tan Sri Dr George Chan berkata, “sebarang tarikh sebelum Julai mungkin.”
“Ketua Menteri telah meminta kami agar bersedia. Dan kami sudah pun bersedia,” katanya yang juga Timbalan Ketua Menteri.
Setiausaha Agung BN Sarawak Stephen Rundi berkata, jika pilihan raya hendak diadakan pada 9 April, BN “sudah bersedia untuk bertarung.”
“Sebenarnya saya tidak tahu-menahu tarikh pembubaran. Ia bergantung pada Ketua Menteri bila hendak memanggil pilihan raya tetapi kami sudah bersedia,” katanya.
Bagaimanapun Setiausaha DAP Sarawak Chong Chieng Jen tidak mahu membuat spekulasi mengenai tarikh pilihan raya.
“Kami akan melakukan yang terbaik dan kami bersedia sepenuhnya dan bertanding habis-habisan,” katanya lagi.
Setiausaha Agung Parti Nasional Sarawak Stanley Jugol percaya pilihan raya akan diadakan April ini.
“Kami sudah meramalkan pilihan raya tidak akan diadakan lewat daripada bulan April. Kami sudah bersedia untuk menghadapinya jika ia diadakan,” katanya lagi.
Pilihan raya negeri terakhir diadakan pada 2006 dengan DUN dibubarkan pada 24 April manakala penamaan calon 9 Mei dan pengundian 20 Mei.
Pada 25 Februari lalu, Taib berkata BN Sarawak sudah bersedia sepenuhnya untuk menghadapi pilihan raya negeri dan senarai nama calon juga telah diterima.
“Sudah... sudah, kita (BN) sudah bersedia, calon pun sudah ada, saya tidak boleh umumkan nama calon sekarang,” katanya.
Pada pilihan raya negeri yang lepas BN menguasai 63 kerusi.