Sunday, March 20, 2011

Ke Mana Hujungnya Buat Negara Islam?

Konferensi Kebangkitan Islam Internasional : Bersiap Untuk Kemenangan Islam

M. Fachry
LONDON (Arrahmah.com) - Sebuah event dakwah internasional kembali digelar bertajuk "Konferensi Internasional Kebangkitan Islam". Acara diadakan pada Jum'at malam (18/3/2011) di ruang diskusi publik on line Paltalk dan disiarkan secara langsung di siitus "Authentic Tauheed". Syekh Umar Bakri Muhammad, dijadwalkan menjadi salah satu pembicara. Bersiap untuk kemenangan Islam! Trend Konferensi Teleconference
Teknologi modern, terutama internet semakin dimaksimalkan untuk dakwah menegakkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Selain Skype yang telah dikenal luas dapat memudahkan dakwah antar negara, kini ruang diskusi publik on line Paltalk dimanfaatkan untuk acara serupa.
Jum'at malam (18/3/2011), rencananya akan digelar Konferensi Internasional Kebangkitan Islam. Acara ini akan berlangsung di ruang diskusi publik on line Paltalk yakni di ruang "Agama" (Relegion), lalu masuk ke "Islam", dan kemudian masuk ke ruang "Authentic Tauheed". Acara akan dimulai pukul 21.00 - 0.00 GMT.
Para pembicara dalam acara tersebut bisa dikatakan dari berbagai organisasi dan lintas gerakan. Mereka semua akan menjelaskan situasi terkini umat Islam dan untuk menemukan peran Anda dalam membawa umat ini dari kegelapan menuju cahaya Islam! Acara ini akan disiarkan langsung dari situs "Authentic Tauheed" dan ruang Paltalk IQRA.
Syekh Umar Bakri Jadi Pembicara  
Syekh Umar Bakri Muhammad, amir Al Muhajirun internasional, rencananya menjadi pembicara pada sesi ke-2, yakni tepat pukul 10.00. Selain beliau, ada Syekh Anjem Choudary dan Abu Izuddin yang berbicara sebelumnya. Selain itu ada Syekh asal Jamaica, Syekh Faisal, dosen Hukum Islam. Beliau akan berbicara setelah Syekh Umar Bakri, yakni pukul 22.30. Dari situs Revolusi Muslim di AS, akan berbicara Younus Muhammad Abdullah dan ditutup oleh Abu Waleed, aktivis Islam di UK.
Dalam pengantar promosi acara disebutkan bahwa tujuan diadakannya Konferensi Kebangkitan Islam Internasional secara on line ini untuk mensinergiskan kontribusi dan pengorbanan umat Islam menyongsong kebangkitan Islam dan mempersiapkan takdir kemenangan yang diberikan Allah SWT. Segala puji bagi Allah yang telah membimbing kita untuk kebenaran dan membuat kita hidup pada saat ini untuk menyaksikan kebangkitan umat Islam. Insya Allah!
(M Fachry/alm/arrahmah.com)


Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/19/11436-konferensi-kebangkitan-islam-internasional-bersiap-untuk-kemenangan-islam.html#ixzz1H7aaQMmd

Serangan Gaddafi terus membrondong Benghazi, 26 orang tewas

Althaf
BENGHAZI (Arrahmah.com) - Al Jazeera melaporkan pada Sabtu (19/3/2011) sudah ada 26 orang yang tewas dan lebih dari 40 orang luka-luka di rumah sakit Jala di Benghazi, setelah kota timur Libya itu menjadi sasaran penyerangan Gaddafi. Para penentang rezim diktator yang sudah berkuasa selama lebih dari empat dekade ini menyatakan bahwa pasukan suruhan Gaddafi membombardir Benghazi pada hari Sabtu (19/3).
Meskipun pemerintah Libya menyatakn bahwa pihaknya siap melakukan gencatan senjata pada hari Jumat (18/3), namun penyerangan masih terus dilakukan. (althaf/arrahmah.com)


Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/20/11454-serangan-gaddafi-terus-membrondong-benghazi-26-orang-tewas.html#ixzz1H7Zf1dPK

Rakyat Pakistan berunjuk rasa menentang pemerintah

Hanin Mazaya
ISLAMABAD (Arrahmah.com) - Ratusan warga Pakistan menggelar aksi unjuk rasa memprotes pembebasan kontraktor CIA yang telah terbukti membunuh dua warga Pakistan di Lahore, Jumat (18/3/2011). Aksi protes dilakukan di Islamabad, ibukota Pakistan, dipimpin oleh partai Tehreek-e-Insaaf (Pergerakan untuk Keadilan).  Pemrotes berjalan dari Mesjid Merah setelah melaksanakan sholat Jumat, meneriakkan slogan anti-Amerika dan anti-pemerintah.
Kemarahan rakyat Pakistan semakin meningkat setelah AS menyerang wilayah kesukuan menggunakan pesawat mata-mata yang menghantam sebuah rumah dan menewaskan sedikitnya 41 orang sipil pada Kamis (17/3).
"Seluruh rakyat Pakistan bersama-sama dan berjanji jika di masa mendatang ada satu lagi nyawa Pakistan melayang, maka 180 juta rakyat Pakistan akan turun ke jalan," ujar Khan, pemimpin unjuk rasa.
Para pengunjuk rasa meneriakkan "Teman AS adalah pengkhianat" dan "Jatuh dengan Amerika".
Unjuk rasa dilakukan dua hari setelah Raymond Davis dibebaskan setelah keluarga dari kedua korban pembunuhan diberikan sejumlah uang yang disebut dengan "diyat" dan kasus ditutup.
Hubungan AS-Paskitan

Davis, yang sebelumnya membunuh namun mengklaim bahwa ia "mempertahankan diri" telah ditetapkan bersalah.  Namun anehnya, pengadilan memutuskan membebaskannya dengan dalih keluarga korban telah memaafkannya dan diberikan kompensasi.
Terdapat laporan bahwa keluarga korban berada di bawah tekanan.  Namun As membantah adanya pembayaran apapun terhadap keluarga korban.
Dalam peristiwa terpisah, seorang kepala suku Pakistan mendeklarasikan pembalasan dendam setelah AS melancarkan serangan misil pada pertemuan antar suku di Pakistan.
"Ini tidak akan dilupakan dan anggota suku tidak akan meninggalkannya tanpa membalas dendam," ujarnya.  (haninmazaya/arrahmah.com)


Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/19/11442-rakyat-pakistan-berunjuk-rasa-menentang-pemerintah.html#ixzz1H7Z2h72r

 

San'a terus memanas di tengah desingan peluru dan pekik perlawanan

Althaf
Yasir Saeed (32) merupakan korban pertama yang dipindahkan ke dalam masjid. Darah masih menetes dari luka peluru yang menganga di bagian belakang kepala guru bahasa Inggris tersebut saat dokter menurunkan tubuhnya yang dibalut selimut. Ia masih sempat menggumamkan mulutnya, berdoa, sebelum menutup kedua kelopak matanya. Secara bertahap, mayatnya ditemani oleh sejumlah mayat lainnya. Satu per satu, Al Quran kecil ditempatkan di dada mereka, sementara darah yang keluar dari mayat-mayat itu membasahi karpet masjid, tempat mereka ditempatkan.
Suasana putus asa dan kacau terus menyesaki Yaman. Beberapa hari ini menjadi hari terburuk di Yaman sejak aksi protes terhadap presiden Ali Abdullah Saleh dimulai dengan sungguh-sungguh lebih dari sebulan yang lalu. Setidaknya 45 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka ketika pasukan keamanan dan loyalis pemerintah yang berpakaian preman menembaki para pengunjuk rasa yang sedang berbaris di San'a.
Juru bicara oposisi Parlemen Yaman, Mohammed al-Sabri, menuduh rezim melakukan pembantaian. Ia berkata: "Pembunuhan ini tidak akan pernah mampu terus-menerus menjaga Ali Abdullah Saleh dalam kekuasaannya". Sementara itu, Saleh mengelak dengan mengumumkan keadaan darurat, dimana warga negara biasa tidak akan mampu membawa senjata.
"Saya sangat menyesalkan apa yang terjadi hari ini. Saya sangat menyesalkan kematian putra-putra kami," kata Presiden. Minggu lalu ia mengklaim telah memerintahkan pasukan keamanan untuk menjamin keselamatan pengunjuk rasa.
Saleh juga menyatakan bahwa korban yang tewas adalah "martir demokrasi".
Protes Jumat kemarin dimulai dengan damai. Lebih dari 100.000 rakyat Yaman memenuhi jalanan di sekitar Universitas San'a untuk melakukan shalat Jumat serta berdoa bersama atas tewasnya tujuh pengunjuk rasa dalam bentrokan dengan polisi anti huru-hara akhir pekan lalu.
Jelang shalat Jumat berakhir, asap hitam mengepul dari sebuah mobil yang terbakar menarik perhatian para pengunjuk rasa yang mulai menuju ke arah itu. Saksi mata mengatakan pasukan keamanan melepaskan enam tembakan ke udara sebelum mengarahkan senjata mereka pada para demonstran. Kekerasan pun berkobar. Pada saat yang sama, sejumlah pria dengan pakaian preman muncul dari atap gedung-gedung yang ada di sekitar demonstran dan mulai menembak para demonstran dengan Kalashnikov.
Universitas San'a, lokasi pertumpahan darah, ada di samping masjid, tempat mengumpulkan korban tewas dan sekarat. Suara lantang dari muadzin untuk shalat bercampur dengan suara tembakan yang menggema di dinding masjid. Medis bergegas untuk menghampiri para pengunjuk rasa yang terluka dan mengangkutnya ke dalam ambulans.
Di dalam masjid, kerumunan muslimah larut dalam kesedihan dan mencoba melewati garis mahasiswa yang menjadi target bidikan senjata pemerintah, untuk membantu petugas medis. Pada saat yang sama, korban cedera yang sebagian besar berusia 20-an, menggeliat kesakitan di kasur lusuh di atas tanah.
"Kebanyakan korban menderita luka akibat tembakan peluru pada bagian dada dan kepala, meskipun ada beberapa yang menderita karena terkena tembakan gas air mata," kata seorang dokter yang tidak ingin disebutkan namanya.
"Mereka menembak orang di belakang kepala karena mereka melarikan diri," kata Mohammed al-Jamil, seorang dokter asal India sembari menangani demonstran yang terluka dengan tangannya yang berlumur darah.
"Siapa pun yang melakukan kekejaman ini, mereka ingin orang-orang ini (para pengunjuk rasa) mati," tambahnya, sambil merogoh jarum suntik dari dalam kotak medis.
Saksi mata mengatakan, banyak juga anak-anak di antara puluhan korban yang terluka oleh tembakan.
"Saudara saya berusia 12 tahun. Mereka menembaknya dua kali, sekali di lengan dan sekali di kaki," teriak seorang pemuda melalui mikrofon yang berderak di tengah ribuan orang yang berkerumun di luar masjid.
"Saleh senang menembak kami semua, sebelum ia mengundurkan diri."
Yaman, negara termuda dan termiskin di dunia Arab yang bertetangga dengan Arab Saudi, telah dipukul oleh aksi protes berminggu-minggu yang digerakkan oleh aksi serupa yang berhasil menggulingkan pemimpin yang lama menjabat di Tunisia dan Mesir. Panasnya pemberontakan rakyat terhadap para penguasa yang dzalim dan korup ini pun terus menyebar ke negara-negara Teluk, Bahrain dan Oman, serta Arab Saudi itu sendiri.
Saleh telah mempertahankan nyakekuasaan selama lebih dari tiga dekade dan telah menolak seruan untuk mengundurkan diri. Ia mengatakan hanya akan melakukannya ketika masa jabatannya saat ini berakhir tahun 2013.
Intensifikasi penggunaan kekerasan terhadap para demonstran telah menimbulkan kekhawatiran. Tidak sedikit pengamat yang menyatakan bahwa kemungkinan perang yang luas bisa menelan negara tersebut.
"Di Yaman, kekerasan hampir selalu berhadapan dengan lebih banyak kekerasan. Jika rezim tidak segera menghentikan tindakan tersebut maka kita akan segera menemukan diri kita terjebak perang saudara yang berdarah-darah," kata Mohammed al-Faqih, profesor politik di Univeristas San'a. (althaf/arrahmah.com)


Source: http://arrahmah.com/read/2011/03/19/11438-sana-terus-memanas-di-tengah-desingan-peluru-dan-pekik-perlawanan.html#ixzz1H7YYKJK4