Monday, December 20, 2010

Berlari dalam Hujan Ribut

Empat ratus tahun sebelum masehi, di Itali ada seorang pemuda bernama Peter, yang karena telah melanggar aturan dari raja zalim, maka dia harus dihukum gantung sampai mati.
Karena dia adalah seorang anak yang berbakti, dia memohon kepada raja zalim agar mengizinkan dia pulang ke rumah untuk mengatakan selamat tinggal kepada kedua orang tuanya, tetapi permohonannya ini ditolak oleh raja zalim itu.
Dalam keadaan darurat itu, seorang teman Peter yang bernama Darmond tampil dengan berani, bersedia menggantikan Peter untuk sementara sebagai sandaran.
Hari untuk melaksanakan hukuman telah tiba, waktu itu sedang turun hujan lebat, akan tetapi masih belum ada khabar berita dari Peter. Semua orang metertawakan kebodohan Darmond, yang begitu bodohnya dan telah menggunakan nyawa untuk menjamin persahabatan.
Waktu pelaksanaan hukuman bagi Darmond semakin dekat, orang-orang dengan tegang mengamati peristiwa yang bakal terjadi. Ketika tali gantung akan dijeratkan ke leher Darmond, semua penonton yang berada di sekeliling menahan nafas mereka.
Mendadak dari arah kejauhan terdengar suara teriakan Peter, dan terlihat bayangan tubuh Peter yang sedang berlari di dalam hujan ribut.
“Tunggu sebentar! Tunggu sebentar! Saya sudah kembali! Saya sudah kembali!” Dia melangkah naik ke panggung tempat pelaksanaan hukuman, selanjutnya dia dan Darmond saling berpelukan dengan penuh kehangatan.
Kedua mata Peter berlinangan air mata sedang mulutnya bergumam mengucapkan rasa terima kasihnya kepada Darmond, serta menyatakan selamat berpisah untuk selamanya dengan sahabat karibnya itu.
Saat itu, hujan turun semakin lebat, semua orang yang menonton di sekeliling sana turut meneteskan air mata karena terharu, dan di luar dugaan tiba-tiba terdengar seorang anak muda yang menangis tersedu-sedan.
Para penonton pada waktu itu secara serempak berteriak dengan keras, “Ampuni dia! Ampuni dia! Demi suatu kepercayaan yang telah mempertaruhkan hidup mati, juga demi ketulusan dan keagungan persahabatan mereka.”
Hati Baginda Raja akhirnya juga luluh dan ikut tersentuh dengan apa yang dilihatnya. Dengan menyimpang dari kebiasaannya, kali ini baginda raja telah memberikan pengampunan khusus kepada Peter, serta memberi pernyataan kepada rakyat, “Saya ingin mempertaruhkan segala apa yang saya miliki untuk dapat berkenalan dengan teman yang seperti ini!”
Apa yang disebut sahabat sehidup semati? Peter telah menggunakan ‘berlari dalam hujan ribut’ memberikan penjelasan yang paling bagus. Telah mengabaikan masalah hidup dan mati, ia telah memandang kesetiaan dan kepercayaan lebih penting dari pada nyawanya sendiri.
Di dalam ujian antara hidup dan mati, Peter sebagai manusia biasa telah melakukan suatu tindakan yang agung. Dia telah menggunakan ketulusan dan kesetiaannya mencuci bersih ‘kekotoran’ yang sering bercokol di dalam jiwa setiap manusia.
Orang-orang sering mengatakan ‘kehidupan ini bagaikan panggung sandiwara’. Karenanya, mereka lalu menggunakan ungkapan ini sebagai alasan untuk ‘bersandiwara dalam hidup’. Yang pada akhirnya mahu tidak mahu harus mengeluh ‘sebuah sandiwara adalah sebuah mimpi’ (tanpa ada yang boleh dibawa pergi).
Bagi mereka yang selalu mengingkari janji dan pernah berkhianat kepada teman, tindakan Peter yang berlari dalam hujan badai ini benar-benar akan mengingatkan mereka betapa kuatnya ego mereka selama ini.
Pemuda ditempa dari api, sudah seharusnya hidup dengan gagah berani, santai tanpa beban. Jika Anda telah membuat janji, maka seharusnya ‘berlari dalam hujan ribut’ (berusaha sekuat tenaga tanpa memikirkan diri sendiri lagi) untuk menepati janji yang telah Anda buat, jika tidak, maka Anda bukanlah seorang pria yang sejati.
Dalam suatu ujian negara, ada sebuah karya tulis dari seorang peserta yang mendapatkan angka sempurna. Karangannya berjudul ‘Kematian dari kuda Chi Tu (kuda tunggangan Guan Yu)’. Peserta ini menggunakan kuda tunggangan Guan Yu yang bernama Chi Tu sebagai perumpamaan dari ‘kesetiaan’.
Dalam karangannya disebutkan kuda Chi Tu mati demi kesetiaannya terhadap majikannya. Manusia bisa hi-dup karena adanya kesetiaan dan kepercayaan. Mungkin kalimat ini patut kita renungi secara mendalam.
Dia juga menulis, haiwan saja boleh berbuat demikian, mengapa manusia tidak merasa malu jika tidak boleh bertindak demikian? Kalimat ini sungguh membuat orang tersentak. Prinsip yang difahami oleh haiwan, manusia seharusnya lebih mengerti?
Kehidupan manusia hanya sekali, kebenaran dan kepalsuan semuanya ditampakkan di dalam kehidupan yang berlangsung singkat dan hanya sekali ini. Tidak ada benda apa pun yang lebih agung bersih daripada suatu kesetiaan dan kepercayaan yang sejati.
Melihat makin merajarelanya nafsu dan keinginan manusia untuk mendapatkan material, dalam sanubari sungguh memerlukan suatu keaslian yang murni. Setelah melewati beberapa kali peristiwa sedih dalam masalah kasih, perasaan hati sempat menjadi tandus bagai gurun.
Kisah tersebut di atas telah menyentuh hati, juga telah membuat kita memiliki pengertian yang lebih mendalam tentang kesetiaan dan kepercayaan yang terkandung dalam suatu persahabatan. (Erabaru)