Saturday, July 20, 2013

Pakai Burka, Wanita Ini Selamat dari Alergi

Headline
Dennis Queen menderita penyakit yang dinamakan Polymorphic Light Eruption – (Foto: istimewa)
INILAH.COM, Jakarta – Dennis Queen tampaknya harus berterima kasih pada burka. Pakaian khas muslimah di negara Arab itu telah menyelamatkan kulitnya dari alergi sinar matahari yang dideritanya.
Dennis menderita penyakit yang dinamakan Polymorphic Light Eruption. Kulitnya akan pecah dan menjadi ruam jika ia terkena sinar matahari.
Wanita asal Inggris itu pun harus menggunakan burka atau jenis jilbab lainnya jika ia tetap ingin memiliki kehidupan normal sehari-sehari.
“Burka adalah satu-satunya yang memberikan perlindungan nyata dari matahari dan saya sangat menikmati memakai ini sekarang,” katanya seperti dilansir dari nydaily..
Sebelumnya Dennis melakukan segala upaya agar tetap bisa keluar rumah. Mulai dari memakai krim matahari hingga topi. Tetapi krim matahari tidak tampak untuk bekerja. Namun itu tak berhasil untuk kondisinya.
Ia pun sudah berburu pakaian panjang namun yang ditemuinya selalu tidak pas. Kalaupun ada yang panjang, harganya terlalu mahal. Sementara jenis lainnya terlalu banyak menfeksplor kulitnya.
Sampai akhirnya ia menemukan burka yang membuatnya lebih aman dan nyaman.
Keputusannya bukan tanpa hambatan. Dennis mendapatkan sejumlah komentar negatif.Namun ia tetap pada pendiriannya.
“Aku sudah beberapa kali mendapat komentar rasis tapi jujur saya tidak terlalu peduli soal itu,” jelasnya.

Orang kafir bersujud bila Rasulullah baca Surah Fushshilat

Suatu ketika, Rasulullah keluar di bulan Ramadhan menuju Masjidil Haram. Ketika itu Masjidil Haram dipenuhi oleh sekumpulan orang Quraisy yang ramai jumlahnya. Di antaranya terdapat para tokoh dan pembesarnya.

Lalu Rasulullah berdiri di tengah-tengah kumpulan ini. Kaki Fatimah tidak berganjak dari tempatnya menyaksikan keberanian ayahnya berada di tengah-tengah sekumpulan besar para musuhnya. Tiba-tiba Fatimah mendengar suara beliau yang keras ketika membaca surah An-Najm. Orang-orang kafir itu sebelumnya tidak pernah mendengar kalam Allah, kerana cara mereka yang turun-temurun adalah mengamalkan apa yang dipesankan oleh sebahagian mereka kepada sebahagian yang lain.

Di antara ucapan mereka adalah sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur'an yang artinya, "Janganlah kalian mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al-Qur'an ini dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya, supaya kalian dapat mengalahkan (mereka)," - (QS Fushshilat (41): 26).

Ketika Rasulullah mendatangi mereka secara tiba-tiba dengan membaca surah ini dan mengetuk telinga mereka dengan kalam Ilahi yang memukau, mereka merasa bingung dengan apa yang mereka alami. Maka masing-masing mereka mendengarkannya dengan baik. Tidak terfikir di benak mereka ketika itu sesuatu selainnya, sehinggakan ketika beliau membaca akhir surah ini seolah-olah hati mereka menjadi terbang. Kemudian beliau membaca ayat yang ertinya, "Maka bersujudlah kalian kepada Allah dan sembahlah (Dia)."

Setelah itu beliau sujud, dan tidak ada seorang pun yang dapat menguasai dirinya sehingga semuanya bersujud.

Fatimah hairan menyaksikan kejadian itu. Ia suatu pemandangan yang indah yang untuk saksikan. Para pemimpin kafir dan pembesar-pembesarnya menjadi bingung berhadapan dengan indahnya kebenaran. Penentangan yang ada di dalam hati mereka yang sombong dan suka mengejek itu pun hilang seketika. Mereka tidak boleh menahan diri untuk bersujud kepada Allah. Tiba-tiba diri mereka menjadi kosong dan sejuk ketika tersentuh oleh arus keyakinan yang timbul dari ayat-ayat Al-Quran yang mulia.

Kejadian ini merupakan petunjuk bagi setiap muslim bahawa sesungguhnya kekuatan keburukan itu, betapa besar pun berkuasanya kejahatan itu, ia tidak akan dapat melawan kalimah-kalimah yang mengandungi cahaya, dan tiang-tiangnya akan hancur apabila tersentuh oleh rahsia yang tersembunyi dalam kalimah -kalimah Allah ini.

Berita tentang kejadian ini sampai kepada orang-orang yang hijrah ke Habasyah, tetapi beritanya sama sekali berbeza dengan keadaan yang sebenarnya. Berita yang sampai kepada mereka adalah bahawa kaum Quraisy telah masuk Islam. Maka kembalilah mereka ke Mekah pada bulan Syawal tahun itu juga.

Ketika mereka telah berada di Mekah pada siang hari dan barulah mereka mengetahui masalah yang sebenarnya, mereka pun kembali ke Habasyah. Tidak ada yang masuk ke Mekah di antara mereka kecuali secara sembunyi-sembunyi atau dengan perlindungan seorang musyrik Quraisy, seperti Al-Walid bin Al-Mughirah dan Abu Talib bin Abdul Muththalib.

Diterjemahkan Oleh Detik Islam dari sumber islampos.com, Wallahu'alam bissawab والله أعلمُ بالـصـواب

“Al Aqsa hanya akan bebas oleh Ahlussunah, bukan Syiah” Syeikh Dr. Wael Alzard

Ramai yang menyangkakan bahawa Iran dan Syiah adalah golongan utama dalam membebaskan Palestin dinafikan oleh seorang Doktor dalam ilmu hadis dari Gaza, Syeikh Dr. Wael Alzard. Menurutnya, pembebasan masjidil Al Aqsa hanya dapat dilakukan oleh Ahlussunah wal jama'ah.

"Kami memegang prinsip sebagaimana disunnahkan oleh Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam dan para sahabat bahawa yang boleh membebaskan masjid Al Aqsa adalah Ahlussunah, itu sama sekali tidak ada keraguan," katanya kepada Islampos.com, Rabu (17/7/2013) di Masjid Darussalam Indonesia.

Pensyarah ilmu hadis di Gaza University for Applied Sciences ini mengakui Iran memang memberikan bantuan ke Hamas. Tapi bantuan murni itu lahir dari tawaran Iran, kerana Hamas tidak pernah meminta-minta bantuan.

Dari awal lagi, Hamas sudah menegaskan kepada Iran bantuan yang diberikan tidak boleh disertai dengan kepentingan tertentu.

"Urusan kita dengan Iran hanyalah urusan politik yang sama sekali tidak memberi kesempatan untuk menguubah fikrah dan akidah muslim Palestin," kata lelaki yang mempunyai dua cucu ini.

Hal ini dapat dilihat dari keyakinan muslim Palestin yang tidak lari sedikit pun dari Ahlussunah wal jama'ah. Bahkan Palestin adalah satu-satunya negara yang bebas Syiah.

"Silahkan buktikan di seluruh dunia ini, Palestin adalah satu-satunya negara yang tidak ada syiahnya," katanya.

Diterjemahkan oleh Detik Islam dari sumber islampos.com, Wallahu'alam bissawab والله أعلمُ بالـصـواب

"Setahu saya, di zaman Rasulullah orang syiah suka mencuri selipar."

Ketika dahulu pernah ada kesepakatan antara ulama Syiah dan ulama Sunni untuk mengadakan sebuah dialog berkaitan dengan ajaran Syiah. Tempat dan waktu pun ditentukan. Dialog dihadiri dan melibatkan tujuh orang ulama dari Sunni dan tujuh ulama dari Syiah.

Selang beberapa hari selepas perjanjian itu, tepat pada hari dan waktu yang telah ditentukan ulama-ulama syiah pun hadir dengan tujuh orang di dalam sebuah bilik. Namun, entah apa yang berlaku dengan ulama sunni kerana masih tiada seorang pun ulama sunni tiba. Para ulama Syiah pun menunggu. Setelah lama menunggu, orang yang ditunggu-tunggu tidak muncul-muncul juga, tidak ada tanda-tanda mereka akan datang.

Namun, setelah menunggu lama tiba-tiba masuk seorang ulama sunni dengan kasut yang dikepit bawah ketiaknya. Para ulama Syiah pun hairan dan lantas bertanya:

"Mengapa kau membawa masuk kasut mu ke ruangan ini?"

Orang yang ditanya lantas menjawab: "Setahu saya, di zaman Rasulullah orang-orang syiah suka mencuri kasut."

Ulama Syiah pun saling pandang antara satu dengan yang lain dengan pandangan hairan. Lalu mereka berkata: "Tapi di zaman Rasul belum ada Syiah."

"Kalau begitu perbincangan kita telah selesai. Dari manakah datangnya ajaran agama kamu jika di zaman Rasulullah tidak ada Syiah, "Jawab lelaki itu.
Sheikh Ahmed Hoosen Deedat Al-Hafiz 
Lelaki yang datang membawa kasut tersebut adalah Sheikh Ahmad Deedat Rahimahullah, penulis buku fenomenal The Choice.

Diterjemahkan oleh Detik Islam dari sumber islampos.com, Wallahu'alam bissawab والله أعلمُ بالـصـواب

Tuesday, July 16, 2013

‘Don’t take away our bank, supermarket’

Orang Asli tribes speak about their fear over the proposed amendments ton the 1954 Aboriginal People's Act.



PETALING JAYA: The Orang Asli community’s livelihood and culture are closely linked to the forest and they fear everything will be lost if the proposed amendments to the 1954 Aboriginal People’s Act are passed.
Abdul Rahman Hassan, an Orang Asli from the Lanoh tribe, said the Orang Asli community would feel lost without the forest.
“Our culture and tradition will be in danger of extinction. We get everything related to our culture and tradition there. It is our bank, supermarket and hospital,” said the 33-year-old from Grik in Perak.
He said the boiling the roots of the mitragyna speciosa (pokok ketum) and drinking it could treat diabetes.
“Drinking the boiled roots of the Ataulfo mango roots can lower high-blood pressure,” he added.
The amendments will enable the authorities to develop 645,000ha of Orang Asli land, including jungles.
The Orang Asli Development Department and other government agencies will be developing the land.
Each Orang Asli family will be allocated between 0.8ha and 2.4ha to set up their homes and farms.
Unfortunately, the Rural and Regional Development Ministry is only engaging the native people who are supporting the proposed amendments in their negotiations.
Arom Asil, from the Temiar tribe in Gua Musang, Kelantan, said he would be deprived of his livelihood if the amendments were passed.
“The government will kill us if they passed the amendments,” said the 63-year-old who collects and sells jungle produce.
“If we do not live near the forest, outsiders would have carried out logging and cleared the jungle.
“It is because of us there are still jungles around,” he said.
Why are they giving us land when we are originally from here? The land is ours,” he said.
Burial grounds
Village headman Mat Noing, 61, from Bera in Pahang, is worried that his activities may be restricted as a result of his efforts to oppose the proposed amendment.
“I am afraid that the government may impose restrictions on me even though there are none now,” said the Mat Noing from the Semelai tribe.
Shafie Dris, who is from the Jahut tribe, said his agriculture venture was at stake if the amendments were passed.
“I have a 4ha oil palm plantation on Orang Asli land that is not recognised by the government,” said Shafie from Kuala Krau, Pahang.
Shafie said had he worked on a recognised plot of Orang Asli land, the government would not compensate him when the land was taken away.
He said the proposed amendments failed to recognise Orang Asli burial grounds, especially when the community practices shifting cultivation.
“Traditionally we build homes and work on the land for three years before moving to another nearby spot.
“The burial grounds are located at the back of our houses and it is marked but the ministry have not told us anything,” said Shafie who is also an Orang Asli activist.
The government is expected to table the amended Bill soon, perhaps even in this ongoing parliament sitting. It is presently waiting for the Malaysian Human Rights Commission (Suhakam) to release its report on Orang Asli on July 18. The government is also involved in engaging with various stakeholders on the Bill.
- See more at: http://www.freemalaysiatoday.com/category/nation/2013/07/15/orang-asli-the-jungle-is-part-of-us/#sthash.sLldkfkQ.dpuf