Wednesday, October 10, 2012

Mengenal Ameba Pemakan Otak Manusia

98 persen manusia yang otaknya terjangkit amuba ini berakhir tewas


Naegleria fowleri atau amuba pemakan otak dilihat melalui mikroskop
Naegleria fowleri atau amuba pemakan otak dilihat melalui mikroskop (http://ruby.fgcu.edu)

VIVAnews - Penduduk Kota Karachi, Pakistan, dilanda kecemasan setelah sejumlah warga diduga tewas karena ameba pemakan otak, yang nama latinnya Naegleria fowleri. BBC, Selasa 9 Oktober 2012, memberitakan bahwa 10 warga tewas dalam beberapa bulan belakangan karena ameba ini.

Apa sebenarnya ameba Naegleria fowleri ini? Menurut kamus Merriam-Webster, ameba merupakan nama lain dari amuba, semacam protozoa. Protozoa berasal dari Bahasa Yunani, protos yang berarti pertama dan zoon yang berarti hewan: hewan pertama.

Amuba atau ameba dikenal karena kemampuannya bergerak melalui kaki semu yang bersifat temporer. Gerakannya ini disebut sebagai gerakan amuboid, yang dipandang sebagai bentuk paling primitif dari gerakan hewan.

Kemampuan bergerak ini, membuat amuba bisa menjadi parasit bagi hewan lainnya termasuk manusia. Tahu penyakit disentri? Ini disebabkan amuba jenis  Entamoeba histolytica.

Lalu bagaimana dengan amuba jenis Naegleria fowleri ini? Menurut laman Universitas Standford, ameba ini dinamakan sesuai dengan penemunya, Dr M Fowler. Fowler bersama RF Carter yang pertama kali menemukan manusia mengalami penyakit akibat sebuah protozoa ini di tahun 1965. Namun baru pada 1966, peneliti lain memastikan infeksi penyakit itu disebabkan oleh ameba yang kemudian diberi nama sesuai dengan Dr Fowler.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyatakan, Naegleria fowleri yang bersel tunggal ini bisa menyebabkan infeksi di otak yang disebut sebagai primary amebic meningoencephalitis (PAM). Gejalanya ini sama dengan meningitis yang disebabkan oleh bakteri, sehingga sulit dibedakan tanpa riset sampel.

Habitatnya di air hangat seperti danau, sungai atau mata air panas, serta tanah. Air pipa dari perusahaan air minum juga bisa terjangkiti jika tak cukup mengandung klorin yang bisa membunuh kuman dan amuba.

Cara penularan ke manusia biasanya masuk melalui hidung. Ketika sudah masuk ke hidung, dia berjalan sampai ke otak sehingga menyebabkan PAM. Korban yang terinfeksi mengalami gejala demam, mual dan muntah, leher kaku dan sakit kepala yang akhirnya menuju koma. Sebagian besar korban (98%) tewas setelah seminggu terjangkit.