Wednesday, February 2, 2011

Islam, Kristian, Sekular Bersatu Tolak Pidato Mubarak

Kubu Muslim, Kristen, dan Sekular Mesir BersatuTolak Pidato Mubarak
Tiga gadis Mesir berjalan untuk bergabung dengan demonstran lain di Tahrim Square
KAIRO 2 Feb 11: Massa di Tahrim Square, Kairo, tetap satu suara. Wartawan Al Jazeera Ayman Mohyeldin yang selama seminggu ini akui Twitternya menjadi rujukan berita terkini Mesir menyatakan mereka sepakat menolak pidato Presiden Hosni Mubarak.

Menurutnya, menganggap gerakan massa hanya dimotori kubu Islamis adalah salah besar. Demo Mesir, katanya, melibatkan semua masyarakat yang marah dengan Mubarak. "Kaum Muslim, Kristian, dan sekuler bergandengn tangan di Tahrim Square," katanya.

Kemarin, Perdana Menteri Israel, Benyamin netanyahu mengingatkan pemimpin Barat untuk tidak menolak Mubarak jatuh. Menurutnya, kelompok Islam ada di balik tunjuk perasaan rakyat dan siap mengambil alih pemerintahan Mesir. "Bila hal ini terjadi, maka akan menjadi ancaman bagi perdamaian Timur Tengah," ujarnya.

Tak satu pun dari demonstran yang diwawancara mengatakan mereka akan menerima Mubarak menyelesaikan masalah jabatannya. "Dia perlu berambus sekarang," kata Hassan Moussa di Tahrir Square hanya beberapa minit setelah pengumuman Mubarak.

"Kami tidak akan menerima dia memimpin hingga September, atau menyerahkan kekuasaan untuk wakil presiden yang baru dilantiknya, Omar Suleiman. Mereka perlu undur sekarang," katanya.

Pengunjuk rasa lainnya, Saber Shanan berkata: "Aku akan tinggal di sini sampai aku mati atau sampai perubahan sistem terjadi."
"Kami tak perlu janji, kami hanya ingin dia turun sekarang," teriak seorang demonstran di Alexandria. Pidato Presiden Hosni Mubarak yang bertujuan menenangkan massa demonstran, justru memancing kemarahan baru.

Seperti diberitakan sebelumnya, Mubarak menyatakan dirinya akan tetap menjabat sebagai presiden hingga September 2011 saat pemilu digelar di negeri itu. Dia juga menyatakan tak akan mencalonkan diri lagi. Sumber yang dekat dengan Gedung Putih menyatakan, pidato Mubarak dilakukan tak lama setelah menerima pesan pribadi Presiden AS Barack Obama.
Teks Lengkap Pidato Mubarak

"Saya berbicara dengan anda selama masa krisis yang sedang menguji Mesir dan orang-orangnya yang dapat meembawanya ke arah ke yang tidak diketahui.

Negara ini melewati masa sulit dan pengalaman keras yang dimulai dengan pemuda dan warga yang melakukan hak mereka untuk demonstrasi dan protes secara damai, menyatakan keprihatinan dan aspirasi mereka. Tetapi mereka cepat dieksploitasi oleh orang-orang yang berusaha untuk menyebarkan kekacauan dan kekerasan, konfrontasi dan melanggar legitimasi konstitusional, dan untuk menyerangnya.

Protes mereka telah berubah dari sebuah fenomena yang mulia dan beradab sebagai praktik kebebasan ekspresi menjadi bentrokan, dimobilisasi dan dikendalikan oleh kekuatan politik yang ingin meningkat dan memperburuk situasi.

Mereka menyasar keamanan nasional dan stabilitas melalui tindakan provokasi, pencurian dan penjarahan, dan kebakaran. Juga memblokir jalan dan menyerang instalasi vital dan properti publik dan swasta dan menyerbu beberapa misi diplomatik.

Kita hidup bersama melalui hari-hari yang menyakitkan dan hal yang paling menyakitkan adalah ketakutan yang mempengaruhi sebahagian besar rakyat dan kekhawatiran dan kegelisahan atas apa besok boleh membawa mereka dan keluarga mereka dan masa depan negara mereka.

Peristiwa beberapa hari terakhir ini mengharuskan kita semua sebagai manusia dan sebagai kepemimpinan untuk memilih antara kekacauan dan stabilitas dan untuk mengatur keadaan baru dan realitas baru. Rakyat dan angkatan bersenjata perlu bekerja dengan bijaksana dan dalam kepentingan Mesir dan warga negaranya.

"Saudaraku dan seluruh rakyat, saya mengambil inisiatif membentuk pemerintahan baru dengan prioriti baru dan tugas yang menanggapi permintaan kaum muda kita dan misi mereka.

"Saya percayakan wakil presiden dengan tugas mengadakan dialog dengan semua kekuatan politik dan faksi tentang semua masalah yang telah diajukan mengenai reformasi politik dan demokrasi dan perubahan konstitusi dan legislatif. (Ini) perlu untuk mewujudkan tuntutan-tuntutan yang sah dan untuk memulihkan hukum dan pesanan.

Tapi ada beberapa kekuatan politik yang telah menolak panggilan ini untuk dialog, menempel agenda khusus mereka tanpa memperhatikan keadaan Mesir dan rakyatnya. Mereka menolak panggilan untuk dialog. Saya langsung pidato kepada rakyat, yang Muslim dan Kristen, tua dan muda, petani dan buruh, dan semua orang Mesir dan perempuan di pedesaan dan kota seluruh negeri.

Saya tidak pernah, tidak pernah mencari kekuasaan dan orang-orang mengetahui situasi sulit yang saya pikul dan tanggung jawab saya dan apa yang saya ditawarkan negeri ini dalam perang dan perdamaian. Sama seperti mereka yang di angkatan bersenjata, saya mengkhianati kepercayaan atau melepaskan tanggung jawab dan tugas saya.

Tanggung jawab utama saya sekarang adalah keamanan dan kemandirian bangsa untuk memastikan transfer damai kekuasaan dalam keadaan yang melindungi rakyat Mesir dan memungkinkan menyerahkan tanggung jawab untuk siapapun orang memilih dalam pemilihan presiden mendatang.

Jujur saya katakan, terlepas dari situasi saat ini, saya tidak berniat mencalonkan diri untuk jabatan presiden baru. Saya telah menghabiskan bertahun-tahun yang cukup dalam hidup saya untuk melayani Mesir dan rakyatnya. Saya sekarang benar-benar bertekad untuk menyelesaikan pekerjaan saya untuk bangsa dengan cara memastikan serah terima yang aman, melestarikan legitimasinya, dan menghormati konstitusi.

Saya akan bekerja pada bulan-bulan sisa masa jabatan saya untuk mengambil langkah-langkah untuk memastikan transfer damai kekuasaan.Saya akan mengajak parlimen untuk membahas Pasal 76 dan 77 perlembagaan tentang kekuasaan presiden republik dan konfigurasi spesifik suatu periode untuk jabatan presiden...

Saya akan mempercayakan pemerintahan baru untuk melakukan cara-cara yang akan mencapai hak-hak sah rakyat dan yang kinerjanya harus menyatakan orang-orang dan aspirasi mereka reformasi politik, sosial dan ekonomi dan untuk memungkinkan kesempatan kerja dan memerangi kemiskinan, mewujudkan keadilan sosial .

Dalam konteks ini, saya minta pegawai polis melaksanakan tugasnya dalam melayani masyarakat, melindungi warga dengan integriti dan kehormatan, dan tetap menjamin kebebasan, hak-hak, dan martabat rakyat. Saya juga menuntut kekuasaan kehakiman dan pengawasan untuk segera mengambil tindakan yang diperlukan untuk terus mengejar penjahat dan untuk menyelidiki mereka yang menyebabkan kekacauan keamanan dan mereka yang melakukan tindakan pencurian, penjarahan dan pembakaran dan meneror warga.
Ini adalah janji saya kepada rakyat selama bulan-bulan tersisa masa saya saat ini. Aku meminta kepada Tuhan untuk membantu saya untuk menghormati janji untuk menyelesaikan tugas saya di Mesir. Saudaraku rakyat Mesir, Mesir akan keluar dari situasi saat ini dan menjadi lebih kuat, lebih percaya diri dan bersatu, dan stabil. Dan orang-orang kita akan muncul dengan kesedaran yang lebih tentang bagaimana untuk mencapai rekonsiliasi dan menjadi lebih bertekad untuk tidak merusak masa depan dan takdir.

Hosni Mubarak yang bercakap kepada anda hari ini adalah dengan bangga, telah menghabiskan puluhan tahun untuk melayani Mesir dan rakyatnya. Bangsa tercinta, ini adalah negara saya, itu adalah negara dari semua orang Mesir, di sini saya telah hidup dan berjuang demi membela tanah, kedaulatan, dan kepentingan atas tanah ini. Dan saya akan mati di sini, dan sejarah akan menghakimi saya untuk manfaat dan kesalahan." (IH/Sumber Al-Jazeera dll)

Tahniah Jihad Jane, Kamu Telah Buktikan Cinta Kamu!

Wanita Amerika Colleen LaRose yang menggunakan nama “Jihad Jane” mengaku salah atas tuduhan berkomplot mahu melakukan pembunuhan bersama pengganas Islam di negara lain. — Foto ihsan dari The Guardian

Jihad Jane’ mengaku salah komplot bunuh kartunis Nabi

PENNSBURG, 2 Feb 11: Seorang wanita Amerika Syarikat yang menamakan dirinya “Jihad Jane” dan “Fatima LaRose” mengaku bersalah di Pennsylvania berhubung tuduhan terlibat dalam komplot pengganas antarabangsa, yang dikaitkan dengan isu kartunis Nabi Muhammad s.a.w. dari Sweden. Colleen LaRose dituduh berkonspirasi dengan pengganas-pengganas Islam dan dikatakan pernah berjanji untuk melakukan pembunuhan atas nama jihad, demikian menurut pendakwa raya semalam.
Sabit kesalahan dia boleh dipenjara seumur hidup dan dikenakan denda RM3 juta (AS$1 juta).
Wanita berusia 46 tahun ini dituduh berkomplot untuk membunuh Lars Vilks, kartunis Sweden yang melakar wajah Nabi Muhammad, lapor BBC dan The Guardian hari ini.
Dia ditahan di Philadelphia pada Oktober 2009.
“Pengakuan bersalah hari ini, oleh seorang wanita subbandar Amerika yang berkomplot dengan orang lain untuk melakukan pembuhan di negara lain dan menyediakan sokongan material kepada pengganas,” kata pembantu peguam negara bagi keselamatan kebangsaan David Kris semalam.
Defendan bersama LaRose, Jamie Paulin-Ramirez dari Colorado, mengaku tidak bersalah sejak wanita berkenaan ditahan di Ireland bersama beberapa pengganas lain.
Pada Jun 2008, LaRose mengedarkan pengakuan menerusi YouTube bahawa dia “terdesak untuk melakukan sesuatu untuk memberikan bantuan” demi mengurangkan kesengsaraan umat Islam.
Tindakannya menarik perhatian pejuang-pejuang jihad di Asia Selatan dan Eropah.
Justeru dia didorong agar menyertai mereka di Eropah dalam usaha membunuh Vilks.
Rangkaian Al-Qaeda meletakkan ganjaran RM300,000 (AS$100,000) ke atas kepala Vilks.
Kemudian LaRose menggunakan nama samaran “Jihad Jane” dan “Fatima LaRose” dalam sesi perbualan menerusi Internet dengan pejuang-pejuang jihad, yang kesemuanya dipantau rapat oleh Biro Siasatan Persekutuan (FBI).
Komen Weblog Ibnu Hasyim: Tahniah kepada Jihad Jane. Kamu telah membuktikan cinta kamu kepada Allah dan Rasul Muhammad SAW. Memang orang yang kurang ajar ke atas Nabi SAW patut diberi peringatan, dengan apa cara sekalipun. Kamu telah menjalankan tugas kamu! Al-hamdulillah!
Ingat, Allah SWT telah membeli harta dan jiwa orang Muslim. Ingat, tanda-tanda kemenangan Islam ialah apabila umat Islam tidak menjadi seperti buih di laut, dan tidak kena penyakit 'cinta dunia & takut mati'. Ramai seperti kamu, adalah tanda-tanda gemilang Islam kian menjelang. Allahu Akbar! (IH)

Mesir Bantu Bentukkan Timur Tengah Yang Islamik?.

SESAK...penunjuk perasaan berkumpul di Medan Tahrir atau Medan Pembebasan di Kaherah, semalam.
Ratusan ribu penunjuk perasaan semalam membanjiri Kaherah dan bandar kedua terbesar Mesir, Iskandariah, dalam gerakan paling hebat untuk menyuarakan kemarahan mereka dalam usaha menggulingkan rejim Presiden Hosni Mubarak.
SEORANG lelaki membawa poster Presiden Hosni Mubarak yang digambarkan sebagai Adolf Hitler ketika menyertai tunjuk perasaan di Kaherah, semalam.
SEORANG lelaki membawa poster Presiden Hosni Mubarak yang digambarkan sebagai Adolf Hitler ketika menyertai tunjuk perasaan di Kaherah, semalam

Revolusi Mesir bantu bentuk Timur Tengah yang Islamik: Iran TEHERAN 2 Feb 11: Iran semalam berkata, pemberontakan di Mesir akan membantu mewujudkan Timur Tengah yang Islamik. Negara itu juga menuduh Amerika Syarikat campur tangan dalam gerakan mencari ‘pembebasan’ yang melanda negara Arab itu.
“Apa yang saya tahu, revolusi besar dan sejarah akan dicatatkan oleh rakyat Mesir.
“Saya pasti mereka akan memainkan peranan dalam mewujudkan Timur Tengah yang Islamik kepada mereka yang inginkan kebebasan, keadilan dan kemerdekaan,” kata Menteri Luar, Ali Akhbar Salehi. Ali yang disahkan secara rasmi oleh Parlimen Iran untuk jawatan itu berkata, pemberontakan di Mesir menunjukkan perlunya perubahan di rantau itu dan menamatkan pemerintahan rejim yang tidak popular. - Reuters
Komen Weblog Ibnu Hasyim: Bantu bentukkan wilayah 'Timur Tengah yang Islamik'. Bagaimana dengan Asia Tenggara yang Islamik? Kapan bisa diwujudkan?

Pemikiran Mahathir?

Takkan Melayu Hilang... Tutup Mulut Dr Mahathir


KL 2 Feb 11: Kata-kata bekas perdana menteri Dr Mahathir disifatkan oleh beberapa ahli dan kepimpinan bawahan UMNO sebagai telah nyanyok dan perlu tutup mulut segera, supaya tidak banyak menimbulkan masalah pada UMNO. Hal ini berikutan pandangan Dr Mahathir, kata “Takkan Melayu Hilang Di Dunia” perlu dinilai semula agar dapat ditentukan apakah generasi Melayu sebenarnya yang mahu dikekalkan, seperti yang disiarkan beberapa media hari ini.
“Kita harus tanya Melayu bagaimana yang kita tidak mahu hilang dari dunia ini . . . yang kita mahu ialah Melayu yang tidak hilang ialah Melayu yang gagah, kaya, ada ilmu, cekap dalam perniagaan, pengurusan dan sebagainya,” kata Dr Mahathir. Menyentuh mengenai isu ketuanan Melayu, beliau secara sinis menganggap orang Melayu tidak perlu untuk terus mendakwa diri mereka sebagai “Tuan” jika mereka sebenarnya hanya merupakan “kuli” kepada orang lain.
Sebelum itu beliau berkata, orang Melayu negara ini boleh disatukan jika dapat “ketuk kepala” Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat dan Datuk Seri Anwar Ibrahim atas alasan masalah itu berpunca daripada kedua-dua pemimpin Pakatan Rakyat tersebut.
“Cara mudah, ketuk kepala Nik Aziz dan Anwar kerana penyakit itu semua datang daripada mereka,” kata beliau menjawab satu soalan bagaimana untuk menyatupadukan orang Melayu yang menurutnya sudah berpecah tiga. Dalam kebanyakan ucapannya sejak Mac 2008, Dr Mahathir mendakwa orang Melayu sudah berpecah kepada tiga dan kuasa politik semakin mengecil dan tidak menolak kemungkinan akan menjadi macam orang Melayu Singapura.
Beliau juga menyifatkan usaha menyatupadukan orang-orang Melayu itu menemui jalan buntu kerana tidak adanya keinginan daripada kedua-dua pemimpin berkenaan, Mursyidul Am PAS dan Ketua Umum Pakatan Rakyat untuk ke arah itu.
“Niat mereka hanya untuk mendapat tempat. Anwar dengan dasarnya untuk sampai ke Putrajaya dan Nik Aziz adalah seorang ‘opportunist’. Tidak ada niat mereka ini untuk berkhidmat untuk agama, bangsa dan negara, itu yang susah hendak berbaik dengan mereka,” katanya dipetik Bernama.
Dr Mahathir berkata dalam keadaan kepercayaan kepada Umno juga goyah, orang Melayu kini diletakkan dalam keadaan serba-salah untuk memilih parti yang boleh dipercayai, justeru menyifatkan kaum Melayu kini dalam “Malay Dilemma 2”. Beliau berkata demikian pada wacana “Kaum Melayu dan Masa Depan” anjuran Majlis Bekas Wakil Rakyat Malaysia (Mubarak) Wilayah Persekutuan di sini hari ini.
Dalam tulisan blognya semalam, Dr Mahathir mendakwa Islam dibawa oleh Nik Aziz, yang juga Menteri Besar Kelantan, “lebih teruk dari Islam nasionalis” dan menjadi penyumbang kepada perpecahan orang Melayu Islam negara ini. Justeru, kata bekas perdana menteri, Nik Aziz rela mempertahankan Lee Kuan Yew dengan menganggap cadangan bekas perdana menteri Singapura itu supaya orang Islam Singapura tidak terlalu kuat berpegang kepada ajaran Islam adalah tidak seburuk dari Islam nasionalis Melayu.
“Cadangan Lee Kuan Yew ini dianggap oleh Nik Aziz sebagai lebih baik dari segala-gala yang dilakukan oleh nasionalis Melayu di Malaysia.
“Bayangkan sahaja Islam di bawah pemerintahan Nik Aziz dengan Karpal, Kit Siang, Guan Eng,” kata Dr Mahathir. Dr Mahathir seterusnya berkata, Nik Aziz dan PAS hanya berperanan untuk memecahbelahkan orang Melayu Islam di negara ini.
Seorang pimpinan bawahan UMNO dihubungi di Pasar Keramat pagi ini berkata, "Lebih baik Cek Dek (Dr Mahathir) tutup mulut sahaja, daripada turut menimbulkan masalah kepada UMNO dan bangsa Melayu lagi. Dulu dia sudah diberi peluang, tetapi tak boleh bina kekuatan orang Melayu, berilah peluang orang lain buat kerja pula. Jangan banyak menyalahkan sesama Melayu (Nik Aziz & Anwar).. Ingat, dia tak rasa ke, orang anggap dia dah nyanyok.." (IH)

Wanita Jadi Lelaki, Berkahwin Lelaki Jadi Wanita

 

DOMINIK SEJDA (kanan) dan Andrea Kajzarova dianggap pasangan paling pelik di dunia kerana kedua-duanya telah menukar jantina.

Pasangan paling pelik di dunia
PRAGUE - Sepasang kekasih di Republik Czech layak digelar pasangan paling pelik di dunia kerana mereka jatuh cinta selepas kedua-duanya menjalani pembedahan menukar jantina.
Dominik Sejda, 45, atau nama asalnya Ilona Tomeckova, dilahirkan sebagai wanita pernah menjalani pembedahan menukar jantina untuk menjadi lelaki dan dia kini hidup bersama dengan seorang lelaki yang telah menukar jantina menjadi perempuan, Andrea Kajzarova, 32.
Sejda memainkan peranan sebagai lelaki manakala Andrea merupakan wanita dalam hubungan tersebut.
Mereka yang bekerja sebagai pembantu ambulans di dua hospital di sini, berkenalan dalam satu laman web pondan.
Lebih aneh, Sejda pernah melahirkan seorang anak lelaki 25 tahun dahulu, Radim, yang juga telah menjalani pembedahan untuk menukar jantinanya menjadi wanita. - Agensi

Mesir, Mubarak, Merdeka

Fahmi Fadzil

 
Ketika saya menyiapkan rencana ini, rakyat Mesir tetap dengan intifadah mereka.  Hampir seminggu khabar dari Kaherah bercerita tak lain tak bukan: kisah protes jalanan yang tak henti-henti.
Memang kita mendengar betapa peritnya perjalanan perubahan yang harus ditempuhi rakyat Mesir: sudah puluhan yang terkorban; bursa saham Mesir merudum sekitar 16% dalam dua hari pertama protes 25 Januari yang lalu dan matawang Pound Mesir juga kian tergugat nilainya; dan buat pertama kali dalam sejarah Internet, kerajaan Hosni Mubarak telah menutup segala akses maklumat masuk dan keluar dari Mesir.  Ini semua cabaran.  Ini semua dugaaan.  Ini semua rintangan.
Dan kelihatan seperti rakyat Mesir tidak getar, masih keras kepala, masih berdegil mahukan kebebasan dan pendemokrasian yang lebih tulen dari yang sedang disaji rejim sedia ada.
Amatlah penting yang tempat berkumpul rakyat dalam gerakan perubahan ini ialah di Midan El-Tahreer (Liberation Square, atau Dataran Merdeka versi Mesir), kerana secara simboliknya inilah gerakan rakyat yang cuba memerdekakan Mesir dari cengkaman "penjajahan" Presiden Mubarak yang telah berkuasa sejak tahun 1981 (soalan korollari: Apakah kita juga punya "penjajah" sebegini di mana-mana negeri lain di Malaysia?).  Dan kelihatan apparatus kerajaan yakni polis dan tentera tidak mungkin memecah masuk dataran tersebut, kerana walaupun perintah berkurung berlangsung rakyat Mesir tidak berganjak dari situ malah menjemput Dr.El-Baradei (tokoh Nobel) untuk berucap!
Maka seminggu berlalu dan ribuan malah ratusan ribu rakyat Mesir masih berarak di Kaherah, Alexandria, Suez dan bandar-bandar lain yang turut serta.  Adakah rejim diktator lapuk akan mengalahkan usaha demokratik jujur pimpinan anak-anak muda ini?  Cuma masa menyimpan kata akhir jalan cerita.
Bagi tempoh yang terdekat, rakyat negara jiran mungkin meminjam semangat (rakyat Yemen juga mulai bangkit, mengikut khabar berita) manakala pengamat ekonomi resah dengan ketidaktentuan arah tuju politik yang pasti meninggalkan kesan - Adakah kerajaan pengganti yang bakal muncul akan bersikap populis untuk menangani krisis ekonomi dalaman yang makin meruncing, bila mana KDNK per kapita Mesir 2009 hanyalah USD2,270 (Malaysia adalah tiga kali ganda nilai ini)?
Turut resah adalah para politikus Amerika, Israel dan yang sewaktu dengannya, yang sedar pentadbiran Mubarak yang selama ini duduk diam sebagai sekutu mereka mungkin diguling dan diganti pentadbiran yang tidak semestinya pro-dasar-dasar sedia ada.
Adakah kerajaan-kerajaan yang berada di pelusuk Asia Tenggara ini juga harus gementar akan "tsunami" perubahan yang bakal mengunjung?
Bagi saya, hakikatnya Mesir, Tunisia, dan Yemen jauh berbeza keadaan ekonomi, sosial, dan juga politik sedia ada.  Mungkin sekiranya Mahathir masih berkuasa persoalannya amatlah rapat (mungkin kisah Mesir ini menjadi "amaran" buat si rambut putih seberang Laut Cina Selatan?), tapi tidak.  Sejak tahun 2003, Malaysia telah dipimpin dua Perdana Menteri berbeza, maka rasanya seperti situasi semakin berubah.
Tapi, apakah perubahan yang kita rasai ini perubahan tulen atau kosmetik?  Adakah perubahan yang kita ingini - pembahagian ekonomi yang lebih samarata, penstrukturan semula kuasa kehakiman, rombakan dalam sistem politik nasional dan juga lokal dengan pulangnya pilihanraya kerajaan tempatan antara lainnya - sedang berlaku pada tahap yang menyelerakan rakyat Malaysia?  Inilah antara persoalan yang akan kita hadapi sekitar PRU-13 nanti, yang akan dijawab dengan buangan kertas-kertas undi dan pemilihan untuk meletakkan kepimpinan di tangan pihak yang mana.
Bagi saya, sebenarnya, isu yang paling penting yang harus kita amati dalam situasi mutakhir di Kaherah terletak dalam perbincangan sekitar peralihan kuasa.  Apabila tiba waktu untuk Pakatan Rakyat mengambil alih Putrajaya, ia harus lakukan dengan cukup halus, diplomatik, dan tegas.
Di Mesir, walaupun gerakan Muslim Brotherhood (atau Al-Ikhwanul Muslimun, MB) yang diharamkan kerajaan Mubarak dianggap cukup kuat secara politiknya untuk mengambil alih gerakan perubahan ini, namun mereka telah bersepakat dengan para pembangkang dan anak-anak muda yang telah menggerakkan massa untuk memilih Dr El-Baradei sebagai wakil mereka dalam perbincangan dengan kerajaan Mubarak.  Ini langkah yang penting, kerana sudah pasti MB yang merupakan sebuah organisasi yang dicop pengganas oleh Amerika Syarikat dan Israel tidak akan mendapat simpati masyarakat antarabangsa - maka realiti politik semasa membuat MB mengalah demi keinginan bergerak ke hadapan.  Adakah MB akan mengkhianati gerakan perubahan ini nanti?  Sekali lagi, cuma masa yang tahu.
Maka di Malaysia, apabila tiba masa untuk "perbincangan" yang sama nawaitunya seperti yang kita saksikan di Mesir, kesemua peserta mestilah bersedia untuk mengalah demi kebaikan persepakatan.
Juga harus diingatkan pentingnya "perbincangan" ini melibatkan angkatan tentera, yang seharusnya bersikap berkecuali dan neutral, dan paling tidak para askar tidak berpihak kepada golongan yang telah kalah.  Tapi, oleh kerana saya bukan arif dalam isu-isu sebegini, saya akan henti di sini dahulu mengenai isu "perbincangan".
Yang paling penting, saya rasa, ialah kepercayaan rakyat Mesir bahawa ada hikmah di sebalik keperitan seminggu dua ini.  Yang paling penting, saya pasti, ialah kesanggupan rakyat Mesir untuk mencuba nasib mereka - dan berkorban - demi memajukan demokrasi di tanah air mereka.  Yang paling penting, saya percaya, ialah redhanya rakyat Mesir kepada perubahan yang melanda mereka, dan sabarnya mereka dalam menempuh dugaan yang mendatang.
Hari esok bakal tiba, dan semoga ianya lebih cerah bagi mereka.  Juga, insyaAllah, bagi kita.
*Fahmi Fadzil ialah seorang penulis, penggiat seni, dan setiausaha politik kepada Ahli Parlimen Lembah Pantai.

Timbalan Hosni Mubarak terkait dengan program rahsia CIA

Deputi Hosni Mubarak terkait dengan program rahasia CIAOleh Hanin Mazaya

WASHINGTON (Arrahmah.com) – Pria tersebut disebutkan oleh Hosni Mubarak sebagai deputinya yang pertama yang pernah ada, pimpinan agen mata-mata Omar Suleiman, dikabarkan mengatur interogasi brutal pada para tersangka teror yang diculik oleh CIA – dalam sebuah program rahasia – yang dikutuk oleh kelompok hak asasi manusia
Peranannya dalam kontroversi "perang terhadap teror" mengilustrasikan ikatan yang mengikat AS dan rezim Mesir, sebagai sebuah gelombang protes yang tidak pernah terjadi sebelumny, menentang Mubarak dan menempatkan Washington dalam sebuah dilema yang sulit.
Dengan kekuasaan Mubarak dalam bahaya, Suleiman diputuskan sebagai wakil presiden tersebut pekan lalu dan sekarang menawarkan  pembicaraan jangkauan luas  dengan opoisi dalam sebuah tawaran untuk meredam krisis.
Suleiman adalah seorang operator canggih yang melaksanakan negosiasi gencatan senjata yang sensitif dengan Israel dan Palestina juga dalam pembicaraan di antara para pesaing faksi Palestina, memenangkan pujian dari para diplomat Amerika.
Untuk para pejabat intelijen AS, ia telah menjadi seorang rekan terpercaya berkeinginan untuk mengejar para militan yang  tanpa ragu-ragu, menargetkan kelompok radikal setelah mereka melakukan sebuah serangkaian serangan pada para orang asing.
Sebuah produk dari hubungan AS - Mesir, Suleiman melangsungkan pelatihan pada tahun 1980-an di Sekolah Khusus Peerang John F. Kennedy dan Pusat di Fort Bragg di Carolina Utara.
Seroang pimpinan mata-mata, Suleiman dikabarkan merangkul program "pemindahan tahanan luar biasa" yang kontroversial milik CIA di bawah mantan Presiden George W. Bush, yang di dalamnya tersangka teror direnggut oleh Amerika dibawa ke Mesir dan negara lainnya tanpa proses legal dan disubjekkan untuk interogasi kejam.
Ia "dulunya adalah orang inti CIA di Mesir untuk program pemindahan tahanan," Jane Mayer, penulis "The Dark Side," menulis pada website New Yorker.
Setelah mengambil alih sebagai direktur mata-mata, Suleiman mengawasi sebuah perjanjian dengan AS pada tahun 1995 – selama kepresidenan Bill Clinton – yang memperbolehkan tersangka militan secara rahasia dipindahkan ke Mesir untuk diinterogasi.
Kelompok hak asasi manusia menuduh para tahanan telah sering menghadapi penyiksaan dan penganiayaan di Mesir dan di tempat lain, menuduh pemerintah AS melanggar kewajiban legal miliknya sendiri dengan menyerahkan para tersangka kepada rejim yang dikenal karena perlakuan kejamnya.
Dalam invasi AS di Irak pada tahun 2003, CIA  bergantung pada Suleiman untuk menerima pemindahan seorang tahanan yang dikenal sebagai Ibn Sheikh Al-Libi, yang para pejabat AS berharap dapat membuktikan sebuah hubungan antara Saadm Hussein, Irak dan Al-Qaeda.
Tersangka tersebut diikat dan ditutup matanya dan diterbangkan ke Kairo, di mana CIA percaya bahwa sekutu lama Suleiman akan memastikan sebuah interogasi yang sukses, menurut buku "The One Percent Doctrine" oleh penulis Ron Suskind.
Sebuah laporan Senat pada tahun 2006 menggambarkan bagaimana para tahanan dikunci di sebuah kurungan selama berjam-jam dan dipukuli, dengan otoritas Mesir mendorongnya untuk memastikan dugaan tersangka dengan Al-Qaeda dan Saddam.
Libi pada akhirnya mengatakan pada penginterogasinya bahwa rejim Irak pada saat itu berpindah untuk memberikan Al-Qaeda persenjataan biologis dan kimia.
Ketika menteri luar negeri AS pada saat itu, Colin Powell, membuat kasus tersebut sebagai alasan untuk perang di hadapan PBB, ia merujuk rincian dari pengakuan Libi.
Tahanan tersebut pada akhirnya mencabut pengakuannya.
Dalam "Ghost Plane," sebuah buku tentang program pemindahan tahanan, jurnalis Stephen Grey menulis bahwa Mesir menghadapi kecaman publik umum dari para legislator di Kongres tentang catatan hak asasi manusianya.
"Namun di dalam rahasia, pria seperti Omar Suleiman, mata-mata paling kuat di negara tersebut dan kepolisian rahasia, melakukan pekerjaan kami, pekerjaan semacam yang negara-negara Barat tidak memiliki selera untuk melakukpada websie New Yorker.
ram pemindahan tahanan," Jane Mayer, penulis "The Dark SIde,tuk interogasi  yang di dalamnya tannya sendiri," ia menulis. (SM/arrahmah.com)

Mesir: Pemimpin dunia perlu ambil iktibar


Salmah Mat Husain   
KOTA BHARU, 1 Feb: Pergolakan yang berlaku di Mesir sekarang sewajarnya memberi pengajaran pada pemimpin di negara lain agar tidak bermegah dengan kemenangan kerana akan berhadapan dengan rusuhan sekiranya menzalimi mereka.
Mursyidul Am PAS, Tuan Guru Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat, berkata kezaliman rejim Hosni Mubarak di Mesir terbukti dengan kemenangan besarnya yang dicemari dengan penyelewengan besar-besaran setiap kali diadakan pilihanraya.
Beliau berkata demikian ketika menghubungi Harakahdaily hari ini bagi mengulas perkembangan rusuhan yang berlaku di Mesir itu.
Katanya, kemenangan yang mencapai 99 peratus merupakan hasil demokrasi tempang dan cacat.
“Dalam masa yang sama, rejim inilah yang menangkap ribuan pimpinan Ikhwanul Muslimin bagi menghalang mereka bertanding  dalam pilihanraya.
“Jika benar Hosni Mubarak menang besar di dalam pilihanraya dengan sokongan rakyat, dari mana datangnya penunjuk perasaan yang berjumlah ratusan ribu pada hari ini,” ujarnya.
Akibatnya, jelas Tuan Guru lagi rakyat telah memprotes kedudukannya sebagai pemimpin tertinggi di negara itu walaupun pada zahirnya mendapat undi yang besar.
Sambungnya, rusuhan itu sebenarnya satu mesej yang besar terhadap mereka yang menipu rakyat.
“Mula-mula boleh la menipu, tapi bila dah lama rakyat sudah tidak boleh bertahan lagi,” ujarnya

Tuesday, February 1, 2011

Tahniah Buat Rakyat Mesir!












































Minyak Oh Minyak! Semua Jenis Minyak Naik Minyak hehehehe......

Islam Mahathir dengan Islam Nik Aziz

Analisa Harakahdaily   
Ketika berperang kata-kata dengan Menteri Mentor Singapura, Lee Kuan Yew, bekas Perdana Menteri, Tun Dr Mahathir Mohamad secara tiba-tiba menghunuskan keris beliau kepada Mursyidul Am PAS, Tuan Guru Datuk Nik Abdul Aziz Nik Mat kerana keengganannya untuk turut serta menghentam Kuan Yew.

Mahathir, tiba-tiba ingin muncul sebagai hero membela Islam dalam menghentam Kuan Yew, yang baru menerbitkan buku terbarunya bertajuk ‘Lee Kuan Yew: Hard Truths to Keep Singapore Going’ menyeru umat Islam di republik itu tidak terlalu berpegang kuat kepada ajaran Islam bagi membantu proses integrasi dan pembangunan negara tersebut, selain mengkritik cara Mahathir melayani pengganti-penggantinya selepas bersara menjadi Perdana Menteri.

Nik Aziz, bagaimanapun enggan terlibat dalam pertengkaran dua pemimpin tersebut, dengan mengatakan bahawa ada orang Melayu-Islam yang turut menolak Islam.

“Kuan Yew hanya cakap jangan pegang Islam kuat sangat berbanding dengan orang Melayu di negara kita yang buang semua (Islam) dan ambil kebangsaan,” Nik Aziz dipetik sebagai berkata.

Ekoran kenyataan Nik Aziz, Mahathir terus menuduh beliau sebagai tidak menyokong Islam kerana lebih utamakan peluang untuk memburuk musuh politiknya di Malaysia daripada mempertahankan serangan terhadap Islam dan penganutnya oleh Kuan Yew.

Namun begitu, serangan Mahathir terhadap Nik Aziz penuh dengan hipokrisi dan kemunafikan Umno, terutama ketika dilihat berlatarkan insiden-insiden terbaru cukup untuk menunjukkan Umno selektif dalam "membela Islam" dan untuk keuntungan politik semata-mata.

Contoh terbaru sifat hipokrisi ini terserlah ketika kempen pilihanraya kecil DUN Tenang yang baru berakhir, di mana Umno gagal untuk memberikan sebarang teguran terhadap pemimpin-pemimpin MCA yang menyerang amalan Islam semata-mata untuk menakutkan pengundi Cina terhadap PAS – satu misi, yang akhirnya gagal dengan teruknya berdasarkan keputusan pilihanraya di mana undi Cina kekal di tangan PAS.

Tiada seorang pun pemimpin Umno, termasuklah Mahathir yang tampil ke depan untuk mengkritik Presiden MCA, Chua Soi Lek atas penghinaan terang-terangan beliau terhadap Muslimat yang enggan bersalam dengan kaum lelaki bukan muhrim.

Disokong dengan kesenyapan Umno dan bermati-mati untuk tidak memohon maaf, Chua yang pernah ditangkap bertelanjang bulat dalam skandal video seksnya, telah secara angkuh mempertahankan kenyataannya. Dan ketika dikritik atas sifat jahilnya terhadap budaya lain, Chua membalas bahawa ‘there was nothing great’ (Apa yang hebat sangat) untuk mengenali amalan agama Islam.

"So what is so great about that? That is your religious values which I don't know. How am I to know when I'm not practising that religion?”

"I have the right to say that it's basic manners to shake hands with people. That's my values. Understand? You also must value my value, which is good manners, which includes shaking hands," Chua dipetik sebagai berkata.

(Apa yang hebat sangat tentang itu? Itu amalan agama kamu yang saya tak tahu. Macammana saya nak tahu jika saya tak pratikkan agama itu?

(Saya mempunyai hak untuk mengatakan bahawa ini adalah sikap sopan-santun yang asas untuk bersalam dengan orang lain. Itu nilai saya. Faham? Kamu mesti juga menghormati nilai saya, iaitu sikap sopan-santun yang baik, termasuk bersalam)

Dalam isu perpecahan umat Islam di negara ini, Mahathir sekali lagi lupa memandang cermin apabila menyalahkan PAS dan Nik Aziz sebagai pemecahbelah orang Islam kepada tiga kumpulan yang menjadi penghalang terbesar kepada ‘perpaduan Melayu’, apabila sejarah jelas menunjukkan bahawa siapa yang memecahkan politik orang Melayu pada tahun 1988 dan 1998.

Pada tahun 1988, pertarungan hebat Mahathir dengan bekas Menteri Kewangan Tengku Razaleigh Hamzah untuk menjadi Presiden Umno telah memecahkan Melayu Umno kepada dua, dengan terbentuknya parti Semangat 46 yang menjadi kepada pemangkin kepada gabungan parti pembangkang yang pertama, Angkatan Perpaduan Ummah antara PAS dan Semangat 46 (serta Hamim dan Berjasa).

Satu dekad kemudian, orang Melayu, dan orang Malaysia pada keseluruhannya dilanda kemelut apabila Mahathir mengambil keputusan untuk membuang Anwar Ibrahim daripada kabinetnya, dengan tuduhan-tuduhan yang paling dahsyat yang tidak pernah dilihat dalam sejarah politik orang Melayu.

Ini membuka kepada lanskap politik yang baru dengan pembentukan Parti Keadilan Rakyat, yang kini menjadi salah satu daripada tiga komponen parti terpenting dalam Pakatan Rakyat bersama DAP dan PAS.

Dalam meneruskan hujahnya, Mahathir juga menyoal, teruk sangatkah orang nasionalis ini dalam mengamal ajaran Islam apabila mereka memastikan negara sekarang diperintah oleh orang Melayu Islam dan juga menerap nilai-nilai Islam dalam pemerintahan.

Mahathir, sudah tentunya tidak mengiktiraf masalah yang paling jelas pada saat ini yang mengganggu pemimpin “nasionalis Melayu” iaitu rasuah dan salahguna kuasa yang kian berleluasa.

“Hasil perjuangan nasionalis Melayu negara sekarang diperintah oleh orang Melayu Islam. Mereka mengharamkan arak dalam majlis rasmi Kerajaan, menerap nilai-nilai Islam dalam pemerintahan, membekalkan wang kerajaan untuk kegiatan-kegiatan agama Islam, memudahkan orang Islam buat kerja haji, mendirikan masjid-masjid, menubuhkan Universiti Islam, Bank Islam, Takaful, badan-badan dakwah, mengharamkan loteri nasional dan berbagai-bagai lagi yang disuruh oleh agama Islam.

"Teruk sangatkah orang nasionalis ini dalam mengamal ajaran Islam?” kata Dr Mahathir, sekali lagi menunjukkan kejahilannya dalam politik Islam.

Mahathir akan menjadi orang terakhir untuk menerangkan samada korupsi berleluasa, kebocoran dan ketirisan besar-besaran, penyalahgunaan kuasa dan diskriminasi terhadap bangsa lain melalui slogan bauran Ketuanan Melayu juga sebahagian daripada "amalan Islam" yang disebutnya.

Sebaliknya, Nik Aziz nampak lebih konsisten dengan mesejnya bahawa Islam adalah penyelesaian kepada masalah-masalah negara, dan untuk beliau, tiada alasan untuk pemimpin Melayu-Islam untuk menolak Islam dalam pentadbiran mereka.

Untuk membuktikan keIslaman, mereka hanya perlu menghentikan rasuah, salahguna kuasa, kebocoran kewangan, ketidakadilan dan diskriminasi terhadap kaum lain.

Walaupun ramai yang nampak bahawa ini adalah satu percubaan (daripada buku politik Mahathir) untuk mengalihkan padangan orang Melayu kepada satu “common enemy” (musuh bersama) daripada kepincangan dan masalah yang sedang dialami negara kita, serangan Dr Mahathir mungkin mempunyai agenda yang lebih besar iaitu untuk membantu Umno untuk menyingkirkan musuh yang paling digeruni mereka, iaitu Nik Aziz.

Apa tidaknya, Nik Aziz telah menjadi batu sandungan (penghalang) terbesar kepada idea perpaduan Mahathir dan ipar-iparnya di Perkasa, dan mematikan Nik Aziz juga akan melumpuhkan segala usaha menjadikan Parti Islam SeMalaysia sebagai pengganti Umno pada pilihanraya umum yang akan datang.

Elia Geneid Shows Sarawak’s Youth How To Be Go-getter Land Grabbers!

By Sarawak Report
We all love to admire this well-connected socialite and businesswoman, Elia Abas/ Geneid!  She may look like a barely-dressed party girl, but Elia was scarcely into her 20s by the time she had established herself as a major figure in the oil palm plantation business, with a series of multi-million ringgit concessions all to herself!
But, of course the gorgeous young trend-setter is also Chief Minister Taib Mahmud’s neice and therefore has several brilliant (if hidden) attributes.  Indeed, the Taib family has provided endless shining examples for the rest of Sarawak’s youth, showing how to seize the many ‘Equal Opportunities’ that are handed to them through government projects!
As Taib exhorts the rest of the nation’s young people to show more energy and initiative and to work their way out of poverty, he can be proud of how all his nieces and nephews have been so successful in demonstrating the path to riches
The party-scene will miss you Elia!
Even more amazingly, Elia has been able to turn herself  into a multi-millionairess, while at the same time managing to spend so much time publicly partying and carrying on with goodness-knows how many chaps!  Two marriages and three engagements in two years is pretty good going for such a young thing!
Demure look for wedding No 1 (the marriage lasted 2 months)
Isn’t it lucky she has made so much money that she can pay for the millions of ringgit that has been spent in celebrating it all?  “Work hard and play hard” is clearly the motto that has been drummed into the mini-Taibs from an early age by their stern Uncle (the Chief Minister himself!!!).  [See our earlier reports with pictures on these lavish events] and [More here!]
So, what do we know about Elia’s business career and how she has maximised the opportunities which are on offer to her and also of course to others?  Well, in 2008 Elia managed to secure an amazingly good deal with the Land Custody and Development Agency (LCDA) that happens to be controlled by her Uncle Taib.  She spotted the opportunity, whereas others were so slow and lazy that they never even knew that the land was available!
In fact the eagle-eyed Elia had worked out that nearly 10,000 hectares of land had been removed from Native Customary Land owners in Tatau, Bintulu without them even having realised the situation!   She moved double-quick and (presumably because nobody else had yet expressed an interest in the land) she was able to pick it up for a mere snitch at just RM5.5 million.  This was a fraction of its real value of course and she arranged for it  to be paid in installments later!  What a hard business brain!!
‘Stupid’ Iban natives miss out!
Sarawak Report has made enquiries and discovered that the Iban communities of Tatau had their land alienated by Taib in 1996.  The stupid things are so poor they claim they could not afford a lawyer to fight their case, so how do they ever expect to take advantage of the opportunities Taib so kindly makes available to them?  Quite rightly, Taib has once again this week denounced as ‘crabs’ (?) those people who criticise the wealth of go-getters like Elia and the rest of his family members.  In fact he has made so many speeches denouncing the critics of his wealth we really think this must be the key platform on which he wishes to fight the coming election.  We have such a clever Chief Minister – three cheers for all your wealth and let us remind everyone about it and how cleverly you accumulated it!

Militer Sebut Tuntutan Rakyat Mesir "Sah"


Kairo  - Tuntutan rakyat Mesir "sah", kata militer kuat negara itu, Senin, dan mereka berjanji tidak akan menumpas protes massal anti-pemerintah yang dijadwalkan berlangsung Selasa.

"Bagi bangsa besar Mesir, angkatan bersenjata anda, yang mengakui hak-hak sah rakyat... tidak menggunakan dan tidak akan menggunakan kekerasan terhadap rakyat Mesir," kata militer dalam sebuah pernyataan.

Seorang juru bicara mliter yang dikutip televisi pemerintah Mesir dan kantor berita resmi MENA menambahkan, kebebasan berpendapat yang damai dijamin bagi semuanya.

"Kebebasan berpendapat dengan cara-cara damai merupakan hak setiap orang. Angkatan besenjata menyadari dan mengakui tuntutan sah rakyat yang terhormat," katanya.

"Keberadaan angkatan bersenjata di jalan adalah untuk kebaikan anda dan demi keselamatan dan keamanan anda, dan mereka tidak akan menggunakan kekerasan terhadap bangsa besar ini," katanya.

Analis politik Diaa Rashwan mengatakan kepada AFP, "Ini berarti militer kini memegang kendali."

Senin, hari ketujuh protes, demonstran memadati pusat kota Kairo untuk menolak pemerintah yang dibentuk Mubarak dalam tantangan terbesar atas kekuasaannya selama tiga dasawarsa.

Penyelenggara mengumumkan pemogokan umum tanpa batas waktu dan berjanji mengadakan "pawai sejuta orang" di ibukota Mesir itu pada Selasa, dan di kota kedua Iskandariyah, setelah sepekan pergolakan yang menewaskan sedikitnya 125 orang dan melukai ribuan lain.

Minggu, sejumlah helikopter dan jet tempur angkatan udara Mesir terbang rendah di Kairo, sementara truk-truk pasukan tambahan terlihat di lapangan pusat dimana pemrotes menuntut diakhirinya kekuasaan Mubarak.

Itu merupakan unjuk kekuatan militer terakhir Minggu dalam upaya yang tampaknya untuk mendesak pemrotes kembali ke rumah mereka sebelum berlakunya jam malam.

Tank-tank ditempatkan di lapangan tersebut sejak Jumat ketika pasukan militer dikirim ke jalan untuk melakukan pengamanan setelah demonstrasi dan kerusuhan anti-pemerintah selama beberapa hari.

Para aktivis muda pro-demokrasi Mesir yang menuntut pelengseran Mubarak diilhami oleh pemberontakan yang menggulingkan Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali pada bulan ini.

Ben Ali meninggalkan negaranya pertengahan Januari setelah berkuasa 23 tahun di tengah tuntutan yang meningkat agar ia mengundurkan diri meski ia telah menyatakan tidak akan mengupayakan perpanjangan masa jabatan setelah 2014. Ia dikabarkan berada di Arab Saudi.

Ia dan istrinya serta anggota-anggota lain keluarganya kini menjadi buronan dan Tunisia telah meminta bantuan Interpol untuk menangkap mereka.(Ant/top)

Sarawak ‘Robbing’ Hood must go

Joseph Tawie
Snap has placed Chief Minister Taib Mahmud alongside renowned dictators Saddam Hussein and Ferdinand Marcos.
KUCHING: Chief Minister Taib Mahmud is a “dictator” who needs to be ousted, according to Sarawak National Party (Snap),
“The Chinese call him Pek Mo. He is the modern-day ‘Robin Hood’ who robs the poor of their land to give to the rich…He’s not like the legendary hero who robbed the rich to help the poor,” quipped Snap vice-president Augustine Liom during a recent “Sarawak Must Change” forum organised by the Movement of Change Sarawak (MoCS).
Citing renown “dictators” such as Saddam Hussein and Ferdinand Marcos, who had their trusted aides to prop them up, he said Taib too had his George Chan (Sarawak United Peoples Party president), Alfred Jabu Numpang (Pesaka Bumiputera Bersatu deputy president), James Masing (Parti Rakyat Sarawak president) and William Mawan (Sarawak Progressive Democratic Party president).
“The ‘Pek Mo’ (Taib) is no less a dictator because he too has a George Chan, a Jabu, a Masing and a Mawan to share power with.
“He retains the bulk. He gets loyalty by sharing out the crumbs,” Liom said, pointing out that dictators have one feature in common – they ruled for long periods and the clever use of the power they wielded and the wealth they amassed perpetuated their position in power.
Liom, who is also Snap’s director of policy, said not many years ago, logging permits to large tracts of forest land was invariably given away to the children, in-laws, friends, nominees or political affiliates of those in power.
‘Now, large tracts of plantation lands are alienated to the same people.
“It is not so bad if the lands are state land but it would be sinful if the lands are native customary right (NCR) land. The Barisan Nasional government just couldn’t be bothered.
“The government says it would not take away people’s land without adequate compensation. But when a great number of native communities find out that the land they have cultivated for generations with rubber, padi and fruits are alienated to plantation companies, they are baffled.
“To them, the reality is they have been robbed of their land,” Liom said.
The Snap leader is of the view that the BN government has been and is oblivious to the plight of native land owners.
“The government has embarked on a policy to freeze issuance of titles to NCR land.
“It has amended the land code many times thus making it easier to grant provisional leases to companies belonging to BN leaders and their relatives and making it difficult for the NCR landowners to prove their claims to NCR lands,” said Liom, who was a former Session Court judge.
Disturbing the social fabric
He said in strategising to hold onto power at all costs, BN leaders were now preaching to the Tuai Rumah (longhouse headmen) and Ketua Kampungs to keep away opposition campaigners.
He said the selfish call goes against the core culture of hospitality practiced by the Dayak longhouse.
“It is a sure recipe that will destroy the social and cultural fabric of our communities. Again BN leaders couldn’t care less,” he said.
Liom said that as long as Sarawakians practiced the political culture of apathy, they would continue to suffer.
“In Sarawak we are under a dictatorship, but the majority of the people couldn’t careless about where the country and the state are heading to.
“As long as they have their meals and are free to move around unhindered, they don’t care who runs the government.
“Majority of the people don’t care if the political leadership is getting dictatorial and enriching themselves by amassing the shared wealth of the state.
“People don’t care if the leaders through their family and relatives, cronies and nominees monopolise major contracts for government projects, and if the powerful plunder and rob people’s land. They’ll still vote for BN.
“This is what is worrying us… There is a danger in this widespread political apathy because people get the government they deserve and the government can become a really bad government and yet the majority don’t care,” Liom lamented. (FMT)

PKR wants Rosmah as foreign minister

Patrick Lee

Since she appears to be more effective than minister Anifah Aman, a PKR leader suggests that Rosmah be allowed to run the ministry.
PETALING JAYA: A PKR leader has proposed that Malaysia’s self-styled First Lady Rosmah Mansor be allowed to spearhead the Foreign Ministry.
In a statement oozing with sarcasm, Ampang MP Zuraida Kamaruddin said Rosmah’s holiday trips were more effective than Foreign Minister Anifah Aman’s diplomatic duties.
The PKR Wanita chief also accused Anifah of apple polishing when the latter had referred to Rosmah as a “wise and clever woman”.
“Anifah should be working towards ensuring the safety of Malaysians who are in danger from the unrest in Egypt instead of sucking up to Rosmah,” she said.
A Bernama report on Saturday said that Anifah had termed Rosmah as a smart woman who helped to strengthen Malaysia’s ties with other countries.
The minister also endorsed her abilities at the international level, adding that he would be honoured to see the the prime minister’s wife being invited as a guest to a foreign state.
Anifah’s remarks came hot on the heels of the criticism from the opposition that Rosmah was taking advantage of her position to travel the world.
‘Rein in your wife’
Based on the minister’s glowing appraisal, Zuraida said: “It seems that Rosmah needs to be appointed as Foreign Minister as she is more effective than Anifah himself.”
The PKR MP also advised Prime Minister Najib Tun Razak to rein in his wife before she embarrassed the country.
She also criticised Najib for being evasive when queried on the First Lady of Malaysia (FLOM) division within the Prime Minister’s Department.
FMT previously reported that FLOM, a six-strong office within the PM’s Office, might have been involved with Rosmah-centric events.
These included the Islamic Fashion Week, the RM4.5 million three-day First Ladies Summit and several “official” visits to New York, Europe and the Middle East. (FMT)

Israel cari kawan baru



Oleh Aluf Benn – Haaretz (beritaislamglobal.blogspot.com – Original English version here)

Terhakisnya kuasa kerajaan Presiden Mesir Hosni Mubarak meninggalkan Israel, secara strategiknya, dalam keadaan tertekan. Tanpa Mubarak, bermakna tiada lagi sahabat yang tinggal di Timur Tengah; tahun lepas, Israel kehilangan Turki.

Mulai sekarang, ianya akan menjadi sukar buat Israel memberikan kepercayaan mereka kepada kerajaan Mesir yang terumbang-ambing akibat perselisihan dalaman. Semakin terpencilnya Israel di rantau itu, ditambah pula dengan kerajaan AS yang semakin lemah, akan memaksa mereka mencari dan memujuk sekutu baru yang dilihat berpotensi.

Selama ini, polisi luar IsraeI bergantung kepada rakan sekutunya di rantau itu yang menyumbangkan maklumat strategik semenjak tahun 1950 lagi. Rakan pertamanya adalah Peranchis, yang pada masa itu menguasai Afrika dan menyediakan senjata canggih dan keupayaan nuklear kepada Israel.

Selepas peperangan dengan Mesir pada 1956, David Ben-Gurion cuba mewujudkan kerjasama dengan negara-negara bukan Arab di rantau tersebut, termasuklah Iran, Turki dan Ethiopia. Shah Iran merupakan rakan sekutu utama Israel, yang membekalkan minyak dan wang sebagai tukaran daripada pembelian senjata. Angkatan tentera dan agensi perisikan negara-negara berkenaan bekerjasama menghadapi pemerintahan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, yang dilihat sebagai ancaman utama kepada Israel dan kerajaan-kerajaan Arab yang pro-Barat.



Sekutu Israel seterusnya didahului dengan Raja Hussein dari Jordan dan Raja Hassan dari Maghribi. Kerjasama ini berlangsung secara rahsia, begitu juga hubungan dengan pemimpin-pemimpin masyarakat Kristian Lubnan. Lewat 1970an menyaksikan kejatuhan Shah Iran, dan lahir penggantinya iaitu negara republik Islam yang anti-Israel.

Pada waktu yang sama, Mesir dan Israel menamatkan konflik antara mereka dengan menandatangani perjanjian damai. Mesir meletakkan dirinya sebaris dengan Arab Saudi, sebagai ketua kem pro-Amerika.

Mubarak mewarisi perjanjian damai itu selepas pembunuhan Presiden Anwar Sadat. Mubarak bersikap dingin dalam hubungan awamnya dengan Israel, menolak untuk melawat negara itu kecuali ketika pengkebumian Yitzhak Rabin, yang mana ini melambatkan keserasian antara kedua-dua negara tersebut.

Hubungan antara Angkatan Pertahanan Israel dan tentera Mesir berjalan di peringkat rendah, tanpa latihan ketenteraan bersama. Golongan awam Mesir memusuhi Israel secara terbuka dan penggunaan istilah-istilah anti-semitik sudah menjadi lumrah. Hubungan sivil antara kedua-dua negara berkenaan berlangsung melalui pekerja-pekerja kerajaan serta ahli-ahli perniagaan.

Sekalipun begitu, "perdamaian yang dingin" dengan Mesir ini merupakan kerjasama strategik Israel paling penting di Timur Tengah. Keselamatan yang wujud hasil kerjasama itu memberi peluang kepada Israel untuk menumpukan aspek ketenteraan di perbatasan sebelah utara dan kawasan penempatan di sekitarnya. Bermula pada tahun 1985, perdamaian dengan Mesir membolehkan Israel memotong peruntukan pertahanan, yang sekaligus membantu membangunkan ekonomi.

Mubarak dilantik sebagai presiden ketika Israel diterajui oleh Menachim Begin, dan sejak itu beliau telah bekerjasama dengan lapan orang pemimpin Israel yang berbeza. Beliau mempunyai hubungan yang rapat dengan Yitzhak Rabin dan Benjamin Netanyahu. Dalam tempoh dua tahun yang lepas, sekalipun berlaku kegagalan dalam rundingan damai antara Israel dan Palestin dan memburukkan lagi hubungan antara Netanyahu dan dunia Arab, Mubarak telah bertindak menjadi tuan rumah kepada perdana menteri itu di Kaherah dan Sharm el-Sheikh.

Persahabatan antara Mubarak dan Netanyahu adalah diasaskan oleh kebimbangan antara kedua-duanya berhubung dengan pengukuhan dan peningkatan kuasa Islamis Iran, di samping kelemahan dan sikap menjauhkan diri kerajaan AS di bawah pimpinan Barack Obama.


Ketika ini, tatkala Mubarak bertungkus-lumus menyelamatkan kerajaannya, Israel hanya mempunyai dua rakan sekutu strategik di rantau berkenaan: Jordan dan Pihak Berkuasa Palestin. Kedua-dua rakan sekutu ini berjanji untuk menguatkan perbatasan Timur Israel dan juga berusaha menamatkan serangan ganas dan memperlahankan gerakan Hamas.

Tetapi hubungan Israel dengan dua rakan sekutu ini mempunyai komplikasi. Latihan keselamatan bersama berlangsung secara sederhana dan hubungan antara pemimpin tidak begitu baik. Raja Abdullah dari Jordan enggan bertemu Netanyahu, sementara Presiden Palestin Mahmoud Abbas sedang melancarkan gerakan diplomatik menentang kerajaan sayap-kiri Israel. Susah hendak dinyatakan bagaimana Jordan dan Pihak Berkuasa Palestin dapat mengisi peranan yang dimainkan Mesir untuk Israel.

Dalam situasi ini, Israel terpaksa berusaha mencari rakan-rakan sekutu yang baru. Calon-calon paling sesuai termasuklah Syria, yang sedang menggiatkan usaha untuk mengambil kesempatan atas kelemahan Mesir bagi menempatkan dirinya dalam kelompok negara-negara utama di rantau itu.


Imej-imej dari Kaherah dan Tunisia pastinya menggerunkan Presiden Syria Bashar Assad dan kroni-kroninya, sekalipun berjaya mencapai kejayaan mewujudkan kerajaan baru Lubnan yang disokong Hezbollah. Ketika mana dunia Arab ditenggelami gelombang protes anti-kerajaan, kini hanya tinggal Assad dan Netanyahu yang boleh dipertanggungjawabkan melindungi orde lama Timur Tengah.

Bagaimana Rasa Bagi Seorang fir'aun Kecil!



Source : The Sun (beritaislamglobal.blogspot.com)

Akibat terlalu panik, keluarga Presiden Mubarak dilaporkan lari meninggalkan Mesir menuju ke tempat perlindungan, sebuah rumah mewah milik mereka berharga £8.5million di kota London.

Anak Mubarak, Gamal, 47, dikatakan yang terawal melarikan diri, terbang ke Britain dengan jet peribadi bersama keluarga beliau berserta 97 buah bagasi.
Beliau memiliki rumah agam enam-tingkat era George tidak jauh dari Harrods di Knightsbridge, Barat London.


Tetapi menurut khabar angin yang datangnya dari masyarakat Mesir di Britain, President, 82, dan isterinya Suzanne, 69, juga merancang untuk menginap di rumah mewah tersebut.

Malah, beberapa petugas bagasi di Heathrow memaklumkan yang mereka terlihat Wanita Pertama sampai di lapangan terbang.

Mubarak dikatakan telah mengumpul kekayaan bernilai £25billion untuk keluarganya sejak memegang tampuk kuasa pada 1981.

Suzanne, Gamal dan abangnya, Alaa, 49, telah menjadi lambang kemewahan dan korupsi di Mesir.

Malah Suzanne, yang berdarah Welsh itu, diberi jolokan Marie Antoinette iaitu Permaisuri yang gila kemewahan yang dipenggal kepalanya semasa Revolusi Perancis.
Wanita Pertama yang meminati bidang fesyen itu memegang passport Britain kerana ibunya Lily May Palmer adalah warga Britain – yang merupakan anak kepada seorang pelombong arang batu di Pontypridd.


Lily bertemu dan berkahwin dengan pelajar perubatan Mesir Saleh Thabet semasa bertugas sebagai jururawat di Utara London pada 1934.

Mereka kemudiannya kembali ke Mesir dan di sanalah, pada tahun 1941, Suzanne dilahirkan.

Tentang asal-usulnya yang berdarah Inggeris, beliau berkata: "Saya selesa hidup dalam dua budaya, dua bahasa dan dua dunia."

Massa Muslim mulai bergerak, Barat khawatirkan revolusi Islam



Massa Muslim mulai bergerak, Barat khawatirkan revolusi Islam
Oleh Hanin Mazaya
KAIRO (Arrahmah.com) - Pemberontakan yang berhasil menurunkan rezim diktator Ben Ali di Tunisia dan tampaknya, Mubarak akan menjadi pemimpin berikutnya yang harus pergi, lapor The Jakarta Globe.
Beberapa pengamat bahkan membandingkan gelombang demonstrasi di negeri-negeri Muslim dengan jatuhnya tirai besi dan runtuhnya komunisme di Eropa-peristiwa tak terduga sampai itu benar-benar terjadi-dan bahwa Tunisia dan Mesir adalah awal dari gelombang yang akan menyapu rezim-rezim otokratis terkenal lainnya di dunia Islam.

Shadi Hamid dari Pusat Brookings Doha mencatat, "penghalang ketakutan yang selama ini tersimpan oleh massa Muslim di bawah kontrol penguasa mereka telah rusak oleh pemberontakan Tunisia".

Setelah protes Tunisia kini di Mesir, Aljazair, Yordania dan Yaman memulai hal yang sama.  Perkembangan ini menempatkan Barat dalam ketakutan.

Baik Ben Ali di Tunisia dan Mubarak di Mesir telah selama bertahun-tahun menerima banyak dukungan dari negara Barat.  Amerika mendukung Mesir miliaran dollar per tahun.  Tunisia merupakan "poster boy" IMF.

Bahkan meskipun fakta bahwa banyak pendemo di Tunisa berada di bawah slogan "kebebasan dan demokrasi", negara-negara Barat cemas pendukung politik Islam akan datang pada kekuasaan.

Namun, dapat dikatakan bahwa pengambilalihan Islam masih merupakan hasil yang paling mungkin pada peristiwa di Tunisia, Mesir, Aljazair, Suriah, Yordania dan Yaman.

Karena meskipun pasukan Islam mungkin tampak sebagian besar tidak ada di protes saat ini, siapapun yang akrab dengan sentimen dan kecenderungan Islam selalu terasa kuat di antara rakyatnya.

Hal ini dibuktikan dengan fakta bahwa pemakaman Mohammed Bouazizi, pemuda Tunisia yang menempatkan dirinya diantara pendemo yang menentang Ben Ali dan dengan demikian memulai pemberontakan, menampilkan slogan seperti "martir ini dicintai Allah!"

Dan juga oleh kenyataan bahwa penyelenggara demonstrasi di Mesir pada Selasa lalu merasa diri mereka terpaksa tidak menunjukkan pandangan agama dan meminta kepada massa hanya membawa bendera Mesir dan tidak ada simbol-simbol agama.

Namun demikian, protes dimulai dengan sholat berjamaah di alun-alun di mana massa berkumpul.

Kenyataan bahwa umat Islam tidak menginginkan demokrasi dan sekuler, telah ditunjukkan oleh banyak jajak pendapat.  Survei terbaru menunjukkan bahwa 85 persen Mesir dan 91 persen Indonesia mendukung kehadiran Islam dalam politik.  82 persen Mesir, 70 persen Yordania dan 40 persen Indonesia mendukung pengenalan hukum Islam seperti rajam untuk perzinahan dan hukuman mati karena murtad.

Oleh karena itu, adalah mungkin bahwa kata kebebasan bagi Muslim dipahami bukan sebagai permisif dan tidak menghormati hukum agama, seperti di Barat, melainkan untuk hidup menurut Islam.  Sebagai contoh, Tunisia melarang penggunaan kerudung dan memenjarakan Muslimah yang mengenakannya.

Meskipun media Barat terdiam mengenai ini, kita harus mengakui pemberontakan populer di negara-negara Arab berhubungan dengan Islam.  Sedangkan kaum revolusioner tidak menyerukan pembentukan sebuah negara Islam.

Sementara itu, diplomat dan pengamat Barat memprediksi bahwa ketidakstabilan yang berkembang di negeri-negeri Muslim ini akan memberikan tantangan baru bagi AS dan "Israel", yang dianggap "master" di Timur Tengah, ujar CBS.

"Mesir sekarang menyaksikan tsunami politik besar dengan konsekuensi untuk wilayah disekitarnya," seorang diplomat Arab dari negara Timur Tengah yang bertugas di Kairo sampai Agustus lalu memperingatkan.  Berbicara kepada CBS News, diplomat ini memperingatkan "berbagai bahaya" setelah perubahan rezim di Mesir.

Ke depan, ia mencatat kemungkinan yang muncul adalah meningkatnya secara signifikan "militan" Islam di Mesir yang akan mengambil garis keras terhadap AS dan Israel untuk menjadikan Mesir simbol perubahan bagi orang lain untuk diikuti.

Sementara saat ini tampaknya Presiden Hosni Mubarak menentang kemungkinan, Mesir semakin terkunci dalam keadaan lumpuh yang memaksa banyak pengamat untuk mengundurkan diri untuk merubah rezim.

Sementara itu, kembalinya Mohamed El-Baradai untuk memimpin protes telah meningkatkan kemungkinan masa depan pemerintah akan dipimpin oleh seorang tokoh yang akan mengejar reformasi internal sambil mempertahankan hubungan dengan AS, "Israel" dan kekuatan luar lainnya.

Mubarak, dalam tiga dekade jabatannya sebagai presiden, telah seringkali menjadikan dirinya kekuatan untuk asing sebagai benteng paling efektif melawan "Islam garis keras".

Namun demikian, kemungkinan "Ikhwanul Muslimin" berkuasa sepertinya akan menjadi nyata.

"Ikhwanul Muslimin telah mengambil peran sebagai wakil kunci dari underdog Mesir.  Dalam situasi seperti sekarang ini, rakyat memiliki kesempatan sempurna untuk didengar dari sebelumnya," ujar diplomat Arab lainnya yang bertugas hingga 2009 di Kairo.  (haninmazaya/arrahmah.com)

AS ‘bermain’ ganda di Mesir

AS ‘bermain’ ganda di Mesir

Oleh Althaf
WASHINGTON (Arrahmah.com) - Standar ganda Washington terhadap Mesir dan perkembangannya telah menjadi satu lagi bukti bahwa AS telah mendukung kediktatoran Hosni Mubarak selama bertahun-tahun.
"Pesan Amerika konsisten. Kami ingin melihat pemilu yang bebas dan adil dan kami berharap bahwa akan menjadi salah satu hasil dari apa yang sedang terjadi sekarang," kata Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton.

"Kami ingin melihat transisi yang tertib sehingga tidak ada yang mengisi kekosongan. Yang terjadi seharusnya adalah bagaimana berpikir untuk mewujudkan pemerintahan demokratis yang partisipatif," tambahnya.

"Apa yang kami katakan adalah bahwa setiap upaya pemerintah haruslah untuk merespon kebutuhan rakyat mereka, untuk mengambil langkah-langkah yang akan menghasilkan transisi yang tertib dan damai menuju rezim demokrasi demi kepentingan semua orang, termasuk pemerintah saat ini," lanjut Clinton.

Ungkapan ini datang saat Washington terlihat benar-benar menyatakan dukungannya bagi diktator Mesir dalam beberapa kesempatan.

"Mubarak telah menjadi sekutu kami dalam sejumlah hal. Dan dia sangat bertanggung jawab terhadap kepentingan geopolitik di wilayah ini, juga upaya perdamaian Timur Tengah. Tindakan Mesir telah telah menormalisasi hubungan dengan Israel. Saya tidak akan melihatnya (Mubarak) sebagai diktator," kata Wakil Presiden AS, Joe Biden. pada hari Kamis lalu.

Analis politik percaya seruan AS terhadap otoritas Mesir dalam rangka mewujudkan tuntutan reformasi adalah sandiwara, karena Gedung Putih jelas keberatan untuk menentang Mubarak. (althaf/arrahmah.com)

Israel menyediakan senjata untuk Mesir

Israel menyediakan senjata untuk Mesir

KAIRO (Arrahmah.com) - Israel telah menyediakan senjata untuk pemerintah Mesir di tengah pemberontakan rakyatnya menuntut pengunduran diri Presiden Hosni Mubarak yang telah menjabat selama tiga dekade lebih.
Laporan mengikuti percakapan telepon antara AS, Mesir dan Menteri Pertahanan Israel saat aksi unjuk rasa memasuki hari ketujuh pada Senin (31/1/2011).

Menteri Pertahanan Mesir, Mohamed Hussein Tantawi telah memperingatkan para pendemo agar tidak menentang jam malam yang kini diperpanjang waktunya dari pukul 15.00 sampai pukul 08.00 waktu setempat.

Pada Kamis, menteri kabinet Israel berbicara dengan syarat anonim ke media Israel, menyatakan bahwa Presiden Mesir yang didukung oleh kecakapan militer yang kuat pada akhirnya akan menundukkan krisis, lapor Washington Post.

"Rezimnya telah berakar pada aparat keamanan dan militer," ujar menteri Israel, menambahkan bahwa,

"Mereka akan melatih kekuatan, kekuasaan di jalan dan melakukannya.  Tapi mereka cukup kuat sesuai dengan penilaian saya untuk mengatasi itu."

Para pengunjuk rasa turun ke jalan pada hari keenam meskipun peringatan demi peringatan disampaikan dan tentara hadir di sana. (haninmazaya/arrahmah.com)

Raja SAUDI Pula Dalam Kebimbangan

Jangan sangka kerusuhan di Tunisia dan Mesir baik-baik saja. Untuk beberapa negara Arab yang serupa, para pemimpinnya saat ini mungkin tengah ketar-ketir. Salah satunya adalah Raja Saudi, Abdullah.
Ia telah secara rasmi menyatakan dukungannya untuk Presiden Mesir, Hosni Mubarak dalam menghadapi protes besar-besaran, demikian disiarkan Saudi Press Agency (SPA), Sabtu.
Dikatakan Raja Abdullah menelefon Mubarak setelah protes anti-pemerintah besar-besaran di Mesir di mana para penunjuk perasaan menyerukan sang Presiden Mesir untuk turun.
"Tidak ada orang Arab atau Muslim yang boleh menoleransi setiap campur tangan dalam keamanan dan stabiliti Arab dan Muslim Mesir dengan mengatasnamakan kebebasan berekspresi, memanfaatkannya untuk menyuntikkan kebencian yang merosak mereka," kata Raja Abdullah.
"Ketika mereka mengutuk, Kerajaan Arab Saudi beserta rakyat dan pemerintahnya menyatakan mendukung semua sumber daya yang dimiliki pemerintah Mesir dan rakyatnya," tambah SPA.
Arab Saudi adalah negara dengan pengekspor minyak terbesar di dunia dan tempat kelahiran Islam. Baik Arab Saudi dan Mesir adalah sekutu regional utama dari Amerika Syarikat.
Pejabat berita itu menyatakan kepada Mubarak bahawa raja tua itu akan mampu mengawall semuanya di Mesir. Namun jelas, pernyataan dari Raja Abdullah adalah sebuah kekhuatiran yang besar bahawa gejolak di Tunisia dan Mesir mungkin akan segera hinggap di Saudi. (sa/ap)

Keluarga Mubarak Sudah Angkat Kaki

Hosni Mubarak panik. Keluarganya dilaporkan telah melarikan diri dari Mesir dan mencari tempat perlindungan di London. Di ibukota Brtitain itu keluarga Mubarak memang memiliki rumah mewah bernilai £ 8.5 juta (* Amboi... hebatnya!)
Gamal, 47, anakputra Mubarak yang dicanangkan bakal jadi presiden Mesir penerus Mubarak, dilaporkan memimpin pelarian ini. Ia dan keluarganya terbang ke Britain dengan jet peribadi membawa sembilan puluh tujuh beg besar.
Gamal juga memang memiliki rumah berlantai enam di Georgia, London Barat.
Namun menurut khabar, sang presiden yang berumur 82 tahun, dan isterinya Suzanne, 69, juga berencana untuk berangkat ke Ritzy.
Sumber di Heathrow bahkan mengatakan telah melihat wanita pertama negara Mesir itu di lapangan terbang.
Mubarak dikatakan telah mengumpulkan kekayaan lebih £ 25 billion untuk keluarganya sejak tahun 1981.
Suzanne, Gamal dan Alaa (putra Mubarak yang lain berusia 49 tahun), telah menjadi simbol korupsi di Mesir.
Suzanne yang merupakan keturunan separuh Wales itu bahkan dijuluki Marie Antoinette, seorang ratu simbol kemewahan dari Perancis yang kehilangan kepalanya dalam Revolusi Perancis.
Suzanne memegang pasport Britain kerana ibunya, Lily Mei Palmer adalah seorang Inggeris, sedangkan ayahnya adalah seorang penambang batu bara di Pontypridd.
Lily bekerja sebagai perawat ketika bertemu dan menikah dengan mahasiswa kedoktoran Mesir Saleh Thabet di London Utara pada tahun 1934.
Mereka kemudian pindah kembali ke negaranya di mana Suzanne lahir pada tahun 1941.
Dia menjelaskan akar Inggrisnya: "Saya selesa di kedua budaya, dalam dua bahasa, di kedua dunia itu." (sa/sun)

Himpunan 1 Juta Orang di MESIR Esok

Penunjuk perasaan Mesir pada hari Isnin ini (31/1) menyerukan pemogokan tak terbatas di Mesir dan "perhimpunan 1 juta orang" pada Selasa esok (1/2) di Kaherah, meningkatkan tawaran mereka untuk menggulingkan rejim Presiden Hosni Mubarak.
"Diputuskan semalam bahawa akan ada satu juta orang berhimpun pada hari Selasa esok," Eid Mohammed, salah satu penunjuk perasaan dan penyelenggara aksi, mengatakan kepada AFP.
"Kami juga memutuskan untuk memulai pemogokan umum terbuka," katanya.
Pemogokan pertama kali diserukan oleh para pekerja di kota Terusan Suez pada Minggu malam .
"Kami akan bergabung dengan pekerja Suez dan mulai melakukan mogok umum sampai tuntutan kami dipenuhi," kata Mohammed Wakid, demonstran lainnya kepada AFP.
Di medan Tahrir Kaheraho, ratusan penunjuk perasaan berkemah sepanjang malam, dalam usaha untuk tetap melakukan aksi unjuk rasa anti-pemerintah terbesar dalam tiga dekae.
Presiden Hosni Mubarak telah memilih wakil presiden pertamanya dalam 30 tahun pemerintahannya, dan perdana menteri baru dalam sebuah usaha putus asa agar dia tetap berkuasa.
Para penunjuk perasaan berkeras mereka tidak akan pergi sampai Mubarak tidak, meneriakkan "Kami akan tetap tinggal di medan, sampai si pengecut itu turun."
Mubarak, yang memecat kabinetnya pada hari Jumaat lalu, memilih perdana menteri barunya pada hari Ahad untuk melakukan reformasi secara demokratik. (fq/afp)
sumber

MESIR Tutup Perbatasan Gaza

Pihak berkuasa Mesir telah menutup persimpangan dengan Jalur Gaza tanpa batas waktu dan menyebarkan tenteranya di Sinai utara, kata seorang koresponden Ma'an Ahad (30/1).
Pihak keamanan Mesir telah menghubungi pejabat di Gaza untuk memeriksa situasi di sepanjang perbatasan Rafah, Hamas dan pihak berkuasa menyatakan bahawa sejumlah besar petugas keamanan telah ditempatkan di persimpangan.
Pihak berkuasa di Gaza juga menegaskan bahawa instruksi ketat yang diberikan kepada para penyeludup, memberitahu mereka semua terowongan akan tetap tertutup untuk memastikan tidak ada warga Palestin di Gaza dapat memasuki Mesir.
Pegawai perbatasan Gaza Ghazi Hamad mengatakan bahawa perbatasan Rafah ditutup hari Minggu di kedua arah.
"Para pegawai Mesir telah memberitahu departemen penyeberangan di Gaza," kata Hamad menyoroti bahawa penyeberangan itu akan tetap tertutup selama beberapa hari. Dia meminta pihak berkuasa Mesir untuk menjaga persimpangan tetap terbuka kaerana penutupan merugikan warga Gaza, khususnya mereka yang memerlukankan untuk melakukan perjalanan ke Mesir untuk perawatan medik.
Hamad menunjukkan bahawa pada hari Khamis dan Rabu lalu, perbatasan Rafah beroperasi normal pada saat sekitar 500 orang meninggalkan Mesir dan 200 orang tiba di Gaza.
Mesir telah membuka Rafah secara tetap (lima hari seminggu) pada bulan Jun 2010 menyusul serangan Israel pada armada bantuan Gaza. Sebelum itu, persimpangan telah ditutup selama tiga tahun. (fq/mna)
sumber

Anak dan Isteri Mubarak Cabut ke London



Suzanne Mubarak, isteri Presiden Hosni Mubarak, dipastikan telah berada di London. Dia terbang dengan menggunakan jet pribadi, pada hari yang sama dengan Menteri Pertahanan Mesir ke Amerika Syarikat untuk menyelamatkan diri. Suzanne kelihatan bersama anak perempuannya dan lebih 100 buah beg.


Mereka tiba di London untuk bersama dengan Gamal, anak lelaki yang disebut-sebut sebagai "putra mahkota" yang persiapkan untuk menjadi presiden Mesir.

Menurut laporan Press TV dan beberapa tweet di Twitter telah memastikan, jet pribadi Suzanne itu telah mendarat di Lapangan Terbang Heathrow London.

Ha! ha! kan dah kena hambat! selepas ini giliran Mubarak yang dihambat rakyat.

Sumber :Republika

Monday, January 31, 2011

PAS MP: No way for Islamic state

K Pragalath



KUALA LUMPUR: PAS MP Dzulkefly Ahmad said there is no way for the party to establish an Islamic state in Malaysia.
Speaking at a forum on race relations and religion over the weekend, he said the political demography in Malaysia is such that there is no way for PAS to create an Islamic state
“There are 60% Muslims to 40% non-Muslims. We don’t even have all 60% support from the Muslims,” he said in response to a question.
Dzulkefly told the participants that Islamic state only existed during Prophet Muhammad’s era in Medina when another participant pointed out examples of Islamic states such as Pakistan.
“We have included the setting up of an Inter-Faith Commission in our election manifesto. Few years ago, PAS was dead against people like (lawyers) Haris Ibrahim and Malik Imtiaz (Sarwar) but today we work hand in glove,” explained the former toxicologist.
The Interfaith Commission was suggested by an NGO named Article 11 led by Malik Imtiaz to address inter-religious problems.
However, it was shot down by former premier Abdullah Ahmad Badawi’s administration after numerous Muslim groups, including PAS, protested against it.
Dzulkefly also dismissed fears over hudud, saying: “Why do you need to fear it when it is only mentioned twice in the Quran?”
He said PAS is more concerned about justice as it is mentioned many times in the Quran and it is what PAS is pursuing via the Pakatan Rakyat platform.
Issues such as the banning of wayang kulit, separate queues for men and women – as was done in the PAS-ruled Kelantan – were also raised by another participant.
To this, the PAS leader responded that Islam does not stipulate it outright for restriction and rules.(FMT)

Rosmah Mansor wanita pintar, kata Anifah Aman

Oleh Syed Imran
Tersenyum. Itulah yang berlaku apabila membaca ulasan Menteri Luar Anifah Aman mengenai isteri Perdana Menteri Datuk Seri Najib Tun Razak. Tersenyum kerana itulah kata-kata pujian yang 'semestinya' dikeluarkan oleh seorang menteri mengenai isteri bosnya. Tak kan nak keluarkan kata-kata yang 'tak sedap didengar', nahas jawabnya.


Anifah, adik kepada Ketua Menteri Sabah Musa Aman, menyatakan bahawa Rosmah Mansor adalah seorang yang bijak, cerdik dan merupakan satu aset kepada Najib. Saya setuju bab aset Najib kerana itulah hakikatnya. Jika Rosmah bukan seorang yang pintar, sudah tentu dia tak boleh laku apa yang dilakukannya. Hanya orang yang pintar mampu berbuat demikian sehingga ada pemimpin negara lain yang tertarik dan kagum dengannya.

Menurut laporan Bernama dari Kota Kinabalu semalam (Sabtu 30 Jan), Anifah berkata Rosmah adalah seorang wanita yang bijak yang telah menyumbang kepada pengukuhan hubungan Malaysia dengan negara-negara lain.  Hebat, amat hebat.

Sebagai bukti, katanya, Rosmah mendapat banyak jemputan untuk memberi ucap utama pada persidangan-persidangan antarabangsa terutama yang berkaitan pembelajaran awal kanak-kanak dan isu berkaitan wanita dan pembangunan sosial.

Berdasarkan kenyataan Anifah Aman itu kita akui kehebatan Rosmah Mansor. Kita juga bersyukur kerana atas kebijaksanaan Rosmah juga maka nama Malaysia menjadi wangi dan harum di kalangan negara-negara  membangun dan maju. Mungkin sebelum ini banyak negara yang tidak kenal dan tahu mengenai Malaysia. Terima kasih Rosmah.

Bagi saya, Rosmah Mansor adalah seorang wanita yang cukup hebat. Saya katakan demikian berdasarkan pengalaman bertugas di Bangunan Perdana Putra, Putrajaya, iaitu bangunan yang menempatkan Pejabat Perdana Menteri, pejabat Timbalan Perdana Menteri dan pejabat Menteri-menteri di JPM dan Ketua Setiausaha Negara. Pendek kata, Bangunan Perdana Putra adalah mercu tanda kepimpinan negara. Di situlah dasar dan hala tuju negara di bincang, di rumus dan diperturunkan arahan pelaksanaannya

Saya bertuah dapat bertugas dalam bangunan penting itu di bawah dua orang Perdana Menteri, Tun Dr Mahathir Mohamad dan seketika di bawah Tun Abdullah Ahmad..

Hasil daripada wujudnya Internet, maka wujudlah laman-laman sesawang kerajaan dan tidak ketinggalan laman sesawang Pejabat Perdana Menteri (PMO). Laman sesawang PMO mula wujud semasa Tun Mahathir menjadi PM.

Maklumat yang dimuat dalam laman sesawang PMO semuanya berkaitan tugas dan urusan rasmi termasuk berkaitan jabatan dan agensi yang diletak di bawah PMO selain yang dihubungkan melalui sistem Internet.

Semasa pentadbiran Tun Mahathir dan Tun Abdullah, tidak wujud apa-apa unit atau bahagian yang khas untuk isteri masing-masing. Tidak pula wujud sebarisan pegawai untuk berkhidmat khusus untuk mereka.

Tetapi, atas kebijaksanaan seseorang maka  wujud sebuah bahagian khas dalam PMO yang turut dimuat atau dipapar dalam laman sesawang PMO. Bahagian khas itu dinamakan  "F.L.O.M. Division" Tetapi, setelah kewujudannya menjadi topik panas dalam beberapa laman blog, tiba-tiba ia 'hilang' entah ke mana. (Lihat di bawah ini paparan direktori bahagian khas itu)


Bukan menjadi rahsia yang F.L.O.M. itu membawa maksud "First Lady of Malaysia", iaitu satu gelaran yang dirujuk kepada Rosmah Mansor walaupun ia tidak tepat kerana isteri ketua kerajaan bukan "First Lady" tetapi isteri ketua negara. Ini bermakna Bahagian F.L.O.M. diwujudkan untuk Rosmah Mansor dan ia merupakan satu sejarah yang boleh dimasukkan dalam "The Malaysia Book of Records " kerana pertama kali wujud sebuah bahagian khas untuk isteri PM. Bukankah ia memperlihatkan kehebatan Rosmah Mansor dan bukankah ia turut menunjukkan bahawa ia adalah satu strategi orang bijak?

Bahagian itu diketuai oleh seorang Pegawai Khas bernama Datuk Siti Azizah Sheikh Abod. Saya kenal orang ini kerana pernah sama-sama bertugas dalam sebuah kementerian bernama Kementerian Kebudayaan, Kesenian dan Warisan. Jawatan terakhir Siti Azizah sebelum bersara ialah Ketua Setiausaha di kementerian berkenaan.

Selain Siti Azizah, bahagian khas ini turut dianggotai oleh lima orang pegawai lain yanag sudah tentunya hebat-hebat belaka. Maklumlah mereka berkhidmat untuk seorang isteri PM yang hebat.

Saya tidak tahu sama ada kewujudan jawatan-jawatan tersebut dilulus oleh Suruhanjaya Perkhidmatan Awam atau Jabatan Perkhidmatan Awam kerana ia membabitkan wang rakyat untuk membayar gaji dan upah serta menanggung segala perbelanjaan jabatan khas itu.

Selain daripada itu, adakah perlu dan terdesak sangat untuk mewujudkan sebuah bahagian khas untuk isteri Perdana Menteri? 

Mungkin akan terpanggil seorang daripada menteri untuk memberi penjelasan bahawa semuanya itu dibolehkan oleh undang-undang dan ada peruntukan dalam Pekeliling Perbendaharaan ataupun Perlembagaan itu sendiri.

Tidak hairanlah jika ianya berlaku kerana di Malaysia, semuanya boleh!